jump to navigation

Cedera Rahang Saya (2) 3 Oktober, 2009

Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.
Tags: , , ,
trackback

Ini adalah kelanjutan dari cerita saya sebelumnya, mengenai bunyi klik yang kadang muncul pada rahang kanan saya ketika dibuka terlalu lebar. Setelah berusaha mengistirahatkan rahang saya dari pembukaan yang terlalu lebar, plus kompres dan krim glucosamine, saya melihat progresnya jalan di tempat saja – atau barangkali membaik tapi sangat perlahan-lahan. Yang jelas, walhamdulillah, tidak memburuk.

Kemarin, dokter spesialis bedah plastik yang menangani saya bilang kalau beliau angkat tangan. Artinya, menurut beliau, tidak ada lagi alternatif solusi lainnya. Bahkan operasi pun, kata beliau, tidak menjamin akan membuat segalanya lebih baik. Bisa-bisa, malah bikin keadaan jadi lebih buruk. Karena itu, pesan beliau hanya satu: “Tunggu saja (sampai hilang sendiri).” Saya pikir-pikir, bener juga tuh.

Selama beberapa hari ini saya agak stres karena progres yang amat super lambat (dasarnya, saya ini memang nggak sabaran kalau harus menunggu). Sebetulnya sih yang saya alami ini bisa dikatakan tidak mengganggu. Tidak ada rasa sakit atau nyeri. Tidak ada sakit kepala. Rahang juga tetap bisa dibuka dan ditutup dengan normal. Tidak ada ketidaknyamanan. Semuanya nyaman-nyaman saja. Pas bicara normail-normal saja. Pas makan juga normal-normal. Kecuali satu hal, kadangkala kalau dibuka terlalu lebar atau makan sesuatu yang terlalu kenyal atau terlalu keras, muncul bunyi klik. tapi itupun tidak keras. Pelan sekali. Pernah seseorang disamping saya kuminta mendengarkan, ternyata dia nggak dengar bunyi klik tersebut. Adapun mengapa saya mendengarnya lumayan jelas – dan seringkali saya sendiri juga mendengarnya sangat pelan atau hampir tak berbunyi – adalah karena posisi sendi rahang itu persis di sebelah telinga. Maklum saja.

Dari kenyataan ini, sebetulnya saya tidak punya alasan untuk merasa stres. karena itu, sekarang saya sadar bahwa saya nggak boleh mikirin masalah ini lagi. Jika tidak, saya bisa stres sendiri, sementara hal tersebut juga tidak akan memberikan pengaruh atau perubahan positif. Betul kan? Malah-malah, bisa memberikan efek negatif, baik pada masalah itu sendiri ataupun merembet pada masalah yang lainnya.

Jadi, semenjak sekarang, saya nggak boleh lagi mikirin masalah ini. Take it easy. Santai saja, yang penting semuanya tetap nyaman-nyaman saja dan “going well”. Ya, abaikan dan lupakan saja. Sebab justru dari banyak kasus yang saya baca, setelah dilupakan sekian lama, tanpa sadar masalah tersebut hilang sendiri. Inilah yang akan saya lakukan. Kalau memang kondisinya memburuk, kan ketahuan.

Tapi bukan berarti saya abai begitu saja. Saya insyaallah akan tetap melakukan hal-hal yang diyakini bisa memberikan pengaruh positif, atau mempercepat hilangnya masalah tersebut. Apaan tuh.

Nih dia. Yang pertama, nggak usah secara iseng membuka mulut terlalu lebar. Tapi pada saat yang diperlukan, membuka mulut lebar juga bukan tabu. Toh, insyaallah tidak akan memperburuk keadaan – wong dasarnya cedera saya ini insyaallah sangat ringan kok. Paling-paling memperlambat saja. Nggak apa-apa lah, toh saya juga tidak mematok kapan masalah ini harus hilang sama sekali.

Yang kedua, saya akan berusaha menghindari makanan yang terlalu keras, terlalu kenyal, atau makanan yang mengharuskan saya buka mulut terlalu lebar. Tentu saja sejauh yang saya mampu. Kalau sekali dua kali dilanggar juga nggak apa-apa lah. Alasannya sama: “Insyaallah tidak akan memperburuk keadaan – wong dasarnya cedera saya ini insyaallah sangat ringan kok. Paling-paling memperlambat saja. Nggak apa-apa lah, toh saya juga tidak mematok kapan masalah ini harus hilang sama sekali.”

Yang ketiga, tetap berusaha istiqomah melakukan kompres – baik kompres dingin ataupun kompres panas. Kalau sekali dua kali kelewatan ya nggak apa-apa lah. Yang penting kan secara umum tetap teratur.

Yang keempat, tetap mengoleskan krim glucosamine. Atau kalau kelak mau ganti, mungkin bisa pakai minyak-minyak berkhasiat lainnya, kayak minyak zaitun, minyak butbut, dan semacamnya.

Yang kelima, tetap rajin berolahraga. Saya berkeyakinan, gerakan-gerakan yang aktif dalam olahraga akan berpengaruh positif bagi masalah ini.

Ya, itulah kira-kira yang hendak saya lakukan. Intinya, saya tidak mematok kapan masalah ini harus hilang total. Saya akan mengabaikannya sampai hilang sendiri – dengan izin dan ma’unah Allah Ta’ala. Sembari, saya tetap melakukan kelima langkah yang konstruktif diatas.

Allahummasyfinii. Innaka Anta Asy-Syaafii. Laa syifa-a illa syifa-uka, syifa-an laa yughadiru saqamaa.

———————————————–

Bulan Oktober ini saya tetapkan sebagai bulan terapi untuk cedera saya ini. Selama sebulan ini, saya tidak akan membuka mulut terlalu lebar sambil terus melakukan kompres dan mengoleskan krim glucosamine. Dan nanti perkembangannya akan saya evaluasi pada bulan Nopember. Semoga pada bulan Nopember, masalah sudah selesai. Amin.

————————————————

Saya sih mengambil ibrahnya saja. Kalau bukan karena cedera ini, saya mungkin nggak akan kapok untuk ngebut. Dan jika saya tak berhenti ngebut, bisa jadi saya nanti akan mengalami cedera yang jauh lebih parah, atau tewas karena kecelakaan lalu lintas. Nah, sekarang saya sudah mentalak tiga kebiasaan ngebut. Apapun yang terjadi, dalam kondisi apapun juga, saya nggak bakalan ngebut lagi. Titik.

Komentar»

1. Rahang, Bekam, dan Akupunktur « Abdur Rosyid’s Blog - 5 November, 2009

[…] Rahang, Bekam, dan Akupunktur 5 November, 2009 Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah. Tags: akupunktur, bantal panas, bekam, hijamah, rahang trackback Ini adalah kelanjutan mengenai kisah saya berjuang memulihkan cedera rahang saya. Ini adalah tulisan yang ketiga. Ini dia tulisan sebelumnya, tulisan yang kedua. […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: