jump to navigation

Mendaki Gunung (Lagi) 8 Juli, 2008

Posted by abdurrosyid in Pokoknya Ada Saja.
Tags: , , , , , , ,
trackback

Kemarin selama tiga hari untuk keempat kalinya saya mendaki gunung. Sebelumnya, saya sudah tiga kali mendaki gunung. Gunung yang pertama kali saya daki adalah Gunung Penanggungan. Ketika itu saya melakukan pendakian dari Jolotundo, Mojokerto. Itu adalah debut pendakian saya yang mengesankan karena pendakian tersebut dilakukan tanpa penunjuk jalan. Ceritanya, pendakian akan dilakukan dari Pandaaan. Kami sudah menyiapkan seorang penunjuk jalan yang sudah pernah mendaki Penanggungan dari Pandaan. Eh, ternyata dalam perjalanan berangkat ada kesalahan teknis yang cukup fatal. Ada miskomunikasi dengan sopir kendaraan yang kami carter. Kami bukannya diturunkan di Pandaan, tetapi diturunkan di Jolotundo Mojokerto. Alhasil, penunjuk jalan yang sudah kami siapkan pun seolah-olah tidak berguna. Terpaksa akhirnya kami pun melakukan pendakian tanpa penunjuk jalan.

Waktu itu kami tiba di kaki gunung ba’da maghrib. Penjaga pos mengingatkan agar kami tidak jadi naik karena tidak ada penunjuk jalannya. Sesudah melakukan sholat jamak qashar magrib dan isya’, kami pun berdiskusi apakah akan tetap melakukan pendakian. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap mendaki, malam itu juga. Sebuah keputusan yang sangat berani! Mendaki gunung tanpa penunjuk jalan pada malam hari.

Kami pun mendaki dengan penuh optimis. Kami mendaki dan terus mendaki melewati lintasan-lintasan yang cukup mendebarkan. Berkali-kali kami mendapati jalan buntu, sesuatu yang mulai menyiratkan dugaan dalam pikiran kami bahwa kami sedang tersesat. Yang paling mendebarkan adalah jurang 90 derajat hanya setengah meter di sebelah kiri kami dan tebing 80 derajat persis di sebelah kanan kami. Kami pun berteriak,”Mepet kanan, jangan lihat ke kiri.” Anda yang pernah mendaki ke Penanggungan dari Jolotundo mungkin tidak pernah mendapati lintasan ini, karena lintasan ini memang bukan lintasan pendakian yang biasanya.

Setelah mendaki dan terus mendaki, akhirnya selepas tengah malam kami pun dipaksa beristirahat sejenak. Ketika itu, tidak ada komando untuk beristirahat lama disitu. Tetapi tanpa komando, semuanya langsung terlelap disitu, karena saking hebatnya rasa capek dan mengantuk. Tahu-tahu, kami sudah terbangun saat shubuh, dengan udara yang sangat dingin menusuk tulang-tulang kami. Begitu matahari pagi menerangi sekeliling, kami baru sadar bahwa kami telah tersesat. Kami telah mencapai puncak tetapi puncak yang lain, dan bukan puncak yang biasanya. Puncak yang kami capai memang bukan yang tertinggi, tetapi belakangan kami tahu bahwa perjalanan mendaki yang kami lewati jauh lebih sulit dan exhausting daripada pendakian dengan jalur yang benar. Jauh lebih sulit dan exhausting-nya saya rasa terutama dari segi mental, karena kami berkali-kali mendapati jalan buntu dan dihantui dengan perasaan telah tersesat, disamping juga lintasan-lintasanya yang sebagiannya jauh lebih mendebarkan daripada lintasan yang biasanya.

Merasa belum puas dengan pendakian ke Penanggungan yang berakhir tersesat tersebut, pada waktu yang lain pun saya melakukan pendakian untuk yang kedua kalinya, tetap ke Penanggungan. Namun kali ini kami ditemani oleh seorang penunjuk jalan. Dan sudah bisa diduga, kamipun sampai ke puncak Penanggungan. Yang paling mengesankan saya rasa adalah beberapa saat sebelum mencapai puncak, kami harus merangkak untuk bisa melewati jalur yang sangat terjal dan licin.

Pendakian saya yang ketiga adalah ke Arjuna, gunung tertinggi di Jawa Timur sesudah Semeru (katanya sih begitu). Waktu yang kami butuhkan molor dari yang kami rencanakan. Kami merencanakan mulai mendaki Sabtu ba’da maghrib dan bisa sampai kembali ke kaki gunung Ahad maghrib. Kenyataannya, kami baru bisa sampai kembali di kaki gunung Senin shubuh. Yang paling mengesankan, kami menuruni gunung persis setelah hujan melewati jalur tanah untuk gerobak belerang. Sudah begitu, kami semua kehabisan baterai senter di saat bulan sedang tidak nampak. Bisa dibayangkan bukan? Jalan yang sangat licin tanpa penerangan yang memadahi! Saya sendiri terjatuh, terpeleset, dan ‘kecekluk’ tidak kurang dari seratus kali. Perjalanan menuruni gunung tersebut benar-benar mengesankan, dimulai ba’da maghirb dan baru berakhir saat shubuh. Semalaman penuh!

Adapun pendakian saya yang keempat ya yang kemarin itu. Kami mendaki Gunung Wilis dari Roro Kuning di Nganjuk. Medannya terasa lebih alami karena tidak terlalu sering didaki, dibandingkan dengan Arjuna, Welirang atau Lawu. Kami mendaki dan menuruni gunung pada malam hari, dengan penerangan lampu-lampu senter kami. Siangnya, kami beristirahat. Karena keterbatasan waktu dan lain hal, kami mengakhiri pendakian di bahu gunung, tepatnya di Pos Watu Koco. Namun, itu sudah cukup tinggi, dan sudah merupakan areal Eidel Weis. Kami semua juga sudah merasa kelelahan.

Dengan demikian, sudah empat kali saya mendaki gunung. Sebetulnya sih lima kali jika  pendakian saya ke Van der Mann di Batu Malang diikutsertakan. Van der Mann adalah sebuah bukit, atau kalau mau sebutlah ia sebuah gunung kecil. Akankah saya mendaki lagi pada waktu yang akan datang?

Komentar»

1. Sedna - 28 Juli, 2008

wahh. . sepertinya mas Rosyid sudah sering mendaki ya? kalau boleh saya mau minta tolong. apa sich mendaki itu? trus persiapannya apa aja? maaf kalau merepotkan mas Rosyid. saya belum pernah mendaki sama sekali.

2. fuadhanif - 30 Juli, 2008

Gunung wilis! Hebat2! Saya beberapa kali ada rencana munggah gunung, cuma blum kesampean. Rencananya agustus mau munggah di penanggungan ma anak2. Kalo mas rosyid mau munggah bisa donk ajak2 saya! Okay thanks.

3. abdurrosyid - 1 Agustus, 2008

For Sedna: Kalau belum pernah mendaki sama sekali, ajak teman yang udah pernah saja jika mau mendaki.
For fuadhanif: Saya pinginnya kapan-kapan bisa naik Gunung Lawu tembus: maksudnya naik dari Jatim turun ke Jateng, atau sebaliknya. Seru kan…

4. Nurul - 16 September, 2008

assalamualaikum
mz saya mau ke wilis nih, belum pernah, bisa kasih info jalur pendakian ga? makasih ya mz
wassalam

5. Faris - 7 Januari, 2009

Mas… nasib sampean kok sama dengan saya!!! pengalaman pertama saya juga di penggungan dan jg miscomunikasi ma sopir waktu perjalanan k penaggungan!!!! Tpi akhirnya saya smpe punck bareng ma penunjuk jalannya!!!

6. junedz panzer biru - 8 Januari, 2009

aq pengen banget ke wilis n penanggungan……kalau ke panderman aq beberapa kali…kalau sabtu biasanya aq ke panderman bukan van der mann…ke arjuna pernah tapi hanya sampai tengah ja…

7. Deni - 31 Mei, 2009

Assalamualaykum Mas Rosyid. Apa kabar? Salam kenal dari saya. Ada rencana mau naik gunung lagi? Ke Semeru mungkin? Mudah2an bisa bareng….. Wassalam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: