jump to navigation

Lagi, Kecelakaan Lalu Lintas! 19 Maret, 2009

Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.
Tags: , , ,
trackback

Rasanya, entah sudah berapa kali saya mengalami kecelakaan sewaktu mengendarai kuda besi saya. Kemarin, saya lagi-lagi mendapatkan sarana penghapus dosa dari Sang Penguasa Kehidupan. Namun sejauh ini, saya masih harus banyak bersyukur karena dari sekian kecelakaan yang saya alami, tidak ada yang sangat parah, seperti misalnya sampai menyebabkan patah tulang, gegar otak, atau bahkan sampai meninggal dunia. Sejauh ini, kecelakaan yang saya alami paling-paling hanya meninggalkan lecet-lecet, sedikit bengkak, pakaian sobek, dan kerusakan kecil pada beberapa bagian kendaraan saya. Alhamdulillah ‘ala kulli hal. Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengasih.

Yang unik dari kecelakaan yang saya alami kemarin adalah benturan kepala saya dengan aspal jalan. Saya patut bersyukur kepada Allah, kepala saya terhindar dari luka parah, hanya sedikit bengkak yang bikin pipi saya kelihatan agak tembem, dan rahang saya terasa agak sakit kalau dipakai buka mulut sewaktu menelan makanan. Memang, ketika itu saya memakai helm teropong, yang melindungi kepala saya ketika berbenturan dengan aspal. Jika tidak, barangkali saya sudah mengalami luka yang serius di bagian kepala saya. Bagaimana tidak, wong salah satu bagian motor saya yang terbuat dari besi cor saja tergerus serius akibat gesekan dengan aspal. Tentu saja kepala saja tidak sekeras besi tersebut. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Leher saya juga alhamdulillah hanya mengalami sedikit nyeri, tidak sampai patah tulang leher. Beberapa persendian saya, seperti bahu, siku, paha, dan lutut, juga hanya ngilu-ngilu, nggak sampai ada luka yang serius atau patah tulang. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Terus terang saja, seusai tabrakan saya langsung pegang-pegang dan periksa kepala saya yang memang saya rasakan mengalami sesuatu. Apakah terjadi sesuatu dengan kepala saya? Apakah ada bagian kepala saya yang jadi miring atau cedera serius? I really didn’t hope so. I have not got married, and I want to, as soon as possible! Perasaan yang sama juga saya alami sewaktu saya cedera agak serius ketika berlatih sepakbola beberapa tahun lalu. Ketika itu saya mengalami benturan serius dan mengalami pendarahan hebat di hidung saya, dan saya merasakan terjadi sesuatu dengan hidung saya, lebih dari sekadar pendarahan. Ketika itu, seusai benturan dan sehabis saya dibopong ke tepi lapangan, saya langsung memeriksa hidung saya. Hati saya bergumam dengan resah, “O my god, I have not got married, jadi semoga tidak terjadi apa-apa dengan hidung saya!” ‘Ala kuli hal, hidung saya ternyata mengalami dislokasi, dan alhamdulillah dokter akhirnya berhasil meluruskannya kembali dengan bantuan sebatang besi!

Back to the topic, saya  rasa kecelakaan yang saya alami kemarin sebetulnya cukup serius. Helm saya sampai terlempar jauh dari motor, dan diambil orang (lha kok tega-teganya ada orang yang ngambil helm orang yang mengalami kecelakaan, memang kiamat sudah dekat). Dan setir motor saya sampai miring, sehingga perlu dibawa ke tukang senter bodi motor. Namun alhamdulillah, luka dan cedera yang saya alami lebih ringan daripada kerusakan yang menimpa motor saya.

Ada beberapa pelajaran yang bisa saya ambil dari kecelakaan yang saya alami kemarin. Pertama, dan ini mesti disebut dalam setiap kecelakaan dan musibah apapun, saya ber-husnuzhan bahwa Allah hendak menghapus sebagian atau semua dosa-dosa yang saya miliki. Barangkali saya telah melakukan kesalahan-kesalahan, atau saya kurang sedekah. Ya Allah, ampunilah dosa, kesalahan, dan kelalaian hambamu yang dhaif ini.

Kedua, kecelakaan kemarin memberikan pelajaran kepada saya bahwa saya mesti lebih berhati-hati dalam berkendara. Selama ini saya memang termasuk tukang ngebut. Kalau berkendara luar kota, saya bisa ngebut sampai tidak ada satupun kendaraan yang lebih cepat daripada saya. Beberapa kali saya berkendara dengan kecepatan antara 110 – 115 km/jam, yang ketika itu saya menjadi yang paling cepat, tidak ada satupun kendaraan yang lebih cepat daripada saya. Sebetulnya pinginnya lebih cepat dari itu, tapi masalahnya motor yang saya tunggangi hanya bisa melaju sampai kecepatan itu. Gas sudah saya geber maksimal, tapi hanya bisa mencapai kecepatan tersebut. Didalam kota saya juga suka ngebut. Terutama jika sedang melaju di jalur yang lapang seperti di Jl. Jemursari Surabaya, saya biasa melaju dengan kecepatan 100 km/jam. Dan kecelakaan yang kemarin itupun juga terjadi di Jl. Jemursari, dimana saya sering ngebut disitu.

Cukup sudah saya menjadi pembalap jalanan. Sekarang saatnya saya berkendara dengan santai, sambil menikmati udara dan pemandangan yang ada. Semoga saya tidak lagi mengalami kecelakaan lalu lintas. Hanya kepada Allah sajalah aku berdoa dan berharap. Ya Allah, kasihilah hamba, sayangilah hamba, lindungilah hamba dari segenap keburukan yang mungkin terjadi. Amin.

Komentar»

1. fuad hasan - 8 April, 2009

Assalam…. Alhamdulillah… tdk sampe parah. Hmm, maaf sy baru tau klo ente dapat kecelakaan, skrg mestinya udah baikan n semoga jg begitu. Kayaknya di jatim gak ada sirkuit yg layak, so dilarang diterapin ngebutnya di jalan umum… hehe. Sy jg kadang agak khawatir waktu ente bonceng waktu road to LA, jalan gak rata, banyak lubang, trus perilaku berkendara masyarakat yg masih ngawur, bikin kita harus waspada ketika di jalan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: