jump to navigation

Kiat Mengatasi Penyakit Suka Menunda 6 November, 2008

Posted by abdurrosyid in Pokoknya Ada Saja.
Tags: , , , , , ,
trackback

Suka menunda-nunda adalah penyakit klasik yang banyak dikeluhkan oleh siapa saja. Namun yang biasanya paling tersiksa dengan penyakit ini adalah mereka yang sudah punya komitmen menghargai waktu namun sayangnya belum bisa mengatur waktu dengan baik.

Sebetulnya anjuran untuk tidak suka menunda-nunda banyak terdapat dalam ajaran Islam. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman, “Faidzaa faraghta fanshab (Dan apabila engkau telah selesai dari suatu urusan maka hendaklah engkau segera bergegas menunaikan urusan yang lainnya).” (QS Al-Insyirah) Demikian pula Rasulullah saw pernah bersabda, “Ightanim khamsan qabla khamsin (manfaatkan yang lima sebelum datangnya lima yang lain): … faraaghaka qabla syughlika (waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu), hayaataka qabla mautika (waktu hidupmu sebelum datang kematianmu)…” Demikianlah Islam mencela kebiasaan suka menunda-nunda.

Apa yang biasanya suka ditunda-tunda? Jawabannya tentu saja bermacam-macam, tergantung siapa yang ditanya. Yang paling parah adalah sebagaimana yang biasa dinyatakan dalam Al-Qur’an, yaitu menunda-nunda amalan-amalan kebaikan sehingga datang kematian. Atau menunda-nunda taubat hingga datang kematian. Akibatnya tentu saja adalah penyesalan yang tiada tara dan tak berkesudahan di Hari Akhirat nanti.

Dalam keseharian kita, penyakit suka menunda-nunda ini juga sering terjadi dalam pekerjaan, agenda, dan tugas-tugas kita. Seorang mahasiswa biasanya paling suka menunda-nunda untuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen. Satu atau bahkan setengah jam menjelang deadline dikumpulkannya tugas tersebut, ia baru merasa ‘terdesak’ dan akhirnya mengambil jalan pintas: mencontek pekerjaan temannya. Itu kalau masih ‘nutut’ (bisa ngejar). Kalau nggak ya terpaksa lewat deh, nggak ngumpulin tugas. Juga menunda-nunda untuk belajar, lalu tiba-tiba datang UTS atau UAS. Nggak ada jalan lain deh kecuali SKS (Sistem Kebut Semalam).

Masalahnya seringkali kebiasaan ini masih terus berlanjut setelah lulus kuliah. Lalu sampai kapan kebiasaan ini akan terus berlanjut? Apakah sampai kita mati? Amit-amit deh…

Pertanyaannya sekarang, bagaimana cara mengatasi atau mengobati penyakit yang satu ini. Berikut ini barangkali beberapa kiat yang bisa dicoba.

Pertama, kuatkanlah kesadaran pada diri Anda bahwa menunda-nunda hanya akan merugikan dan menyengsarakan diri Anda sendiri. Akibat menunda-nunda, banyak peluang akan hilang. Demikian pula, kelak Anda akan dibebani dengan setumpuk pekerjaan yang akan membuat Anda susah sendiri.

Kedua, buatlah perencanaan kegiatan berupa ‘what-to-do list’, yang berisi daftar apa saja yang mesti Anda kerjakan dari hari ke hari. Beberapa agenda yang jauh-jauh hari sudah Anda ketahui seperti jadwal rapat, janjian dengan rekan bisnis, dan sebagainya, bisa Anda masukkan kedalam list jauh-jauh hari sebelumnya juga. Beberapa agenda yang datangnya tiba-tiba, katakanlah sehari sebelumnya atau bahkan kurang dari itu, bisa Anda masukkan seketika itu juga.

Mulailah dengan memasukkan kedalam list Anda agenda-agenda yang terpenting, lalu yang penting-penting, dan terakhir yang kurang penting. Lalu sebarlah pula agenda-agenda dalam hari-hari yang Anda miliki dalam sepekan atau sebulan berdasarkan tingkat urgensinya: dahulukan yang sangat mendesak, lalu yang mendesak, lalu yang kurang mendesak, dan terakhir yang tidak mendesak.

Dengan adanya list ini, harapannya setiap saat kita bisa mengontrol apa yang mesti kita kerjakan, sehingga tidak lagi merasa nggak ada kerjaan dan bertanya-tanya pada diri sendiri: apa ya yang mesti saya lakukan saat ini.

Ketiga, manage-lah rasa malas dan rasa jenuh Anda dengan baik. Bagaimanapun juga, biasanya ada saat-saat dimana kita merasa malas atau jenuh. Akibatnya, komitmen kita untuk mengeksekusi agenda-agenda serius yang ada dalam list menjadi lemah atau bahkan hilang sama sekali. Dalam keadaan seperti ini, apa yang mesti kita lakukan.

Anda mungkin punya banyak opsi untuk mengatasinya. Pertama-tama, paksakan diri Anda untuk tetap komitmen dengan list yang telah Anda buat. Meski Anda merasa nggak mood, paksakan saja. Biasanya, rasa nggak mood itu akan hilang begitu kita telah mulai. Namun jika Anda kesulitan untuk memaksakan diri Anda, Anda bisa mengambil agenda alternatif yang sekiranya Anda suka melakukannya ketika itu. Tentu saja agenda tersebut tidak asal. Anda bisa memajukan agenda Anda yang penting namun kurang mendesak. Meski dalam list sebuah agenda rencananya akan Anda laksanakan tiga hari yang akan datang, Anda bisa mengerjakannya saat ini (memajukannya) jika sekiranya Anda suka dan ingin melakukannya saat ini.

Itulah kira-kira tiga kiat mengatasi dan mencegah penyakit suka menunda-nunda pekerjaan. Anda punya kiat yang lain?

Komentar»

1. Hazuli - 11 November, 2008

Seringkali kita rasa malas dan jenuh yang lebih dominan. Sekalipun kita sudah memiliki agenda, tetap saja “mood” yang jadi patokan.

Menunda-nunda bener2 penyakit yang paling nyebelin.

2. Rika - 3 Desember, 2008

Menunda-nunda terkait dengan kemalasan… Dan sangat menyebalkan. Klo deadline udah tinggal sehari,baru kelabakan dech…
Menyia-nyiakan waktu..

3. roni saputra - 31 Mei, 2009

Memang benar sekali, penyakit malas ini termasuk penyakit yang melegenda… Akan tetapi saya juga sebagai seorang mahasiswa beragama islam ingin memberi saran bahwa jika kita ingin memulai suatu pekerjaan mulailah dengan membaca basmalah dan jadikanlah orangtuamu tersayang menjadi suatu motivasi terhebat di dunia yang fana ini. Sekian dan terima kasih… Wassalam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: