jump to navigation

Wahai Wanita, Respect Yourself! 17 April, 2009

Posted by abdurrosyid in Pokoknya Ada Saja.
Tags: , , , , ,
trackback

Saya tidak habis pikir mengapa sekarang ini banyak sekali para wanita yang berpakaian seksi di muka umum. Saya katakan banyak sekali karena kita hampir selalu bisa menyaksikannya dimana-mana: di jalanan, di mal, di taman kota, di tempat wisata, di terminal, di stasiun, di bandara, di kampus, di perpustakaan, dan di tempat-tempat umum lainnya. Pokoknya dimana-mana!

Suka atau tidak suka, kita pasti melihatnya dimana-mana karena memang saking banyaknya. Kayaknya mengalihkan pandangan juga sulit untuk saat ini, karena saat kita mengalihkan pandangan ke kiri, eh di kanan juga ada. Mengalihkan pandangan ke kanan, di kiri juga ada. Berbalik arah, lho kok di belakang juga ada. Menundukkan pandangan terus? Ya nggak mungkin lah kalau lagi mengendarai motor, atau menyetir mobil, atau bahkan sekadar jalan. Kan kita harus lihat jalan. Lalu bagaimana? Ya, menundukkan atau mengalihkan pandangan sejauh yang kita mampu. Kalau itu sudah kita lakukan tapi masih ‘dikethoki’ juga, ya mau gimana lagi.

Kini dimana-mana para wanita, terutama yang masih ‘look young’ atau ‘feel young’, sangat biasa kita temui mengenakan jeans ketat dipadu dengan kaos ketat dengan lengan yang kelihatannya kependekan, yang tentu saja memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh si wanita. It is so common now! Bahkan tidak jarang yang hanya mengenakan celana pendek atau rok super mini dipadu dengan tank top, yang kadang-kadang memperlihatkan perut. Astaghfirullah, that makes guys taking deep breath! Lho, gimana saya tahu? Sebetulnya saya tidak pernah berharap menyaksikan yang demikian, tetapi semuanya datang begitu saja di depan pelupuk mata tanpa pernah kita undang. Memalingkan pandangan mungkin bisa, tapi kita sudah pasti dapat pandangan pertamanya kan.

Yang kini menjadi pertanyaan: mengapa para wanita itu berpakaian sedemikian seksi? Saya tidak tahu persis jawabannya, karena saya bukan wanita. Saya justru akan memberikan penilaian dari sudut pandang laki-laki.

Wanita semestinya sadar bahwa ketika ia berpakaian sedemikian seksi, apalagi kelewat seksi, maka para laki-laki akan kehilangan respek kepadanya. Laki-laki akan memandang bahwa wanita tersebut ‘seems easy’. Dalam bahasa kita, wanita murahan atau gampangan! Laki-laki akan memahami bahwa wanita tersebut seolah-olah berkata, “Look at me, and catch me if you can.” Karena itu, cara berpakaian yang demikian ini jelas-jelas akan memicu pelecehan seksual. Permasalahannya para laki-laki itu takut jika diperkarakan ke polisi, atau takut dipecat (jika wanita itu atasannya), atau takut kalau dihajar massa (jika wanita itu teriak minta tolong), atau merasa sungkan alias malu dengan orang-orang di sekitarnya, para sahabatnya, dan kerabatnya (jika melakukan pelecehan seksual dan jadi omongan), atau merasa takut kepada Allah (kalau ini laki-laki yang shalih). Jika tidak karena ini, niscaya para laki-laki itu sudah berbuat tidak senonoh terhadap wanita-wanita semacam itu.

Nah, yang bikin saya tidak habis pikir adalah bagaimana para wanita itu bisa terima ketika para laki-laki itu sama sekali tidak menaruh respek kepada mereka. Bagaimana mereka bisa terima bahwa mereka dipandang dan dianggap oleh semua laki-laki yang memandangnya sebagai wanita murahan dan gampangan.

Bahkan sekalipun wanita yang berpakaian seksi itu adalah wanita terpelajar, wanita kaya, wanita terkenal, wanita berkedudukan, dan semacamnya, pandangan dan anggapan para laki-laki kepadanya tidak akan berubah: nggak ada respek sama sekali. Para laki-laki akan tetap menganggapnya murahan dan gampangan ketika sang wanita mengenakan pakaian yang seksi atau bahkan kelewat seksi.

Bahkan kalau ada wanita yang sangat terpelajar, sangat kaya, atau sangat terkenal sekalipun yang berpakaian seksi atau kelewat seksi, para laki-laki tukang becak dan penyapu jalan pun akan meremehkannya dan menganggapnya murahan dan gampangan. Para laki-laki di jalanan itu akan melupakan status si wanita, karena ketika itu mereka hanya berpikir: “What a hot, nice babe to fuck she is.” Nah, apakah Anda para wanita rela dipandang dan diperlakukan seperti itu?

Saya yakin para orangtua tidak akan rela anaknya diperlakukan sedemikian. Demikian pula para suami tidak akan rela istrinya dijadikan santapan lezat bagi sekian banyak mata liar di jalanan. Demikian pula Anda tidak akan rela jika saudara perempuan Anda diperlakukan serupa.

Jadi, sadarlah wahai para wanita yang gemar berpenampilan seksi. Jika Anda tidak bisa menghargai diri Anda sendiri, jangan berharap orang lain akan menghargai Anda. Kata orang Jawa: “Yen kowe ora iso ngregani awakmu dhewe, ora bakal ono wong sing ngregani kowe.” You, girls, have to respect yourself. If you don’t, no one will respect you!

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: