jump to navigation

Ikut Pelatihan Menulis 27 Juli, 2009

Posted by abdurrosyid in Hobiku Menulis.
Tags: , , , , , ,
trackback

Kemarin saya ikut sebuah pelatihan menulis di Magnetzone Cafe & Bookstore, Surabaya. Meski sudah terbiasa menulis, saya tetap tertarik mengikuti pelatihan tersebut. Sebetulnya, saya ambil keputusan untuk ikut pelatihan tersebut juga saat injury time. Ketika itu, salah seorang panitia menulis di halaman Facebooknya: ”Kursi kosong untuk pelatihan tinggal dua. Siapa cepat dia dapat.” Nggak tahu, habis baca pengumuman itu tiba-tiba saja saya merasa ’eman’ jika tidak ambil bagian dalam pelatihan tersebut. Yang ada dalam benak saya ketika itu adalah: ”Saya ingin mendapatkan hal-hal baru dalam pelatihan ini.” Singkat kata, akhirnya saya pun mendaftar dan dapat ticket-box-nya. Kemarin, seharian penuh saya mengikuti pelatihan tersebut.

Meski hanya sehari, namun pelatihan tersebut memberikan banyak hal kepada saya. Memang pembahasan masing-masing materi tidak bisa sampai detail. Namun cakupan materinya luas, fokus pada poin-poin yang penting, dan yang lebih penting bisa menstimulasi dan men-trigger saya untuk belajar lebih jauh lagi. Dan pelatihan tersebut telah memberikan banyak kata kunci kepada saya untuk melakukan hal tersebut.

Ada empat pembicara dalam pelatihan tersebut. Mas Epri berbicara tentang kiat menulis bebas. Mas Jonru tentang kiat menulis fiksi dan non fiksi. Bu Sofie Beatrix tentang kiat menembus penerbit. Dan Pak Anwar Djaelani tentang kiat menembus media massa.

Mas Epri memulai pembicaraan dengan memotivasi para peserta untuk menulis. ”Kalau mau menulis, tulis aja. Nggak usah mikirin ejaan dan kaidah-kaidah bahasa lainnya. Itu nanti saat editing. Yang penting menulis dulu sampai selesai, biarkan ide mengalir seperti air. Gunakan otak kanan lebih banyak ketimbang otak kiri,“ begitu kira-kira arahan Mas Epri. Soal editing, Mas Epri menyarankan agar hal tersebut tidak dilakukan seketika selesai menulis. ”Tunggu dulu hingga besok atau lain hari. Jika habis menulis kita langsung mengedit, hasilnya dikhawatirkan tidak akan bagus, karena pikiran kita masih menyatu dengan tulisan tersebut.” Mas Epri menyatakan bahwa yang terpenting pada saat menulis adalah ide-ide kita bisa mengalir dengan lancar, namun pada saat editing kita harus bisa menjadi editor yang kejam.

Adapun Mas Jonru pertama-tama menjelaskan perbedaan antara tulisan fiksi dan tulisan non fiksi. Habis itu, beliau menerangkan bagaimana menulis fiksi yang baik, dan diakhiri dengan bagaimana menulis non fiksi yang baik. Kata Mas Jonru, jalan cerita bukanlah segala-galanya dalam sebuah tulisan non fiksi. Justru yang lebih penting adalah bagaimana jalan cerita itu diketengahkan kepada pembaca. ”Meski jalan ceritanya biasa-biasa saja, namun jika diceritakan dengan cara yang menarik, hasilnya adalah sebuah karya fiksi yang bagus, ”ucap Mas Jonru.

Selanjutnya Mas Jonru menerangkan bahwa hal pertama yang harus kita lakukan ketika menulis fiksi adalah menetapkan karakter tokoh-tokohnya. Setelah itu, making a problem. ”Kalau karya fiksi nggak ada masalahnya, semuanya berjalan lancar-lancar saja, maka karya tersebut akan terasa hambar dan tidak menarik. Ibarat sayur tanpa garam,” tegasnya. Mas Jonru menambahkan bahwa kalau kita menciptakan konflik dalam karya fiksi, sebaiknya tidak tanggung-tanggung. ”Buatlah konflik yang heboh, asalkan masih masuk akal,” tukasnya. Kemudian hal terakhir yang harus kita lakukan adalah menetapkan ’pesan apa’ yang ingin kita sampaikan kepada pembaca. ”Pesan itulah yang akan menentukan bagaimana penulis akan mengakhiri ceritanya,” ucap Mas Jonru.

Setelah makan siang dan sholat zhuhur, giliran Bu Sofie Beatrix menyampaikan materinya. Dengan gaya khasnya, beliau mula-mula menerangkan bagaimana sih tulisan yang disukai oleh penerbit. Kemudian habis itu beliau menjelaskan kiat-kiat agar tulisan kita diterima oleh penerbit. Menurut beliau, berkas-berkas yang sebaiknya dikirimkan oleh seorang penulis kepada penerbit adalah surat pengantar yang ’menjual’, cv penulis, sinopsis tulisan, dan draf tulisan. Terakhir, beliau menambahkan tentang peran agensi penulis dalam membantu para penulis agar tulisan mereka lebih mudah lolos ke tangan penerbit. ”Jika dalam tulisan kita ada hal-hal yang masih kurang, agensi biasanya mau menunjukkannya, dan kita bisa memperbaikinya. Berbeda dengan penerbit. Mereka maunya siap jadi. Kalau tulisan kita mereka nilai kurang pas, mereka hanya menolak begitu saja, tanpa mau menunjukkan dimana kekurangannya,” jelas Bu Sofie.

Materi terakhir disampaikan selepas istirahat sholat asar oleh Pak Anwar Djaelani. Beliau memulai paparannya dengan memotivasi para peserta pentingnya menulis: bahwa menulis itu ibadah, membuat kita kaya ilmu, dan bisa membuat kita kaya uang. Selanjutnya Pak Anwar banyak menjelaskan bagaimana cara mencari ide untuk sebuah tulisan. Menurut beliau, ide untuk sebuah tulisan bisa datang kapan dan dimana saja. ”Untuk itu, sangat baik jika kita biasa membawa buku tulis seukuran saku kemana-mana, agar kita bisa menuliskan setiap ide yang muncul sewaktu-waktu,” ucapnya. Masih menurut beliau, kita akan banyak ide jika kita banyak membaca. Secara umum, ada tiga hal yang bisa kita baca: media cetak, media elektronik, dan kehidupan. Membaca kehidupan bisa berarti membaca pengalaman kita sendiri, hal-hal yang kita amati di sekitar kita, atau peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Terakhir, Pak Anwar menjelaskan tentang kiat-kiat agar tulisan kita bisa dimuat oleh media massa.

Keempat materi yang disampaikan dalam pelatihan tersebut saya rasa benar-benar komplit. Semua pemateri sanggup memberikan kata-kata kunci yang penting, yang membuat para peserta tahu harus berjalan kemana jika ingin belajar lebih banyak lagi. Terima kasih buat para pemateri: Mas Epri, Mas Jonru, Bu Sofie, dan Pak Anwar. Terima kasih juga buat Magnetzone.

Iklan

Komentar»

1. m. anwar djaelani - 27 Desember, 2010

Subhanallah! Sebuah reportase yang bagus. Silaturrahim lebih lanjut, silakan kunjungi saya di http://www.anwardjaelani.com. jazakallah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: