jump to navigation

Sana’a Yang Kering 27 Mei, 2009

Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Berkelana.
Tags: , , , ,
trackback

Beberapa bulan yang lalu, selama kurang lebih 3 bulan saya berada di Sana’a, ibukota Yaman Bersatu. Dari Jakarta, pesawat yang saya tumpangi terlebih dahulu singgah sebentar di Dubai, ibukota UAE, dan kemudian menuju ke kota Sana’a. Kesan pertama saya tentang Sana’a tentu saja adalah bandar udaranya.

Bandar udara Sana’a, yang saya duga sebagai bandar udara internasional terbesar di Yaman, kelihatan sangat bersahaja. Tidak semewah Sukarno – Hatta, atau Juanda sekalipun. Ini memberikan kesan awal kepada saya bahwa Sana’a dan Yaman mungkin sama bersahajanya dengan bandar udara internasional terbesarnya.

Saya sampai di bandara tengah malam. Dari bandara, saya dan sahabat seperjalanan saya, Ustadz Ajid Muslim, segera berangkat menuju pemondokan kami. Kami naik sebuah mobil sederhana, ditemani oleh seorang sahabat yang bekerja di yayasan yang mengundang kami.

Di Sana’a, tidak ada sepeda motor sebagai alat transportasi, kecuali dalam jumlah yang sedikit sebagai sarana ojek. Hampir keseluruhan kendaraan beroda empat. Saya pikir, di seantero Semenanjung Arab sepeda motor memang tidak lazim dipakai sebagai alat transportasi dalam jumlah besar sebagaimana di Indonesia.

Kehidupan di Sana’a bisa saya katakan bersahaja. Meski hampir semua kendaraan di Sana’a beroda empat, namun banyak diantaranya, utamanya angkutan umum, yang kondisinya sudah tua. Namun tidak sedikit pula mobil-mobil yang masih baru dan bagus, terutama mobil pribadi.

Sepanjang pengamatan saya, hampir tidak ada gedung pencakar langit di Sana’a. Memang ada gedung-gedung tinggi, namun saya belum mendapati yang melebihi 10 lantai. Barangkali orang-orang Yaman tidak menyukai bangunan yang terlalu tinggi.

Arsitektur bangunan disana juga sangat khas. Hampir tidak ada bangunan dengan gaya 100 % modern ala Amerika atau Eropa, yang tidak sulit kita dapati di Indonesia. Bangunan-bangunan mereka sangat menjaga ciri khas Yaman. Yang paling khas menurut saya adalah bentuk jendela. Bentuk busur hampir selalu ada pada jendela bangunan.

Disamping itu, dinding bangunan disana juga berbeda dengan di Indonesia. Mereka menyukai dinding bangunan dibiarkan sedikit kasar. Sebagiannya bahkan menampakkan dan memamerkan susunan batu bata  yang secara rapi membentuk dinding ala Yaman.

Pertama kali menginjakkan kaki saya di Sana’a, saat itu sedang musim dingin (syita’). Dingin akan tetapi tanpa hujan. Dan dinginnya tidak lembab seperti halnya di Indonesia. Dinginnya kering yang memaksa saya harus memakai pelembab kulit setiap hari. Jika tidak, kulit saya menjadi bersisik seperti ikan!

Sana’a memang wajar berudara dingin, karena terletak di dataran tinggi. Barangkali mirip Malang atau Bogor di Indonesia. Hanya bedanya, disana hampir tidak ada hujan. Pernah beberapa kali mendung dan sedikit gerimis, namun tidak ada hujannya. Wallahu a’lam, barangkali di propinsi lain ada hujannya. Yang jelas, di Sana’a hampir tidak ada, setidak-tidaknya pada tahun dimana saya berada disana.

Meski saya tinggal di Sana’a hanya selama tiga bulan, namun saya bisa merasakan dua musim. Sepertiga akhir dari keberadaan saya di Sana’a bertepatan dengan musim panas (shayf). Menurut saya, musim panas di Sana’a hampir sama dengan musim kemarau di Indonesia. Hanya bedanya, langit Sana’a bisa cerah 100 persen, benar-benar biru tanpa ada putihnya sama sekali.

Hal terakhir yang bisa saya ceritakan mengenai keringnya Sana’a adalah gunung-gunungnya. Yaman, tidak terkecuali Sana’a, terkenal dengan gunung-gunungnya, yang bisa ditemukan di banyak tempat. Saya lebih suka menyebutnya bukit daripada gunung, karena ketinggiannya sama dengan apa yang disini kita sebut sebagai bukit. Bukit-bukit Sana’a bukanlah bukit yang hijau dengan pepohonan. Bukit-bukit disana sangat gersang, hampir tidak ditumbuhi oleh pepohonan atau bahkan semak belukar sekalipun. Katanya, bukit-bukit di semenanjung Arab memang demikian, tidak hanya di Yaman.

Saya jadi sadar, barangkali hampir tidak adanya hujan di Sana’a berkaitan dengan bukit-bukit gersang ini. Andai disana sering turun hujan lebat, saya pikir akan banyak terjadi tanah longsor disana-sini, karena memang bukit-bukit disana sama sekali tidak berpepohonan, yang sangat bisa jadi rawan longsor jika ada hujan lebat. Subhanallah!

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: