jump to navigation

Jejaring Sosial, Blogging, dan Fenomena Kultwit 7 April, 2011

Posted by abdurrosyid in Aku Suka Komputer.
trackback

Makin hari jejaring sosial makin banyak digemari dan digandrungi. Di ranah dunia maya, tren baru ini memunculkan beberapa efek samping. Salah satunya adalah menurunnya popularitas blogging. Kalaupun tidak menurun, barangkali adalah hambatan pada pertumbuhannya. Asumsikan pertumbuhan blogging diprediksi memiliki gradien 30 derajat jika demam jejaring sosial tidak pernah terjadi seperti hari ini. Setelah demam jejaring sosial terjadi seperti hari ini, pertumbuhan blogging pun tidak bisa mencapai gradien 30 derajat sebagaimana diprediksikan.

Saya teringat masa-masa ketika blogging mulai populer. Waktu itu jejaring sosial belum terlalu populer. Orang-orang pun mulai berlomba-lomba membuat blog dengan memanfaatkan layanan-layanan blogging gratis macam Blogger dan WordPress. Budaya blogwalking pun semakin populer. Seorang blogger berusaha untuk mengunjungi blog orang lain lalu memberikan komentar, dengan harapan si pemiliki blog itu akan juga mengunjungi blognya. Posting-posting yang ada dalam jutaan blog pun ramai dengan komentar-komentar para pengunjung.

Namun ketika masyarakat terjangkit demam jejaring sosial, blog-blog pun sepi komentar. Orang-orang lebih suka berkomentar di jejaring sosial daripada menulis komentar di blog orang lain. Korban lain dari popularitas jejaring sosial, menurut saya, adalah situs-situs diskusi (forum). Cukup banyak situs-situs diskusi yang dibangun dengan PHPBB atau yang lainnya menjadi sepi setelah orang-orang lebih memilih “berdiskusi” di situs-situs jejaring sosial. Padahal kalau mau jujur, berdiskusi di situs-situs diskusi sebenarnya lebih enak karena disana sudah disediakan “kamar-kamar khusus” untuk berbagai macam topik diskusi. Kelihatan lebih rapi dan lebih enak untuk diikuti.

Kegandrungan masyarakat pada jejaring sosial juga menyebabkan masyarakat lebih memilih dan sudah merasa puas bisa meng-update status dan tweet ketimbang mem-post tulisan di blog alias blogging. Memang menulis status dan tweet terasa lebih mudah daripada menulis di blog. Hampir semua orang bisa menulis status dan tweet, tapi tidak semua orang bisa atau cukup percaya diri untuk menulis sesuatu di blog. Blogging menuntut keterampilan yang lebih.

Masalahnya kemudian para blogger seolah-olah ikut-ikutan demam jejaring sosial dan mengucapkan selamat tinggal pada blogging. Dulunya rajin menulis di blog, kini blognya jadi terlantar. Menurut saya sih, semestinya para blogger tetap bisa konsisten ber-blogging ria, seraya tetap ikut menikmati jejaring sosial.

Ada yang mengatakan bahwa turunnya tren blogging disebabkan oleh masih sangat rendahnya budaya baca masyarakat. Mereka lebih suka membaca status-status pendek atau ocehan-ocehan (baca: tweets) daripada tulisan lebih panjang yang ada di blog. Akibatnya, para blogger pun jadi ikut terpengaruh dan “mengalah”. Para blogger jadi berpikir, “Kalau memang masyarakatnya kurang suka baca blog dan lebih suka jejaring sosial, ya udahlah kita nulis di jejaring sosial aja. Daripada nulis tapi gak dibaca.” Akhirnya, seorang Goenawan Muhammad pun terpaksa harus rela mau ber-kultwit dan membiarkan blognya sepi.

Fenomena Kultwit

Sekarang ini malah muncul satu tren baru yang namanya kultwit, singkatan dari ‘kuliah twitter’. Kultwit ini adalah serentetan tweet yang bersambung, dan membentuk satu kesatuan cerita. Biasanya diberi nomor urut, mulai dari nomor 1. Sebuah kultwit bisa saja panjangnya sampai 30 nomor.

Mungkin banyak orang bertanya, daripada menulis kultwit mengapa tidak menulis di blog? Dibanding blog, kultwit terlihat terlalu kaku. Setiap paragraf hanya dibatasi 140 karakter saja. Seringkali transisi antar paragraf (baca: antar tweet) terlihat kurang serasi. Kalimat-kalimat dalam kultwit sulit membentuk satu tulisan utuh dengan alur yang mengalir enak layaknya air. Kecuali jika Anda seorang Goenawan Muhammad, yang menurut saya, kultwit-kultwitnya menyerupai sebuah prosa puitis.

Ini saya kopi dari Kompas.com. Ada yang menulis begini: “Karena nulis blog harus memperhatikan beberapa aspek : 1. Rangkaian kata dan kalimat. 2. Tingkat informativitas. 3. Tata bahasa. 4. Kerapihan. 5. Kevalidan informasi. 6. dll. Sedangkan nge-tweet, cuma harus memperhatikan : 1. Tingkat kenarsisan. 2. Subyek narsis. 3. Predikasi narsis. 4. Obyek narsis. wakakakakakakaka.”

Karena itu, ada yang mengatakan bahwa kultwit itu ditujukan untuk masyarakat kebanyakan, sifatnya populer. Sedangkan blog ditujukan untuk masyarakat yang lebih intelek, sifatnya lebih eksklusif. Apa benar begitu?

Yang jelas, kekurangan yang lain dari kultwit adalah, bertumpuknya bagian-bagian kultwit dengan tweet-tweet lain pada timeline. Orang yang tidak mengikuti kultwit dari awal juga bisa ‘tidak nyambung’ atau ‘harus membaca dari belakang ke depan’. Meski memang akhir-akhir ini sudah mulai bermunculan aplikasi pihak ketiga yang bisa merapikan kulwit – memisahkan dan mengurutkannya – sehingga lebih enak untuk dibaca.

Karena itu banyak orang menyarankan, daripada menulis kultwit mengapa tidak menulis di blog saja dengan seekspresif mungkin tanpa banyak batasan-batasan, lalu link-nya di-publish di jejaring sosial. Lebih enak kan? Tapi memang yang namanya tren itu seringkali sulit dilawan. Sekarang memang lagi trennya jejaring sosial. Ketika Twitter sedemikian digemari dan dipuja-puja, segala yang berbau Twitter – termasuk kultwit – dianggap lebih keren.

Bagaimana pendapat Anda?

Iklan

Komentar»

1. achedy - 7 April, 2011

Twitter bersifat semi percakapan, sehingga orang yang menulis status di twitter sama dengan orang itu berbicara pada followernya. Habis itu status akan tenggelam. Bisa dicari, namun karena sulit orang tak berminat mencarinya lagi.

2. abdurrosyid - 9 April, 2011

Ini dia blogger sejati. Yang masih semangat nulis-nulis komen di blog orang. Matur nuwun atas komennya.

3. Nurhadi Sukma Waluyo - 27 April, 2011

afwan OOT ๐Ÿ™‚

akh Rosyid, mohon cek email dari ana. penting.

syukron.
Nurhadi Sukma Waluyo
King Saud University-Riyadh

abdurrosyid - 28 April, 2011

Ya, sudah ana cek. Biar ana baca dulu ya. Nanti insyallah ana balas via email. Jazakumullah.

4. putri syuhada - 5 Juni, 2011

betul…betul..betull :),

5. holiq - 13 Maret, 2012

mantap gan tulisannya!
Memang bloging terlihat agak sepi namun saya yakin tahun 2012 ini bakal banyak bloger2 baru yang muncul

6. Made mariawan - 22 Juli, 2012

Terima kasih atas tulisan ini, karena dari dulu saya apatis terhadap tweeter. Sekarang yang lebih mengerti. Thk

7. ikijadul - 10 Desember, 2012

saya juga baru bikin blog mas ๐Ÿ˜€ mungkin klo jejaring sosial mereka lebih pengin ngobrol bebas aja mas tapi klo blog mungkin di khususkan buat inpo2 lengkap macem tutorial dll ๐Ÿ˜€

keep posting cayoo

8. Demam Jejaring Sosial | Hendry's Blog - 9 Januari, 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: