jump to navigation

Semoga Allah Mengampuni dan Mengasihimu 22 Mei, 2007

Posted by abdurrosyid in Ibuku Penyayang & Ayahku Penyabar.
Tags: , , ,
trackback

Masih teringat dalam ingatanku, setiap kali aku pulang ke kampungku. Bertemu dengan dua orang yang sangat aku sayangi dengan segenap hatiku, ibu dan bapakku. Kulihat pada diri bapakku semangat yang tak pernah padam untuk menafkahi keluarga. Meski beliau sudah sepuh dan tulang-tulangnya tidak lagi kuat, akan tetapi beliau tidak pernah mengenal rasa letih untuk terus bekerja menggarap sawah dan memelihara beberapa ekor ternak.

Adapun ibuku. Kulihat rambutnya. Semuanya sudah memutih. Paling-paling hanya ada beberapa saja yang masih hitam setengah putih. Padahal, beberapa saat yang lalu, uban beliau belum sebanyak itu. Ketika itu hatiku menjadi syahdu. Aku ingin merendahkan diriku di hadapannya. Aku ingin memberikan sejuta ungkapan sayang dan kelembutan kepada beliau. Tapi aku tak kuasa mengungkapkan semuanya. Aku hanya bisa mengungkapkannya dalam kelembutan kata-kataku setiap kali aku bercakap-cakap dan bercengkerama dengan beliau.

Aku ingat. Bagaimana beliau menghampiriku lalu duduk disampingku ataupun di hadapanku. Kemudian beliau sampaikan kepadaku berbagai macam nasihat. Rasanya, itulah hal terpenting yang selalu beliau lakukan setiap kali aku pulang kampung. “Nak, ojo pisan-pisan njaluk karo prewangan”. Begitu beliau senantiasa berpesan kepadaku dan juga kepada saudara-saudaraku untuk tidak sekali-kali minta tolong kepada syetan. Maklum, di kampungku banyak yang merantau untuk berjualan kaki lima, yang biasanya sering meminta plarisan kepada bangsa jin. “Nak, nek morak-marik ojo lali nggawa banyu ngombe, cik ora kurang ngombe. Engko nek kurang ngombe gampang lara”. Begitu beliau berpesan kepadaku untuk banyak minum air putih sehingga tidak mudah jatuh sakit. Aku tidak bisa mengingat secara persis semua yang beliau katakan kepadaku. Akan tetapi, aku mengingat dengan jelas bahwa beliau pasti menyempatkan untuk memberiku wejangan dan pesan-pesan setiap kali aku pulang kampung.

Disamping memberikan wejangan-wejangan, beliau juga sering curhat kepadaku. Maklum, aku dan juga saudara-saudaraku semuanya merantau diluar kota. Beliau hanya berdua dengan bapak. Sementara pendengaran bapak agak terganggu semenjak beliau memasuki masa tuanya, sehingga tidak bisa banyak diajak bicara. Aku senantiasa mendengarkan dengan seksama apa saja yang beliau ungkapkan. Sesekali aku hanya bisa bilang kepada beliau, “Sabar ya Bu”.

Pada saat-saat yang lain, aku melihat bagaimana beliau pontang-panting menemui beberapa tetangga untuk mendapatkan pinjaman uang, membujuk mereka satu demi satu, ketika aku pulang kampung karena SPP masih kurang atau karena uang perbekalanku sudah habis. Rasanya itu terus terjadi sampai aku memasuki masa-masa terakhir kuliahku, dimana aku sudah bisa menutupi sendiri kebutuhan-kebutuhanku.

Setiap kali aku pulang kampung, beliau pasti menyiapkan menu kesukaanku, nasi berlauk ikan gabus, dengan bumbu yang khas buatan beliau. Rasanya, saya tidak pernah bisa mendapatkan masakan seperti itu kecuali dari ibu, yakni ketika aku sedang pulang kampung. Beliau juga tidak jarang memasak atau membelikan untukku berbagai macam makanan, terutama jika mendapatiku pulang dalam keadaan yang lebih kurus daripada biasanya. Maklum di kota rantauan aku tidak bisa bebas membeli berbagai macam makanan, karena keuangan yang terbatas.

Ibuku adalah sosok yang sangat berharap kepada Allah. Meski wawasan keagamaan beliau tidak tinggi karena memang tidak pernah bisa merasakan sekolah, akan tetapi tawakkalnya kepada Allah amat luar biasa. Suatu malam, beliau melakukan sholat tahajjud. Kebetulan aku juga ada disamping beliau, di ruangan sholat rumahku. Aku mendengar bagaimana beliau berdoa dengan penuh kerendahan dan ketulusan. Rasanya baru kali itu aku pernah mendengar seseorang berdoa dengan amat merendah, amat berharap dan amat tulus. Diantara doa yang beliau panjatkan adalah doa meminta ampun, doa untuk kedua orangtua beliau dan doa untuk kebaikan anak-anaknya.

Kini, sosok yang amat kusayangi itu telah tiada. Ia telah kembali keharibaan Allah Yang Maha Kuasa. Sakit yang hanya satu pekan dan datang secara tiba-tiba serta tidak pernah disangka telah mengantarkan beliau keharibaan Tuhan yang amat diyakininya. Terakhir kali aku melihat wajah beliau adalah ketika aku menyingkap kain kafan pada wajah beliau. Kulihat senyum berseri penuh kebahagiaan tergores di wajahnya yang bersih. Semoga itu adalah pertanda yang diberikan oleh Allah kepadaku. Semoga Allah menempatkannya di ‘Illiyyin bersama para hamba-Nya yang Ia ridhai. Ibuku yang kucintai, semoga Allah mengampuni dan mengasihimu, sebagaimana engkau telah mengasihi dan mengasuhku di masa hidupmu. Amin.

Komentar»

1. zaini anwar - 13 Juli, 2009

Trims, memberiku pelajaran.

2. Nuraini - 10 Desember, 2009

semua pasti akan berpulang kepada-Nya.
dan Allah telah menitipkan kisah yg bagiku sempurna untukmu.
aq juga berada di perantauan, menghidupi diri sendiri dan memberikan sebagian besar penghasilanku pada ibuku terkasih.
di dalam perantauanku juga aku berharap bisa menemui ayahku yg telah lama pergi sejak umurku 6th.
dan ketika aq mengetahui keberadaan beliau aq hanya bisa mendapati gundukan tanah yg mulai mengering dan batu nisan yg terukir namanya.
mungkin aq tak bisa menuliskan kenangan dengan keluargaku seperti anda dan merasakan indahnya kebersamaan seperti cerita anda diatas.
tapi setidaknya cerita itu bisa memberiku kerinduan pada ibuku tercinta dan semakin menghargai keberadaan beliau.
trmksh.

3. Ridho Andika Putra - 3 April, 2010

Jujur ingin menangis aku membacanya, tapi aku tahan, karena sedang berada di kantor bersama rekan kerja ku,

Alhamdulillah aku masih punya Ibu, walaupun Ibuku mengalami gagal ginjal, alhamdulillah Beliau masih bisa bersenda gurau dengan ku, menampakkan keceriaan bersama keluarga,

“I LOVE YOU MOM”

4. titi - 14 Juni, 2010

setiap aku mendengar kata ibu hatiku langsung tersentuh..ibu betapa aku mencintaimu…doakan aku untuk selalu dapat berbakti padamu ibu…kasihmu seluas samudra yang tak mampu untuk aku arungi sepenuhnya…sukron…

5. ismail - 11 Oktober, 2010

jadi pingin nangis ..!!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: