jump to navigation

Berkendara Aman dan Awas 10 September, 2009

Posted by abdurrosyid in Pokoknya Ada Saja.
Tags: , , , , , ,
trackback

Jumlah kendaraan roda dua (baca: sepeda motor) yang sangat banyak tanpa diimbangi dengan pembangunan prasarana transportasi (baca: pelebaran jalan) yang seimbang, telah menciptakan permasalahan lalu lintas tersendiri. Apalagi dalam kenyataannya perilaku berkendara para pengguna sepeda motor tuh banyak yang ugal-ugalan (termasuk saya sebelum ini he he he). Akibatnya, potensi terjadinya kecelakaan lalu lintas menjadi cukup tinggi. Kecelakaan tidak hanya rawan terjadi pada mereka yang berkendara dengan ceroboh, namun juga pada mereka yang sudah berkendara dengan hati-hati.

Karena itulah, sekarang ini seorang pengemudi sepeda motor tidak cukup hanya berkendara secara hati-hati, tetapi juga harus berkendara secara awas. Maksudnya, awas terhadap potensi kecelakaan yang setiap saat bisa saja menimpanya meski ia sudah berkendara secara hati-hati. Bagaimana caranya?

Pertama, berdoa dan berdzikir. Bagaimanapun juga, keselamatan kita ada di tangan Allah. Oleh karena itu, berdoa dan berdzikir adalah langkah yang pertama dan utama agar kita selamat selama berkendara.

Kedua, bersikaplah awas dengan mengendalikan kecepatan Anda. Bagaimanapun juga, meski Anda sudah menaati marka jalan dan rambu-rambu lalu lintas, tapi kalau Anda melaju terlalu cepat, Anda menjadi rawan mengalami kecelakaan. Sebabnya sederhana saja, pada kecepatan yang tinggi Anda akan kesulitan untuk menguasai kendaraan Anda jika terjadi apa-apa. Karena itu, berkendaralah dengan kecepatan sedang saja. Rasakan suasana santai. Nikmati pemandangan di sepanjang jalan yang Anda lewati (kecuali satu, para wanita cantik).

Ketiga, biasakan menyalakan lampu indikator ketika Anda hendak berbelok atau berpindah jalur. Dan jangan lupa untuk mematikannya segera setelah Anda selesai berbelok atau berpindah jalur. Kalau enggak, pasti bikin orang lain jadi bingung kan?

Keempat, kalau Anda hendak berpindah jalur (dari kiri ke kanan, atau dari kanan ke kiri, atau hendak mendahului), pastikan bahwa kondisi di belakang Anda aman. Pada kenyataannya, cukup banyak orang yang hendak berpindah jalur tanpa mau melihat kondisi di belakangnya. Akibatnya, terjadilah ‘srempetan’ yang sulit dielakkan. Dan untuk memastikan bahwa kondisi di belakang kita benar-benar aman, menyalakan lampu indikator saja tidak cukup. Anda tetap harus memastikan bahwa di belakang Anda tidak ada kendaraan yang terlalu dekat atau yang sedang melaju dengan kencang.

Tentang berpindah jalur, sebisa mungkin lakukanlah secara gradual. Misalnya, jika Anda ingin berpindah jalur dari kiri jalan ke kanan jalan, maka bergeserlah ke arah kanan jalan secara perlahan-lahan, sambil menyalakan lampu indikator. Cara ini lebih aman. Sebaliknya, berpindah jalur secara mendadak relatif lebih berbahaya. Dan Anda akan kesulitan melakukannya jika lalu lintas sedang padat. Betul kan?

Kelima, hindarilah berhenti secara mendadak, terutama jika Anda sedang melaju dengan kencang. Lha bagaimana jika kendaraan di depan Anda berhenti dengan tiba-tiba, Anda harus menghentikan kendaraan secara tiba-tiba juga kan? Nah, makanya kalau berkendara tuh ambil jarak dengan kendaraan di depan Anda. Trus, jangan melaju terlalu kencang.

Keenam, taatilah lampu lalu lintas alias lampu merah alias bang-jo. Artinya, kalau lampu sudah menyala merah, ya berhenti saja. Nggak usah memaksakan diri. Gimana kalo masih kuning? Kalo masih kuning ya tentu saja masih boleh jalan, tapi mesti ati-ati (baca: lihat kanan kiri, tapi nggak usah sambil tolah-toleh). Dan yang penting, kalo lampu sedang kuning jangan malah menggeber gas kuat-kuat. Santai saja, kalau emang ditakdirkan tetap bisa jalan terus (belum keburu merah) ya jalan aja terus. Tapi kalo ditaksirkan mesti berhenti (lampu udah menyala merah) ya berhenti aja. Beres kan.

Ketujuh, kenakanlah helm standar, syukur-syukur kalau bisa helm teropong (full face helmet). Ini untuk mengantisipasi kalau-kalau kecelakaan tak terhindarkan. Dengan helm standar, harapannya kepala dan wajah kita bisa terlindungi. Kalaupun cedera pada kepala atau wajah tak terhindarkan, setidak-tidaknya intensitas (baca: tingkat keparahan) cedera bisa dikurangi semaksimal mungkin.

Nah, itulah tujuh tips dari saya untuk berkendara aman dan awas. Anda sepakat kan? Kalo sepakat, ayo dipraktekkan.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: