jump to navigation

Ingin Hidup Enak? Manfaatkan Waktu Luang! 2 April, 2008

Posted by abdurrosyid in Pokoknya Ada Saja.
Tags: , , , , , , , , , , , ,
trackback

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,”Ada dua nikmat yang sering disia-siakan: waktu luang dan kesehatan.” Pada kesempatan yang lain, beliau juga pernah berpesan,”Ambillah yang lima sebelum datang lima yang lainnya:…waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu.”

Dua penggal sabda Rasulullah diatas secara tegas memerintahkan kita untuk pandai memanfaatkan waktu luang. Setiap manusia memiliki waktu yang sama: 7 hari dalam satu pekan, 24 jam dalam sehari semalam. Kepandaian setiap orang dalam memanfaatkan jatah waktu yang sama itulah yang akan membedakannya dari orang lain.

Ada orang yang dengan 24 jam-nya mampu melakukan 100 kebaikan, sementara ada pula orang yang dengan 24-jamnya hanya mampu melakukan 10 kebaikan. Ada orang-orang yang dalam kesehariannya memiliki produktivitas sampai 100%, dan ada pula orang-orang yang dalam kesehariannya hanya mampu memiliki produktivitas tidak lebih dari 10%. Mengapa bisa demikian? Saya rasa, jawabannya adalah pemanfaatan waktu. Siapa yang paling pandai memanfaatkan waktunya, dialah yang akan memiliki produktivitas paling tinggi.

Nah, diantara kepiawaian memanfaatkan waktu adalah kepandaian dalam memanfaatkan waktu luang. Setiap kita pasti punya waktu luang. Waktu luang itu bisa jadi berupa waktu yang betul-betul luang: tidak ada agenda yang kita miliki ketika itu. Bisa jadi pula waktu luang itu adalah alokasi waktu yang terlalu banyak untuk suatu hal seperti tidur dan bersantai-santai.

 

Buatlah Perencaanaan

Mengapa ada orang yang bisa sampai merasa tidak punya agenda pada suatu waktu? Mengapa ada orang yang suatu ketika jadi bertanya pada dirinya sendiri: ”Mau ngapain ya saya saat ini?” atau ”Enaknya ngapain ya saat ini?” Saya rasa sebabnya adalah karena yang bersangkutan kurang bagus dalam perencanaan. Seandainya dia me-list segala hal yang semestinya dia lakukan, kemudian mengurutkannya berdasarkan prioritas, saya yakin alokasi waktu yang ada tidak akan cukup menampung semua hal yang telah ia list tadi. Ini artinya mau tidak mau ia harus memangkas beberapa hal yang berada pada urutan paling bawah, yang bisa jadi masih bisa dilakukan pada kesempatan yang lain. Kenyataan seperti ini digambarkan oleh seorang pejuang besar abad ini yang bernama Hasan Al-Banna ketika ia berkata,”Kewajiban-kewajiban kita sesungguhnya lebih banyak daripada waktu yang kita miliki.”

Melihat kenyataan ini, jika ada orang yang pada suatu kesempatan masih sempat merasa bahwa ia tidak punya agenda maka sudah pasti permasalahannya adalah ketidakmampuannya dalam perencanaan agenda. Untuk menyiasati hal ini, sangatlah baik jika setiap orang menyempatkan beberapa saat dari waktunya untuk membuat perencaaan aktivitas. Bila perlu, catatlah diatas kertas perencanaan aktivitas tersebut secara detail. Cara ini cukup handal dalam rangka me-manage diri kita untuk bisa optimal dalam pemanfaatan waktu.

 

Tinggalkan Hal-hal yang Tidak Jelas Manfaatnya

Ada lagi fenomena lain dari ketidakmampuan seseorang memanfaatkan waktu. Saya sering melihat orang-orang yang menghabiskan sekian lama dari waktunya untuk hal-hal yang tidak jelas manfaatnya. Contohnya: ngobrol kesana-kemari sambil leyeh-leyeh, tidur terlalu banyak, berjam-jam main game, berjam-jam nonton televisi, dan sebagainya. Saya rasa hal-hal seperti ini sangat sering merupakan penyebab habisnya waktu yang kita miliki, tanpa kita sadari. Saya tidak jarang menemui orang-orang yang mengeluh,”Waduh, saya tidak punya waktu nih.” Sementara, ia masih sempat untuk ngobrol dengan temannya ngalor ngidul tidak jelas ujung pangkalnya, masih sempat tidur-tiduran, atau tidur beneran tapi terlalu banyak, dan masih sempat melakukan berbagai hal yang tidak jelas manfaatnya.

 

Lakukan Semuanya dengan Efisien

Ada lagi orang-orang yang kehilangan waktunya karena ia terlalu boros dalam penggunaan waktu. Yang saya maksud dengan boros disini adalah tidak efisien. Contohnya, menghabiskan waktu empat jam untuk sebuah rapat yang semestinya bisa dilakukan selama satu jam. Rapatnya menjadi berlarut-larut karena masing-masing berangkat menuju rapat dengan pikiran kosong, atau karena metode pembahasannya terlalu bertele-tele dan tidak efisien, atau karena terlalu banyak canda dan tawa didalamnya, atau terlalu banyak debat dan usulan-usulan yang tidak perlu, atau karena sebab-sebab inefisiensi lainnya. Terus terang, saya termasuk orang yang tidak sabaran dengan hal-hal seperti ini.

 

Jam Karet: Sindrom Akut Bangsa Ini

Ada lagi satu hal yang sangat sering membuat dada saya jadi sesak: jam karet. Saya tidak habis pikir, mengapa penyakit yang satu ini seolah-olah sangat sulit untuk disembuhkan, sudah sangat akut barangkali. Diundang acara jam 8.00, datangnya jam 8.30 atau bahkan jam 9.00. Dan anehnya, semua orang seolah-olah sudah memaklumi hal ini. Tragis sekali! Ada lagi yang bahkan membuat trik yang menggelikan, menjijikkan, dan menzhalimi. Ia buat undangannya jam 7.30 untuk acara yang ia tahu baru akan dilaksanakan jam 8.00. Ia berpikir bahwa orang-orang akan terlambat 30 menit, sehingga undangannya harus dibuat 30 menit lebih awal. Ini adalah sebuah permakluman yang menjijikkan. Ini adalah sebuah apologi yang memalukan. Tidakkah terlintas dalam pikiran bagaimana dengan orang-orang yang disiplin dan tepat waktu? Ketika orang-orang ini benar-benar datang 7.30, bukankah ia sudah harus siap dirugikan dan dizhalimi selama 30 menit? Saya selalu mencatat dengan seksama, bahwa sebuah keterlambatan dalam acara bersama pasti merupakan kezhaliman terhadap yang datang tepat waktu. Betapa tidak, orang-orang yang tepat waktu harus kehilangan waktunya hanya karena masih ada yang datang terlambat. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita menghabisi penyakit akut jam karet ini? Cara yang paling baik tentu saja menumbuhkan kesadaran akan pentingnya tepat waktu pada benak setiap orang. Namun jika cara ini tidak berhasil juga, saya rasa kita harus bertindak kejam, misalnya dengan membuat punishment.

 

Hargailah Setiap Detik Waktu yang Kau Miliki

Saya tidak suka mengantre selama tujuh menit, sepuluh menit, dua puluh menit, atau bahkan lebih dari itu, hanya untuk membeli makanan di sebuah warung makanan, sementara masih ada warung makanan lain yang tidak perlu antre. Saya selalu merasa diperbudak oleh perut jika saya melakukan hal itu.

Namun saya tidak jarang menyaksikan ada orang-orang yang rela antre dalam waktu yang tidak sebentar hanya untuk mendapatkan sepiring atau sebungkus nasi, padahal masih ada warung makanan lain yang tidak perlu antre dan harga nasinya pun tidak berbeda jauh. Mungkin orang-orang itu amat peduli soal rasa, sehingga rela mengantre sebegitu lama untuk makanan idamannya. Namun bagi saya, itu ongkos yang terlalu besar untuk dibayar. Bagi saya, lebih baik pergi ke warung yang tidak perlu antre sepanjang makanan yang disediakan higienis, sehat, bergizi, dan harganya wajar. Ini mungkin hal sepele, namun ini saya rasa adalah cerminan dari sebuah mentalitas: sejauh apa kita menghargai waktu.

 

Jangan Menunda-nunda Pekerjaan

Ketidakpandaian memanfaatkan waktu luang pada dasarnya adalah bom waktu. Jika seseorang tidak bisa memanfaatkan waktu-waktu luangnya untuk menyelesaikan kewajiban-kewajibannya, maka ia harus bersiap-siap menemui suatu waktu dimana kewajiban-kewajiban itu akan bertumpuk dan menindih tubuhnya. Ketika itu ia dipaksa harus menyelesaikan semuanya, banyak sekali, sementara waktu yang ia miliki sangat terbatas. Ketika itulah biasanya ia baru sadar mengapa ia tidak menunaikan kewajiban-kewajiban itu pada waktu-waktu luang yang sebelumnya ia miliki. Ketika itulah ia akan menyesal mengapa ia suka menunda-nunda segala sesuatu atau mengapa ia tidak mampu merencanakan segala sesuatunya dengan lebih baik. Kesimpulannya: tidak memanfaatkan waktu luang berarti menyengsarakan diri sendiri, dan memanfaatkan waktu luang berarti membuat enak diri kita sendiri. Jika begini, masihkah kita suka menyia-nyiakan waktu kita? Masihkah kita suka menunda-nunda segala sesuatu?

Komentar»

1. harun - 29 April, 2008

artikel nya bagus sekali.terimakasih.saya orang yang perfeksionis. ingin melakukan banyak hal untuk masa depan saya.tapi rasanya waktu begitu sempit.ingin rasanya melakukan itu semua.tapi saya lelah sekali

2. eli - 12 Mei, 2008

saya merasa jadi orang yang ingin memanfaatkan waktu dg maksimal,,ya seperti yang tertulis di atas, tapi…, kadang rasa malas mengalahkannya!! sEDIH RASAnya…,,

3. abdurrosyid - 31 Mei, 2008

For Harun:
Keinginan Anda bagus sekali tuh. Tapi memang, seringkali waktu yang kita miliki tidak sebanyak semua keinginan kita. So, kita mesti menyusun skala prioritas. Soal lelah, saya rasa kita mesti kreatif untuk merancang hal-hal yang menyegarkan dalam hidup ini. Asalkan halal, dan sebisa mungkin tetap memberikan banyak manfaat. Sukses selalu insyaallah.
For Eli:
Then, kita harus sering-sering menguatkan motivasi kita setiap saat, dan berusaha dengan kuat untuk memerangi rasa malas. Pasti bisa insyaallah…

4. slamet wibowo - 29 September, 2008

apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, hari inilah taruhannya.

5. sri a madjid - 2 Februari, 2010

so setuju bgt,karena wkt adalah pedang yang akan memotong urat lhr qt

6. Dias - 25 April, 2010

Smgt trus

7. walceon - 16 Mei, 2010

deh………..aku termasuk orang yang menyia2kan waktu ni.pasalnya ku tak tau apa yang harus aku lakuin di jam-jam kosong.dan hanya berkliaran kesana kemari tanpa jelas arah tujuan.sebenernya itu aku lakuin ingin merubah ingin mendapatkan sesuatu yang baru tapi malah keboboran waktu.uang.ama gak dapet apa2.so kadang aku juga sering bahkan suka nunda2 kerjaan .smua hal yang ud aku rencanain jadi keboboran dan kadang gak kesampean karna terlalu banyak waktu yang saya buang buat sesuatu yang gak jelas

8. apip64 - 28 Mei, 2011

semoga manfaat ilmunya……… makasih

9. tutuko - 22 September, 2014

benar sekali waktu sangat berharga, waktu itu melebihi dari uang,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: