jump to navigation

My Bio : Me and Women 26 Juli, 2009

Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.
Tags: , , , ,
trackback

Sewaktu kecil, saya adalah seorang anak yang pemalu, atau bahkan mungkin sangat pemalu. Dan lebih khusus lagi, terhadap makhluk yang bernama wanita. Ketika saya duduk di Sekolah Dasar, saya selalu mengambil tempat duduk di deretan teman-teman saya yang laki-laki. Rasanya malu kalau duduk dekat-dekat dengan teman-teman perempuan. Yang barangkali lucu, suatu ketika guru wali kelas saya memerintahkan beberapa siswa laki-laki untuk duduk sebangku dengan siswa perempuan. Dan apesnya, saya termasuk diantara siswa-siswa yang mendapatkan perintah tersebut. Saya harus duduk sebangku dengan siswa perempuan! Pertama kali mendapatkan perintah itu, muka saya langsung merah merona, jantung berdegup kencang, dan keringat dingin pun bercucuran. Wah, malu banget rasanya!

Pertama-tama, dengan sangat terpaksa saya duduk sebangku dengan teman perempuan tersebut. Namun setelah dua tiga hari, saya mulai mencari cara untuk bisa kembali duduk sebangku dengan siswa laki-laki. Saya pun mencoba ‘berkolusi’ dengan seorang teman perempuan lain yang juga mendapatkan perintah yang sama. Saya minta dia untuk duduk sebangku dengan siswa perempuan yang sebangku dengan saya. Dengan demikian, saya bisa duduk sebangku dengan siswa laki-laki yang sebangku dengannya.

Ternyata, sehari dua hari hal tersebut berlangsung, guru wali kelas saya membiarkannya saja dan tidak memberikan teguran. Mungkin beliau juga tidak hafal benar kali ya dengan formasi tempat duduk semua siswanya satu persatu. Beruntung, semenjak saat  itu saya nggak lagi harus duduk sebangku dengan siswa perempuan. Mendengarkan para bapak ibu guru menerangkan pun bisa lebih konsentrasi.

Lain halnya di Madrasah Ibtidaiyah – karena waktu itu saya sekolah rangkap, dan dua-duanya sampai lulus – keadaaannya lebih kondusif. Guru wali kelas sengaja memisahkan tempat duduk siswa laki-laki dan siswa perempuan. Lajur kanan untuk perempuan, lajur kiri untuk laki-laki. Jadi, nggak ada masalah deh.

Kalau saya pikir-pikir, pembawaan saya yang pemalu dengan perempuan bisa jadi dipengaruhi juga oleh keadaan keluarga yang membesarkan saya. Saya tidak memiliki saudara perempuan. Saya anak keempat, tidak punya adik, dan ketiga kakak saya semuanya laki-laki. Walhasil, di rumah pun saya hanya berinteraksi dengan laki-laki, kecuali dua orang: ibu dan nenek saya.
Tapi, ketika saya masih sangat kecil dan belum mengerti soal perempuan – maksudnya, belum punya rasa tertarik sama mereka – saya punya banyak teman perempuan. Saya biasa bermain-main dengan mereka. Namun begitu saya mulai bisa membedakan perempuan yang cantik dan yang tidak cantik, saya berubah menjadi pemalu, salah satunya seperti cerita saya diatas.

Ketika saya duduk di bangku SMP, sifat pemalu sama teman perempuan terus saya bawa. Saya memang tetap bergaul dengan teman-teman perempuan di sekolah. Apalagi, saya termasuk anak yang pandai di sekolah, serta aktif dalam kegiatan-kegiatan kesiswaan. Itu membuat saya punya banyak teman, termasuk teman-teman perempuan. Hanya saja, saya tidak bisa sangat akrab dengan mereka, apalagi sampai ke tahap yang lebih jauh seperti berpacaran (ala anak SMP tentunya). Kalo suka atau naksir sama teman perempuan sih sering, tapi ya disimpan di hati saja. Sebetulnya mungkin banyak juga teman-teman perempuan yang sempat naksir sama saya, setidak-tidaknya karena saya anak yang pintar, dan wajah juga tidak jelek – wah, ge-er banget nih. Tapi karena saya anaknya terlalu ’dingin’, mungkin mereka akhirnya nggak lagi berminat, atau sungkan untuk menyampaikan perasaannya.

Sejujurnya, yang membuat saya membatasi diri bergaul dengan teman-teman perempuan, selain sifat pemalu, adalah pandangan keagamaan saya yang sangat konservatif. Ya, saya sudah memilikinya semenjak saya masih kelas 1 SMP, bahkan semenjak saya masih di SD dan MI. Di awal-awal kelas 1 SMP, saya sudah mempersuasi teman-teman dekat saya bahwa pandangan yang kedua terhadap perempuan yang bukan mahram itu dilarang. Wuih, kolot banget ya.

Barangkali SMP adalah kesempatan terakhir saya untuk cukup bisa bergaul dengan teman-teman perempuan. Selepas SMP, bisa dibilang saya selalu berada di lingkungan ’tanpa wanita’. Bagaimana tidak, begitu lulus SMP, saya melanjutkan ke sekolah kejuruan ’khusus laki-laki’ yang bernama STM Perkapalan Sidoarjo. Sekolah saya ini bukan STM biasa, yang identik dengan siswa nakal dan tawuran. Ketika itu, sekolah saya ini termasuk sekolah favorit. Para siswanya sebagian besar berasal dari luar daerah se-Jawa Timur. Saya sendiri ketika itu sebetulnya bisa masuk ke SMAN 2 Lamongan, sekolah paling favorit di kabupaten saya, dengan mudah. Itu karena danem saya yang cukup tinggi. Tapi, saya lebih memilih STM Perkapalan Sidoarjo.

Sebagaimana kebanyakan STM, para siswa di sekolah saya yang satu ini hampir semuanya laki-laki. Bahkan di kelas saya, tidak ada siswa perempuannya sama sekali. Saya harus berada dalam lingkungan seperti ini selama tiga setengah tahun, karena lama belajar di sekolah ini memang tiga setengah tahun: tiga tahun standar Depdikbud plus setengah tahun magang.

Ternyata segalanya tidak berhenti sampai disini. Begitu lulus STM, saya langsung mengikuti UMPTN. Hasilnya, saya diterima di pilihan pertama saya, ITS. Saya mengambil jurusan Teknik Mesin, sama dengan jurusan saya ketika di STM. Nah, di Jurusan Teknik Mesin ITS angkatan saya ternyata tidak ada satupun mahasiswinya. Semuanya laki-laki. Walhasil, lagi-lagi saya harus hidup dalam lingkungan ’tanpa wanita’.

Beruntung selama kuliah saya aktif di beberapa organisasi kemahasiswaan yang anggotanya berasal dari berbagai jurusan, bahkan berbagai kampus. Disini, saya memiliki sedikit kesempatan untuk berinteraksi dengan teman-teman mahasiswi. Tetapi karena organisasi-organisasi itu bercorak keagamaan, ditambah dengan sifat dasar saya yang agak pemalu dan pandangan keagamaan saya yang konservatif, tetap saja interaksi tersebut sangat terbatas. Wong teman satu departemen saja – tentunya yang perempuan – banyak yang wajahnya saya nggak tahu. Seandainya ketemu di jalan begitu ya saya nggak akan mengenalinya. Parah kan?

Selepas dari kuliah – dan otomatis juga organisasi kemahasiswaan – saya lagi-lagi terdampar dalam lingkungan tanpa wanita: pesantren khusus mahasiswa laki-laki. Saya mendapatkan amanah menjadi musyrif di pesantren tersebut. Jadinya, sehari-hari saya hanya berurusan dengan para ’mahasantri’ yang semuanya laki-laki. Lengkap deh kehidupan saya yang nyaris ’tanpa wanita’.

Era ’fesbuk’ seperti sekarang sebetulnya bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan lebih banyak teman, termasuk teman-teman perempuan, meski hanya di dunia maya. Namun, tetap saja saya tidak punya teman perempuan, kecuali satu dua atau beberapa saja. Sebagian besar ’friend’ saya di Facebook adalah laki-laki. Sebabnya mungkin karena sifat saya yang agak pemalu dan pandangan keagamaan saya yang awet konservatif. Karena dua sebab itu, saya tidak cukup berani untuk bikin ’friend request’ ke perempuan, sementara mereka tentu saja lebih malu lagi untuk melakukan hal serupa ke saya. Wong mereka perempuan, masak bikin friend request ke laki-laki? Apa kata dunia?

Ya, itulah kira-kira rentetan perjalanan hidup saya yang bisa dibilang ‘tanpa wanita’. Bagaimanapun, saya justru merasa bersyukur karena saya – probably by accident – bisa hidup dengan suasana yang lebih islami. Sebagaimana jamak diketahui, dalam Islam pergaulan antara laki-laki dan perempuan adalah dibatasi. Bahkan dalam sistem pendidikan yang islami, para siswa dan mahasiswa laki-laki harus dipisahkan dari yang perempuan untuk usia-usia yang sudah baligh. So, I really thank Allah for taking care of me so well. Alhamdulillah…

Komentar»

1. Zulfa - 26 Juli, 2009

Salut..:-)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: