jump to navigation

Pelajaran Baru Sehabis Kecelakaan 21 Maret, 2009

Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.
Tags: , , , , , ,
trackback

Sehabis kecelakaan sepeda motor beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan beberapa pelajaran baru. Mungkin Anda menyangka bahwa pelajaran baru tersebut adalah kesadaran untuk mulai sekarang tidak lagi kebut-kebutan dan lebih berhati-hati dalam berkendara. Yup, pelajaran yang ini sih jelas. Namun saya juga alhamdulillah mendapatkan pelajaran yang lain.

Sehari setelah kecelakaan, saya membawa sepeda motor saya ke bengkel spesialis senter bodi motor. Habis, motor saya ‘sliring’ berat akibat kecelakaan tempo hari itu, sehingga mau tidak mau bodinya harus disenterkan. Dan wow, di bengkel tersebut motor saya dibongkar abis, hanya mesinnya saja yang nggak dibongkar.

Nah, yang menarik adalah setelah selesai proses senter bodinya, sang montir melakukan test-drive untuk ngecek apakah hasil senter bodinya sudah benar-benar oke atau belum. Yang unik, diantara bentuk test-drive-nya adalah mengendarai motor saya dengan ‘lepas tangan’, maksudnya kedua tangan nggak memegang setir. Persis kayak pembalap motoGP kalau finish nomor satu, pasti ybs selebrasi dengan antara lain ‘lepas tangan’ pasca melewati garis finish.

Saya bertanya pada sang montir, “Wah, hebat sekali mas.”

“O ya dong, kan saya sering latihan,” jawabnya. “Kalau bodi motor kita senter, bisa dipakai lepas tangan kayak tadi,” lanjutnya.

Kalimat terakhir yang ia ucapkan ini membuat saya benar-benar penasaran dan ingin membuktikan. Mungkin diantara Anda ada yang takut untuk mencobanya, atau minimal agak takut. Namun bagi saya, tidak ada sedikit pun alasan untuk takut, meski kemarin baru saja kecelakaan.

Yang membuat saya tambah pede untuk mencoba adalah, dulu saya juga biasa lepas tangan, tapi sepeda pancal. Saya berpikir, apa bedanya sepeda motor dengan sepeda pancal. It’s not quite different!

Saya pun mencobanya. Dan… alhamdulillah… sangat mudah untuk dilakukan. Saya pun memperagakannya beberapa kali mulai dari kecepatan rendah sampai dengan kecepatan tinggi, untuk memastikan bahwa saya sudah mahir melakukannya. Dan, inilah pelajaran yang saya rasakan sangat berharga pasca kecelakaan kemarin.

Hanya, saya sedikit kurang puas karena sewaktu lepas tangan, saya hanya bisa memanfaatkan sisa kecepatan motor. Hanya beberapa meter setelah lepas tangan, motor jadi kehilangan kecepatan. Lha iya lah, kan grip gasnya dibiarin lepas, jadi tidak dalam kondisi nge-gas sama sekali. Saya rasa para pembalap motoGP juga demikian, hanya bisa memanfaatkan sisa kecepatan motor mereka. Hanya saja, kalau kecepatan yang dimanfaatkan itu 200 km/jam atau bahkan lebih, ya tentu saja masih awet kencengnya.

Pelajaran lain yang bisa saya dapat pasca kecelakaan yang kesekian kalinya ini, selain pelajaran lepas tangan, adalah -walhamdulillah- saya merasa nyali, keberanian, dan ‘bravery to take any challenge’ saya semakin hebat saja. Alhamdulillah, kecelakaan-kecelakaan yang telah saya alami sama sekali tidak membuat saya trauma. Sebaliknya, malah bikin saya semakin berani saja. Bagaimana bisa?

Alhamdulillah, dari semua kecelakaan motor yang saya alami, semuanya saya rasakan bisa dinikmati. Yang jadi satu-satunya ‘masalah’ adalah luka atau cedera yang harus kita alami, yang tentu saja mengganggu kita dalam beraktivitas, atau bisa bikin kita cacat, atau bahkan bisa membuat kita meregang nyawa. Kalau luka atau cedera agak serius, seringkali juga memaksa kita untuk ngeluarin uang buat berobat. Selain luka dan cedera, kerusakan kendaraan juga sudah pasti memaksa kita merogoh kocek untuk biaya perbaikan.

Selain dua ‘masalah’ itu, alhamdulillah saya selalu bisa menikmati ‘move jatuh dari motor’. Diantara sekian banyak move, yang paling saya sukai adalah move tergelincir. Move ini bisa terjadi pada saat kita belok di tikungan. Peluang terjadinya move ini akan semakin besar jika kemiringan motor kita semakin besar pula, maksudnya: jika motor kita sedemikian miring sehingga sangat mepet dengan permukaan jalan. Biasanya, dalam setiap balapan motor, peristiwa ini hampir tidak pernah tidak terjadi, artinya: hampir selalu terjadi. Yang menyedihkan, jika seorang pembalap tergelincir pada lap terakhir perlombaan, sementara dia berada paling depan. Mau menang, tapi nggak jadi. Dan ini cukup sering terjadi.

Saya sendiri pernah mengalami move ini. Ketika itu saya belok pada tikungan 180 derajat. Ketika itu, seingat saya kemiringan motor saya kurang lebih 30 derajat dari permukaan jalan. Sungguh gerakan belok yang sangat nikmat rasanya. Tapi, tanpa saya sadari ternyata di permukaan jalan terdapat tumpahan cairan yang saya duga minyak. Mungkin ada tukang angkut minyak yang mengalami bocor pada tangkinya. Walhasil bisa ditebak, sreee…..eeeet! Motor saya tergelincir dengan mulus. Rasanya persis kalau lagi sliding teckle ketika bermain sepakbola di lapangan besar. Memang, tergelincir adalah kecelakaan motor yang paling ergonomis. Jika kita memakai baju balap yang anti lecet itu, insyaallah wa biidznillah, tergelincir sama sekali tidak akan melukai atau mencederai kita.

Saya sendiri waktu itu hanya pakai pakaian biasa, dan nggak mungkinlah saya pakai baju balap, wong pulang dari kantor, dan juga karena memang saya nggak punya. Akibatnya, celana saya jadi korban, adapun baju rusak sedikit saja karena waktu itu saya pakai jaket. Alhamdulillah, ketika saya tergelincir itu tidak ada kendaraan dibelakang saya yang jika ada tentu bisa saja menggilas tubuh saya. Lagi-lagi, alhamdulillah tsummal hamdulillah.

Adapun move lainnya akibat kecelakaan mungkin saja bisa dinikmati, namun saya rasa tidak senikmat move tergelincir. Mengapa? Sebab tergelincir itu ‘jatuh sendiri’, berbeda dengan srempetan atau tabrakan yang jatuhnya dikarenakan adanya benturan dengan yang lainnya.

Namun saya sama sekali tidak ingin nantang-nantang untuk mengalami kecelakaan. Bagaimanapun juga, saya dan tentu juga Anda, pasti lebih memilih untuk tidak mengalami kecelakaan, apapun bentuknya. Baik itu tergelincir, srempetan, tabrakan, atau yang lainnya.

Untuk itu, saya ingin mengatakan kepada diri saya sendiri: “Cukuplah sudah kamu jadi pembalap jalanan dan suka ngebut di jalan. Sekarang saatnya kamu berkendara dengan santai dan berhati-hati.”

Dan yang paling penting, saya ingin memanjatkan rasa syukur yang sebesar-besarnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang senantiasa memberikan taufiq dan ‘inayah-Nya kepada saya, sehingga saya tidak pernah sampai mengalami kecelakaan yang parah. Dan semoga Allah terus memberikan taufik dan inayah-Nya kepada saya. Amin.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: