jump to navigation

Masa Kecilku: Menjadi Khatib Cilik 24 Juli, 2009

Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.
Tags: , ,
trackback

Salah satu hal yang sulit saya lupakan mengenai masa beliaku adalah keakrabanku dengan podium. Seingat saya, bakat saya berdiri diatas podium mulai terlihat ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar (ibtidaiyah). Saat itu, saya berhasil menjadi juara lomba berpidato untuk para santri, di masjid tempat saya mengaji setiap hari. Meski hanya tingkat masjid kampung, namun saya ketika itu sudah cukup bangga dan senang. Pun kedua orang tua saya. Mungkin sama bangganya dengan orang tua zaman sekarang ketika anaknya menjadi juara Pildacil, meski hanya tingkat sekolah atau kampung.

Karena bakat saya naik podium, para guru mengamanahi saya untuk menyampaikan ‘kalimat perpisahan dan terima kasih’ dalam acara perpisahan di sekolah ibtidaiyah. Ada kejadian lucu ketika itu. Pas saya sedang menyampaikan pidato, tiba-tiba saya lupa apa yang harus saya ucapkan (karena saya berpidato dengan cara menghafal, maklum masih kecil). Secara spontan, saya berkata kepada para hadirin dengan lugunya, “Maaf, saya lupa.” Meskipun ini sedikit konyol, namun saya setelah dewasa cukup menghargai spontanitas saya itu. Sebab, kebanyakan anak barangkali hanya akan diam dan tersipu-sipu tanpa bisa berkata-kata dalam keadaan seperti itu. Namun saya tetap bisa berkata-kata, meski hanya berucap singkat ‘Maaf, saya lupa’ lalu mengucap salam.

Beberapa waktu yang lalu, saya diminta menjadi juri dalam sebuah perlombaan Pildacil tingkat siswa SMP / MTS se-Surabaya. Melihat anak-anak tersebut beraksi diatas panggung, saya jadi teringat kembali masa-masa kecilku, yang juga suka banget beraksi diatas podium.

Ketika saya masuk SMP, bakat saya berceramah semakin kelihatan. Ketika itu, saya dikenal sebagai penceramah paling hebat di sekolah. Bahkan, saya mendapatkan julukan Zainudin Kecil karena gaya berceramah saya mirip dengan Zainudin Sang Dai Sejuta Umat yang sangat kondang ketika itu. Saya jadi teringat, setiap kali ada peringatan hari besar keislaman di sekolah, saya hampir selalu dikasih jatah menjadi ‘pembicara’, yang tampil sebelum pembicara yang sesungguhnya: Pak Guru Agama.

Kesempatan terakhir saya naik ke podium di sekolah ketika itu adalah saat saya diberi tugas oleh guru-guru untuk menyampaikan kalimat perpisahan, mewakili seluruh siswa, dalam acara pelepasan lulusan. Yang menarik, dalam pidato perpisahan seperti itu saya masih sempat-sempatnya menyindir bapak kepala sekolah yang saat itu kurang disukai karena suka menarik iuran macam-macam dari orangtua siswa. Walhasil, seusai acara beberapa guru pun bertanya dengan nada guyonan kepada saya, “Siapa yang ngajari kamu bilang seperti itu?” Wah, memang saya ini kelewat kreatif.

Masih ketika saya duduk di SMP, saya juga sudah biasa diberi tugas untuk ngasih ceramah di masjid kampung, ketika bulan ramadhan tiba. Mungkin ketika itu saya adalah penceramah paling belia di masjid tersebut, dibandingkan yang lain-lainnya. Lha wong masih SMP, tapi sudah naik mimbar berceramah dihadapan para jamaah masjid yang tua-tua. Tapi gimana lagi, wong saya diminta sama bapak-bapak takmir masjid. Harus mau dong…

Begitulah dan waktu terus berlalu. Sampai dengan hari ini pun saya masih biasa diminta oleh takmir masjid di kampung untuk berceramah: khutbah jum’at, ceramah ramadhan, bahkan khutbah sholat id. Meski jarang-jarang karena saya tidak lagi tinggal di kampung, namun kesempatan berceramah ketika lagi pulang kampung, di masjid tempat saya mengaji waktu kecil, adalah kebahagiaan tersendiri. Bagaimana tidak? Itu adalah masjid yang membesarkan aku.

Di luar kampung kelahiranku, saya juga tidak jarang ditodong untuk berceramah. Bagi saya, itu seperti bernostalgia dengan masa kecilku yang memang akrab dengan podium. Saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang penceramah, apalagi menjadikannya sebagai pekerjaan. Saya rasa, berceramah adalah tidak lebih dari hobi saya semenjak kecil. Karena hobi, saya pun selalu menikmatinya.

Bagi saya, saat-saat yang paling membahagiakan sewaktu memberikan ceramah adalah ketika banyak orang menjadi paham dan tambah wawasan. Demikian pula ketika mereka menjadi bersemangat, tergugah hatinya untuk berbuat baik atau berubah menjadi lebih baik. Orang bilang, itu berarti kita berhasil menyampaikan pesan kita, atau lebih kerennya: kita berhasil mempersuasi orang lain. Jadi teringat dengan pesan Nabi: “Barangsiapa menunjukkan orang lain pada kebaikan, ia seperti halnya melakukan kebaikan tersebut (maksudnya, sama-sama berpahala).”

Demikianlah sedikit cerita mengenai masa kecilku. Khatib cilik, itulah kira-kira saya ketika masih belia. Sungguh sebuah kenangan yang terasa manis untuk selalu diingat.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: