jump to navigation

Cedera Rahang Saya (1) 2 September, 2009

Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.
Tags: , , , , ,
trackback

Beberapa bulan yang lalu, untuk yang kesekian kalinya (dan semoga yang terakhir) saya mengalami kecelakaan sewaktu naik kuda besi. Sisi kanan kepala saya menghantam jalan. Alhamdulillah wa bi ‘aunillah, saya pakai helm teropong. Saya pun tidak lecet sama sekali. Hanya sedikit bengkak, sedikit saja.

Sesuai teori penanganan cedera sepakbola yang saya tahu, dalam perjalanan balik (masih dengan motor yang sudah ‘sliring’ semua) saya membeli beberapa buah es batu. Begitu sampai, tanpa menunggu masuk rumah, saya langsung mengkompres sisi kanan kepala saya dengan beberapa buah es batu tersebut. Alhamdulillah, saya telah melakukan P3K yang bagus.

Besok atau lusanya, saya merasakan sesuatu di sekitar rahang kanan saya. Meski sejak awal tidak ada nyeri sama sekali, namun saya mendapati bunyi klik di area rahang saya ketika membuka mulut lebar-lebar lalu menutupnya kembali.

Saya pun berkonsultasi dengan seorang dokter spesialis bedah (gratis bro) mengenai hal tersebut. Hanya via telepon. Saya ceritakan semua keluhan saya. Pak dokter mengatakan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan, paling-paling cuma perdarahan didalam otot wajah, dan akan normal kembali dalam waktu 3 pekan. Beliau lalu menyarankan saya meminum obat anti nyeri dan obat yang membantu penyerapan darah yang menumpuk. Saya pun mengkonsumsi obat yang belakangan disebut, tanpa obat nyeri karena saya tidak mengalami nyeri sama sekali.

Empat hari kemudian, saya merasa kepingin konsultasi face to face dengan dokter. Saya pun datang ke sebuah klinik dokter umum. Diagnosisnya kurang lebih sama. Dokter tersebut memberikan saya obat untuk menghilangkan peradangan dan pembengkakan. Plus saran untuk tidak membuka mulut terlalu lebar atau memakan makanan yang keras.

Tiga atau empat hari kemudian, bengkak terasa sudah nggak ada. Saya pun melupakan masalah ini sampai beberapa lama. Namun setelah waktu yang cukup lama, saya mendapati bunyi klik di area rahang masih belum hilang.

Berharap mendapatkan diagnosis yang lebih tepat, saya pun datang ke Rumah Sakit Haji, yang alhamdulillah dekat dengan tempat tinggal saya. Awalnya, saya masuk ke Poli Bedah Umum. Tapi oleh paramedis disitu, saya diarahkan ke Poli Bedah Plastik, yang letaknya bersebelahan.

Di Poli Bedah Plastik, setelah ditanya-tanya sama pak dokter, saya diminta menjalani foto rontgen di Bagian Radiologi. Target pemotretan adalah area TMJ (Temporo Mandibular Joint). Setelah jeprat-jepret empat kali, pemotretan pun selesai. Pihak Radiologi menyampaikan kesimpulan (yang ditulis diatas secarik kertas): “Tidak terlihat adanya kelainan (pada TMJ).”

Hasil pemotretan (dan tentu saja kesimpulan dokter radiologi) selanjutnya dianalisis oleh pak dokter di Poli Bedah Plastik. Diagnosisnya, cedera ringan saja, yang katanya akan normal kembali setelah 3 pekan (atau lebih). Saran untuk saya: mengistirahatkan otot-otot sekitar rahang dengan tidak membuka mulut terlalu lebar atau memakan makanan yang terlalu keras. Hi hi hi, sarannya sama dengan saran dokter (umum) sebelumnya.

Lewat sudah kira-kira sebulan. Tapi kok saya rasakan bunyi kliknya belum hilang. Saya pun berpikir tentang cara pengobatan lainnya. Akhirnya saya pergi ke seorang tukang pijat urat di kawasan Sidoarjo. Disamping memijat, beliau memberi saya sebotol kecil kapsul cina dengan khasiat “healing bone fractures”.

Sehabis itu saya belum merasakan hasil yang signifikan. Mungkin saja ada tapi saya nggak merasa. Akhirnya, saya berpindah ke tukang pijat lainnya. Tukang pijat belakangan inilah yang dulu juga merawat cedera tulang pinggang saya hingga sembuh. Saya pun dipijat dengan kompres panas. Pesan terakhir beliau adalah agar saya setiap hari melakukan terapi kompres panas dan dingin pada area rahang saya.

Ingin tahu lebih jauh, saya pun browsing abis di internet mengenai cedera area rahang. Saya baca hampir semua artikel terkait. Yang paling menarik bagi saya adalah, semua artikel menyarankan terapi yang sama, yaitu mengistirahatkan otot-otot di sekitar rahang (dengan tidak membuka mulut terlalu lebar dan tidak memakan makanan yang keras-keras) dan melakukan terapi kompres panas dan dingin setiap hari.

Saya pun melakukan terapi kompres panas dan dingin hampir setiap hari. Kompres panas pada pagi hari, dan kompres dingin pada sore hari. Tapi saya masih kurang perhatian dengan anjuran mengistirahatkan otot-otot sekitar rahang. Itupun saya sudah mulai merasakan hasil positif yang menggembirakan. Tapi progressnya masih fluktuatif. Saya belum puas.

Akhirnya, untuk yang kedua kalinya saya datang ke Poli Bedah Plastik Rumah Sakit Haji. Saya sampaikan kondisi terakhir saya, antara lain bahwa ada tren membaik tapi masih belum stabil. Akhirnya, dengan meyakinkan pak dokter bilang bahwa tidak ada kerusakan pada susunan tulang, termasuk TMJ. Yang terjadi hanyalah sedikit masalah pada jaringan lunak di sekitar tulang, seperti ligamen dan sebagainya. Mungkin ada yang kendor dan semacamnya. Terapinya menurut pak dokter adalah terus mengistirahatkan otot-otot di sekitar rahang. Tidak boleh membuka mulut terlalu lebar, dan tidak makan yang keras-keras. Jika bisa benar-benar disiplin melakukan hal tersebut, biasanya setelah 3 pekan sudah kembali normal. Tapi jika kurang disiplin, mungkin lebih lama. Makin tidak sdisiplin, makin lama. Menurut pak dokter, “idealnya” mulut saya dikunci (diplester kali) untuk bisa mengistirahatkan area rahang secara total. Tapi kan nggak mungkin lah. Saya kan harus bicara, harus makan, bahkan harus menguap.

Selain itu, pak dokter juga meresepkan sebuah salep yang berfungsi untuk membantu memperbaiki jaringan lunak yang rusak. Harganya 200 ribu di sebuah apotek. Dan 187 ribu di apotik lainnya. Karena tahu harga yang lebih murah, tentu saja saya beli yang lebih murah. Alhamdulillah bisa berhemat, meski hanya 13 ribu.

At last, rencana terapi yang saya canangkan adalah sebagai berikut.

Pertama, optimis dan berhusnuzhzhan kepada Allah. Ditambah dengan doa kepada-Nya. Allah adalah segala-galanya. Dan hanya Dia sajalah yang menyembuhkan.

Kedua, bersikap rileks, santai, dan gembira. Hilangkan segenap rasa sedih dan kekhawatiran. Orang-orang yang beriman itu tak pernah sedih dan tak pernah khawatir. Dan ingatlah, sakit dan derita yang dialami oleh para pejuang terdahulu jauh lebih pedih dan perih. Kalau hanya cedera seperti saya ini, nggak ada apa-apanya.

Ketiga, sebisa mungkin tidak membuka mulut terlalu lebar. Kalau pas menguap, mulut agak ditahan sehingga tidak terbuka lebar. Setahu saya, mulut hanya akan terbuka lebar ketika menguap dan ketika kita sengaja buka lebar. Selebihnya, seperti pas bicara dan bahkan makan (asal bukan makan apel gelondongan) mulut hanya terbuka biasa. Sebagaimana yang dituturkan pak dokter spesialis bedah plastik yang menangani saya, yang dimaksud dengan membuka mulut lebar adalah yang sampai mengakibatkan munculnya bunyi klik. Kalau tidak sampai muncul bunyi klik, berarti tidak masalah.

Keempat, menghindari memakan makanan yang keras-keras. So, saya sebisa mungkin harus menghindari segala bentuk makanan yang keras, yang bisa memforsir kerja tulang-tulang di area rahang berikut jaringan lunaknya. Nggak ada masalah sama sekali insyaallah, soalnya masih banyak jenis-jenis makanan “lunak” yang enak. Sebut saja misalnya nasi itu sendiri (apalagi lontong atau bubur), ikan, telur dadar, kare ayam, sayur sup, sayur bayam, sayur daun pepaya, semangka, pisang, pepaya, rujak buah, jus buah, bakso, pangsit, martabak, terang bulan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Nggak ngitung dah pokoknya.

Kelima, melakukan kompres panas dan atau dingin setiap hari. Kompres panas pakai air panas. Kompres dingin pakai es batu.

Keenam, mengoleskan salep yang telah diresepkan oleh dokter, dua kali sehari, sehabis mandi pagi dan menjelang tidur.

Sampai disini ya cerita saya. Semoga Allah senantiasa memberikan yang terbaik untuk kita semua. Amin.

Komentar»

1. Sekarang, Take It Easy dan Tetap Berusaha « Abdur Rosyid’s Blog - 3 Oktober, 2009

[…] Oktober, 2009 Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah. trackback Ini adalah kelanjutan dari cerita saya sebelumnya, mengenai bunyi klik yang kadang muncul pada rahang kanan saya ketika dibuka terlalu lebar. Setelah […]

2. ari - 30 Mei, 2010

salep apa namana??

abdurrosyid - 2 Juni, 2010

MediFlex, kalau gak salah…

3. ester - 22 Februari, 2011

pijat urat di sidoarjo jln. apa? pak siapa?tq.

4. akma kurnuawan - 3 Januari, 2014

Pijat urat dmn alamatnya?

5. ninin oneng - 4 Agustus, 2014

bang abdurrosyid nanya dong. aku ngalamin ini udah 4 thn. dlu udh ke dr gigi tmj cm blm smbh. itu kalo beli salep nya tanpa resep dokter gapapa ga ya? jawab ya bingung ketakutan kalo makin parah, makasi y


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: