<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Abdur Rosyid's Blog</title>
	<atom:link href="http://abdurrosyid.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abdurrosyid.wordpress.com</link>
	<description>Maju Terus, Tak Kenal Mundur</description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Nov 2009 16:48:25 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='abdurrosyid.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/417fe359916cb8dd0c6a127bf40e5898?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Abdur Rosyid's Blog</title>
		<link>http://abdurrosyid.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Rahang, Bekam, dan Akupunktur</title>
		<link>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/11/05/rahang-bekam-dan-akupunktur/</link>
		<comments>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/11/05/rahang-bekam-dan-akupunktur/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 16:39:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdurrosyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejauh Aku Melangkah]]></category>
		<category><![CDATA[akupunktur]]></category>
		<category><![CDATA[bantal panas]]></category>
		<category><![CDATA[bekam]]></category>
		<category><![CDATA[hijamah]]></category>
		<category><![CDATA[rahang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/11/05/rahang-bekam-dan-akupunktur/</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah kelanjutan mengenai kisah saya berjuang memulihkan cedera rahang saya. Ini adalah tulisan yang ketiga. Ini dia tulisan sebelumnya, tulisan yang kedua.
Bulan Oktober telah lewat, dan kini sudah awal Nopember. Langkah terbaru yang saya ambil dalam rangka mencari sarana agar Allah memberikan kesembuhan adalah dengan berbekam (hijamah) dan akupunktur. Keduanya tidak saya lakukan secara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdurrosyid.wordpress.com&blog=922583&post=695&subd=abdurrosyid&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ini adalah kelanjutan mengenai kisah saya berjuang memulihkan cedera rahang saya. Ini adalah tulisan yang ketiga. Ini dia tulisan sebelumnya, <a href="http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/10/03/sekarang-take-it-easy-dan-tetap-berusaha/">tulisan yang kedua</a>.</p>
<p>Bulan Oktober telah lewat, dan kini sudah awal Nopember. Langkah terbaru yang saya ambil dalam rangka mencari sarana agar Allah memberikan kesembuhan adalah dengan berbekam (hijamah) dan akupunktur. Keduanya tidak saya lakukan secara bersamaan. Hijamah terlebih dahulu. Dua pekan kemudian baru akupunktur.</p>
<p>Saya dibekam pada dua titik. Satu di punggung bagian atas, dan satunya lagi di atas kepala saya. Saya pun harus bercukur gundul menjelang bekam karena salah satu titik yang akan dibekam adalah kepala saya. Sekalian biar rambut saya berganti dengan yang baru.</p>
<p>Adapun akupunktur dilakukan pada beberapa titik di telinga kanan saya, juga tepat di TMJ saya, dan di pipi bawah saya. Sehabis penusukan, jarum-jarum dibiarkan pada posisinya selama 30 menit. Kemudian, saya di-massage pada bagian pundak, leher, dan kepala saya. Setelah itu baru kemudian jarum-jarum akupunkturnya dilepas. Alhamdulillah, lega sekali rasanya sesudah itu.<span id="more-695"></span></p>
<p>Karena yang membekam adalah sahabat saya sendiri, dia tidak mau saya kasih infaq. Demikian pula akupunktur, saya cuma diminta membayar sepuluh ribu rupiah untuk mengganti jarumnya. Jazahumullah khairan katsiran.</p>
<p>Disamping itu, saya juga disarankan untuk memakai bantal panas. Ketika tidur, saya diminta untuk meletakkan pipi saya yang cedera pada bantal panas tersebut. Alhamdulillah saya sudah memesannya. Dan insyaallah besok bisa saya ambil.</p>
<p>Saya juga diingatkan bahwa kesembuhan hanyalah datang dari Allah. Obat-obatan dan terapi hanyalah sarana semata. Memang benar, Asy-Syaafii ’Yang Maha Menyembuhkan’ hanyalah Allah Ta’ala. Allahummasyfinii syifaa-an laa yughadiru saqamaa. Innaka Anta Asy-Syaafii. Laa syifaa-a illa syifaauka.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdurrosyid.wordpress.com/695/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdurrosyid.wordpress.com/695/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdurrosyid.wordpress.com/695/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdurrosyid.wordpress.com/695/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdurrosyid.wordpress.com/695/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdurrosyid.wordpress.com/695/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdurrosyid.wordpress.com/695/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdurrosyid.wordpress.com/695/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdurrosyid.wordpress.com/695/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdurrosyid.wordpress.com/695/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdurrosyid.wordpress.com&blog=922583&post=695&subd=abdurrosyid&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/11/05/rahang-bekam-dan-akupunktur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a07d41286b9f4df5cb40314dff114a89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rosyid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Be Happy, Come On&#8230;</title>
		<link>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/10/04/be-happy-come-on/</link>
		<comments>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/10/04/be-happy-come-on/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 08:22:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdurrosyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Esai-esai Kehidupan]]></category>
		<category><![CDATA[gembira]]></category>
		<category><![CDATA[takdir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdurrosyid.wordpress.com/?p=690</guid>
		<description><![CDATA[Sepanjang engkau bisa gembira, maka bergembiralah. Bahkan, berusahalah selalu untuk bisa gembira. Memiliki pemahaman bahwa gembira itu kurang utama atau bahkan dosa, jelas adalah sebuah kesalahan. Allah Ta&#8217;ala sendiri berkali-kali menyatakan bahwa orang-orang yang beriman itu tidak pernah takut dan tidak pernah bersedih hati. Takut artinya gelisah tentang masa depan, sedangkan sedih adalah gelisah atas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdurrosyid.wordpress.com&blog=922583&post=690&subd=abdurrosyid&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sepanjang engkau bisa gembira, maka bergembiralah. Bahkan, berusahalah selalu untuk bisa gembira. Memiliki pemahaman bahwa gembira itu kurang utama atau bahkan dosa, jelas adalah sebuah kesalahan. Allah Ta&#8217;ala sendiri berkali-kali menyatakan bahwa orang-orang yang beriman itu tidak pernah takut dan tidak pernah bersedih hati. Takut artinya gelisah tentang masa depan, sedangkan sedih adalah gelisah atas sesuatu yang telah berlalu.</p>
<p>Berusahalah untuk selalu gembira, karena hal tersebut adalah perjuangan. Maksudnya, berusaha untuk selalu bergembira jelas bukan perkara yang mudah, karena hal-hal yang tidak kita sukai selalu saja kita alami dari waktu ke waktu. Dan sudah tentu, hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut berpotensi membuat kita bersedih. Nah, tantangannya adalah bagaimana agar Anda tetap bisa bergembira meskipun hal-hal yang tidak menyenangkan menimpa diri Anda.</p>
<p>Untuk bisa selalu gembira, Anda harus selalu bisa menerima hal-hal pahit yang Anda alami. Anda harus bisa memandang hal-hal tersebut sebagai takdir (ketentuan) Allah yang tidak mungkin dielakkan, seraya memandang ke depan secara optimis. Jangan pernah berpikir: &#8220;Seandainya saja hal itu tidak terjadi.&#8221; Jangan pernah bergumam: &#8220;Seandainya saja&#8230;&#8221; karena hal tersebut adalah pintu syetan yang akan merusak keimanan dan keyakinan Anda pada takdir Allah.<span id="more-690"></span></p>
<p>Anda harus selalu optimis memandang ke depan. Jangan pernah bersedih atas hal-hal buruk yang telah terjadi. Jadikanlah segala yang telah lewat sebagai pengalaman dan i&#8217;tibar &#8216;pelajaran untuk diri Anda&#8217;, dan selebihnya lupakan semuanya. Ibrah yang telah Anda dapatkan dari segala yang telah terjadi harus menjadikan Anda sebagai orang yang lebih matang, yang tidak akan terjatuh pada kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Ingat-ingatlah selalu segala ibrah yang telah Anda dapatkan. Selebihnya, selalu tatap ke depan, dan jangan pernah menoleh ke belakang. Jangan pernah bergumam atau berkata: &#8220;Seandainya saja&#8230;&#8221;.</p>
<p>Yang saya maksud dengan gembira disini adalah kegembiraan apa saja yang bisa Anda rasakan, sepanjang tetap berada dalam bingkai agama. Kegembiraan yang saya maksudkan bukanlah kegembiraan yang diraih dengan cara-cara yang melanggar aturan agama. Bergembiralah, sepanjang tidak keluar dari aturan agama. Jangan pernah bersedih. Laa tahzan.</p>
<p>Allah telah menyediakan berbagai macam kenikmatan di dunia ini, maka nikmatilah seraya bersyukur. Sesungguhnya Allah menyukai bekas nikmat-Nya pada hamba-hamba-Nya yang bersyukur. Nikmatilah segala pemberian Allah, sepanjang Anda bisa bersyukur.</p>
<p>Tetapi ingat, Allah tidak hanya memberikan kenikmatan. Dia juga menguji kita dengan hal-hal yang tidak menyenangkan. Itulah musibah. Menghadapi musibah, jadilah orang-orang yang sabar dan tegar. Jangan pernah berburuk sangka kepada Allah ketika Anda ditimpa musibah. Yakinilah bahwa Allah pasti memberikan yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya yang beriman. Dengan meyakini hal tersebut, Anda akan selalu bisa bergembira, optimis, berpikir positif, dan bersikap positif, baik ketika mendapatkan kenikmatan ataupun ketika ditimpa hal-hal yang tidak menyenangkan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdurrosyid.wordpress.com/690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdurrosyid.wordpress.com/690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdurrosyid.wordpress.com/690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdurrosyid.wordpress.com/690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdurrosyid.wordpress.com/690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdurrosyid.wordpress.com/690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdurrosyid.wordpress.com/690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdurrosyid.wordpress.com/690/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdurrosyid.wordpress.com/690/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdurrosyid.wordpress.com/690/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdurrosyid.wordpress.com&blog=922583&post=690&subd=abdurrosyid&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/10/04/be-happy-come-on/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a07d41286b9f4df5cb40314dff114a89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rosyid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekarang, Take It Easy tapi Tetap Berusaha</title>
		<link>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/10/03/sekarang-take-it-easy-dan-tetap-berusaha/</link>
		<comments>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/10/03/sekarang-take-it-easy-dan-tetap-berusaha/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Oct 2009 11:40:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdurrosyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejauh Aku Melangkah]]></category>
		<category><![CDATA[bunyi]]></category>
		<category><![CDATA[cedera]]></category>
		<category><![CDATA[klik]]></category>
		<category><![CDATA[rahang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdurrosyid.wordpress.com/?p=682</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah kelanjutan dari cerita saya sebelumnya, mengenai bunyi klik yang kadang muncul pada rahang kanan saya ketika dibuka terlalu lebar. Setelah berusaha mengistirahatkan rahang saya dari pembukaan yang terlalu lebar, plus kompres dan krim glucosamine, saya melihat progresnya jalan di tempat saja &#8211; atau barangkali membaik tapi sangat perlahan-lahan. Yang jelas, walhamdulillah, tidak memburuk.
Kemarin, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdurrosyid.wordpress.com&blog=922583&post=682&subd=abdurrosyid&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ini adalah kelanjutan dari <a href="http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/09/02/alhamdulillah-hanya-cedera-ringan/">cerita saya sebelumnya</a>, mengenai bunyi klik yang kadang muncul pada rahang kanan saya ketika dibuka terlalu lebar. Setelah berusaha mengistirahatkan rahang saya dari pembukaan yang terlalu lebar, plus kompres dan krim glucosamine, saya melihat progresnya jalan di tempat saja &#8211; atau barangkali membaik tapi sangat perlahan-lahan. Yang jelas, walhamdulillah, tidak memburuk.</p>
<p>Kemarin, dokter spesialis bedah plastik yang menangani saya bilang kalau beliau angkat tangan. Artinya, menurut beliau, tidak ada lagi alternatif solusi lainnya. Bahkan operasi pun, kata beliau, tidak menjamin akan membuat segalanya lebih baik. Bisa-bisa, malah bikin keadaan jadi lebih buruk. Karena itu, pesan beliau hanya satu: &#8220;Tunggu saja (sampai hilang sendiri).&#8221; Saya pikir-pikir, bener juga tuh.</p>
<p>Selama beberapa hari ini saya agak stres karena progres yang amat super lambat (dasarnya, saya ini memang nggak sabaran kalau harus menunggu). Sebetulnya sih yang saya alami ini bisa dikatakan tidak mengganggu. Tidak ada rasa sakit atau nyeri. Tidak ada sakit kepala. Rahang juga tetap bisa dibuka dan ditutup dengan normal. Tidak ada ketidaknyamanan. Semuanya nyaman-nyaman saja. Pas bicara normail-normal saja. Pas makan juga normal-normal. Kecuali satu hal, kadangkala kalau dibuka terlalu lebar atau makan sesuatu yang terlalu kenyal atau terlalu keras, muncul bunyi klik. tapi itupun tidak keras. Pelan sekali. Pernah seseorang disamping saya kuminta mendengarkan, ternyata dia nggak dengar bunyi klik tersebut. Adapun mengapa saya mendengarnya lumayan jelas &#8211; dan seringkali saya sendiri juga mendengarnya sangat pelan atau hampir tak berbunyi &#8211; adalah karena posisi sendi rahang itu persis di sebelah telinga. Maklum saja.<span id="more-682"></span></p>
<p>Dari kenyataan ini, sebetulnya saya tidak punya alasan untuk merasa stres. karena itu, sekarang saya sadar bahwa saya nggak boleh mikirin masalah ini lagi. Jika tidak, saya bisa stres sendiri, sementara hal tersebut juga tidak akan memberikan pengaruh atau perubahan positif. Betul kan? Malah-malah, bisa memberikan efek negatif, baik pada masalah itu sendiri ataupun merembet pada masalah yang lainnya.</p>
<p>Jadi, semenjak sekarang, saya nggak boleh lagi mikirin masalah ini. Take it easy. Santai saja, yang penting semuanya tetap nyaman-nyaman saja dan &#8220;going well&#8221;. Ya, abaikan dan lupakan saja. Sebab justru dari banyak kasus yang saya baca, setelah dilupakan sekian lama, tanpa sadar masalah tersebut hilang sendiri. Inilah yang akan saya lakukan. Kalau memang kondisinya memburuk, kan ketahuan.</p>
<p>Tapi bukan berarti saya abai begitu saja. Saya insyaallah akan tetap melakukan hal-hal yang diyakini bisa memberikan pengaruh positif, atau mempercepat hilangnya masalah tersebut. Apaan tuh.</p>
<p>Nih dia. Yang pertama, nggak usah secara iseng membuka mulut terlalu lebar. Tapi pada saat yang diperlukan, membuka mulut lebar juga bukan tabu. Toh, insyaallah tidak akan memperburuk keadaan &#8211; wong dasarnya cedera saya ini insyaallah sangat ringan kok. Paling-paling memperlambat saja. Nggak apa-apa lah, toh saya juga tidak mematok kapan masalah ini harus hilang sama sekali.</p>
<p>Yang kedua, saya akan berusaha menghindari makanan yang terlalu keras, terlalu kenyal, atau makanan yang mengharuskan saya buka mulut terlalu lebar. Tentu saja sejauh yang saya mampu. Kalau sekali dua kali dilanggar juga nggak apa-apa lah. Alasannya sama: &#8220;Insyaallah tidak akan memperburuk keadaan &#8211; wong dasarnya cedera saya ini insyaallah sangat ringan kok. Paling-paling memperlambat saja. Nggak apa-apa lah, toh saya juga tidak mematok kapan masalah ini harus hilang sama sekali.&#8221;</p>
<p>Yang ketiga, tetap berusaha istiqomah melakukan kompres &#8211; baik kompres dingin ataupun kompres panas. Kalau sekali dua kali kelewatan ya nggak apa-apa lah. Yang penting kan secara umum tetap teratur.</p>
<p>Yang keempat, tetap mengoleskan krim glucosamine. Atau kalau kelak mau ganti, mungkin bisa pakai minyak-minyak berkhasiat lainnya, kayak minyak zaitun, minyak butbut, dan semacamnya.</p>
<p>Yang kelima, tetap rajin berolahraga. Saya berkeyakinan, gerakan-gerakan yang aktif dalam olahraga akan berpengaruh positif bagi masalah ini.</p>
<p>Ya, itulah kira-kira yang hendak saya lakukan. Intinya, saya tidak mematok kapan masalah ini harus hilang total. Saya akan mengabaikannya sampai hilang sendiri &#8211; dengan izin dan ma&#8217;unah Allah Ta&#8217;ala. Sembari, saya tetap melakukan kelima langkah yang konstruktif diatas.</p>
<p>Allahummasyfinii. Innaka Anta Asy-Syaafii. Laa syifa-a illa syifa-uka, syifa-an laa yughadiru saqamaa.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>Bulan Oktober ini saya tetapkan sebagai bulan terapi untuk cedera saya ini. Selama sebulan ini, saya tidak akan membuka mulut terlalu lebar sambil terus melakukan kompres dan mengoleskan krim glucosamine. Dan nanti perkembangannya akan saya evaluasi pada bulan Nopember. Semoga pada bulan Nopember, masalah sudah selesai. Amin.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Saya sih mengambil ibrahnya saja. Kalau bukan karena cedera ini, saya mungkin nggak akan kapok untuk ngebut. Dan jika saya tak berhenti ngebut, bisa jadi saya nanti akan mengalami cedera yang jauh lebih parah, atau tewas karena kecelakaan lalu lintas. Nah, sekarang saya sudah mentalak tiga kebiasaan ngebut. Apapun yang terjadi, dalam kondisi apapun juga, saya nggak bakalan ngebut lagi. Titik.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdurrosyid.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdurrosyid.wordpress.com/682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdurrosyid.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdurrosyid.wordpress.com/682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdurrosyid.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdurrosyid.wordpress.com/682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdurrosyid.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdurrosyid.wordpress.com/682/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdurrosyid.wordpress.com/682/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdurrosyid.wordpress.com/682/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdurrosyid.wordpress.com&blog=922583&post=682&subd=abdurrosyid&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/10/03/sekarang-take-it-easy-dan-tetap-berusaha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a07d41286b9f4df5cb40314dff114a89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rosyid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berkendara Aman dan Awas</title>
		<link>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/09/10/berkendara-aman-dan-awas/</link>
		<comments>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/09/10/berkendara-aman-dan-awas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 05:05:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdurrosyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pokoknya Ada Saja]]></category>
		<category><![CDATA[aman]]></category>
		<category><![CDATA[berkendara]]></category>
		<category><![CDATA[lalu lintas]]></category>
		<category><![CDATA[motor]]></category>
		<category><![CDATA[roda dua]]></category>
		<category><![CDATA[safety riding]]></category>
		<category><![CDATA[sepeda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdurrosyid.wordpress.com/?p=675</guid>
		<description><![CDATA[Jumlah kendaraan roda dua (baca: sepeda motor) yang sangat banyak tanpa diimbangi dengan pembangunan prasarana transportasi (baca: pelebaran jalan) yang seimbang, telah menciptakan permasalahan lalu lintas tersendiri. Apalagi dalam kenyataannya perilaku berkendara para pengguna sepeda motor tuh banyak yang ugal-ugalan (termasuk saya sebelum ini he he he). Akibatnya, potensi terjadinya kecelakaan lalu lintas menjadi cukup [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdurrosyid.wordpress.com&blog=922583&post=675&subd=abdurrosyid&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Jumlah kendaraan roda dua (baca: sepeda motor) yang sangat banyak tanpa diimbangi dengan pembangunan prasarana transportasi (baca: pelebaran jalan) yang seimbang, telah menciptakan permasalahan lalu lintas tersendiri. Apalagi dalam kenyataannya perilaku berkendara para pengguna sepeda motor tuh banyak yang ugal-ugalan (termasuk saya sebelum ini he he he). Akibatnya, potensi terjadinya kecelakaan lalu lintas menjadi cukup tinggi. Kecelakaan tidak hanya rawan terjadi pada mereka yang berkendara dengan ceroboh, namun juga pada mereka yang sudah berkendara dengan hati-hati.</p>
<p>Karena itulah, sekarang ini seorang pengemudi sepeda motor tidak cukup hanya berkendara secara hati-hati, tetapi juga harus berkendara secara awas. Maksudnya, awas terhadap potensi kecelakaan yang setiap saat bisa saja menimpanya meski ia sudah berkendara secara hati-hati. Bagaimana caranya?</p>
<p><strong>Pertama</strong>, berdoa dan berdzikir. Bagaimanapun juga, keselamatan kita ada di tangan Allah. Oleh karena itu, berdoa dan berdzikir adalah langkah yang pertama dan utama agar kita selamat selama berkendara.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, bersikaplah awas dengan mengendalikan kecepatan Anda. Bagaimanapun juga, meski Anda sudah menaati marka jalan dan rambu-rambu lalu lintas, tapi kalau Anda melaju terlalu cepat, Anda menjadi rawan mengalami kecelakaan. Sebabnya sederhana saja, pada kecepatan yang tinggi Anda akan kesulitan untuk menguasai kendaraan Anda jika terjadi apa-apa. Karena itu, berkendaralah dengan kecepatan sedang saja. Rasakan suasana santai. Nikmati pemandangan di sepanjang jalan yang Anda lewati (kecuali satu, para wanita cantik).<span id="more-675"></span></p>
<p><strong>Ketiga</strong>, biasakan menyalakan lampu indikator ketika Anda hendak berbelok atau berpindah jalur. Dan jangan lupa untuk mematikannya segera setelah Anda selesai berbelok atau berpindah jalur. Kalau enggak, pasti bikin orang lain jadi bingung kan?</p>
<p><strong>Keempat</strong>, kalau Anda hendak berpindah jalur (dari kiri ke kanan, atau dari kanan ke kiri, atau hendak mendahului), pastikan bahwa kondisi di belakang Anda aman. Pada kenyataannya, cukup banyak orang yang hendak berpindah jalur tanpa mau melihat kondisi di belakangnya. Akibatnya, terjadilah &#8217;srempetan&#8217; yang sulit dielakkan. Dan untuk memastikan bahwa kondisi di belakang kita benar-benar aman, menyalakan lampu indikator saja tidak cukup. Anda tetap harus memastikan bahwa di belakang Anda tidak ada kendaraan yang terlalu dekat atau yang sedang melaju dengan kencang.</p>
<p>Tentang berpindah jalur, sebisa mungkin lakukanlah secara gradual. Misalnya, jika Anda ingin berpindah jalur dari kiri jalan ke kanan jalan, maka bergeserlah ke arah kanan jalan secara perlahan-lahan, sambil menyalakan lampu indikator. Cara ini lebih aman. Sebaliknya, berpindah jalur secara mendadak relatif lebih berbahaya. Dan Anda akan kesulitan melakukannya jika lalu lintas sedang padat. Betul kan?</p>
<p><strong>Kelima</strong>, hindarilah berhenti secara mendadak, terutama jika Anda sedang melaju dengan kencang. Lha bagaimana jika kendaraan di depan Anda berhenti dengan tiba-tiba, Anda harus menghentikan kendaraan secara tiba-tiba juga kan? Nah, makanya kalau berkendara tuh ambil jarak dengan kendaraan di depan Anda. Trus, jangan melaju terlalu kencang.</p>
<p><strong>Keenam</strong>, taatilah lampu lalu lintas alias lampu merah alias bang-jo. Artinya, kalau lampu sudah menyala merah, ya berhenti saja. Nggak usah memaksakan diri. Gimana kalo masih kuning? Kalo masih kuning ya tentu saja masih boleh jalan, tapi mesti ati-ati (baca: lihat kanan kiri, tapi nggak usah sambil tolah-toleh). Dan yang penting, kalo lampu sedang kuning jangan malah menggeber gas kuat-kuat. Santai saja, kalau emang ditakdirkan tetap bisa jalan terus (belum keburu merah) ya jalan aja terus. Tapi kalo ditaksirkan mesti berhenti (lampu udah menyala merah) ya berhenti aja. Beres kan.</p>
<p><strong>Ketujuh</strong>, kenakanlah helm standar, syukur-syukur kalau bisa helm teropong (full face helmet). Ini untuk mengantisipasi kalau-kalau kecelakaan tak terhindarkan. Dengan helm standar, harapannya kepala dan wajah kita bisa terlindungi. Kalaupun cedera pada kepala atau wajah tak terhindarkan, setidak-tidaknya intensitas (baca: tingkat keparahan) cedera bisa dikurangi semaksimal mungkin.</p>
<p>Nah, itulah tujuh tips dari saya untuk berkendara aman dan awas. Anda sepakat kan? Kalo sepakat, ayo dipraktekkan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdurrosyid.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdurrosyid.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdurrosyid.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdurrosyid.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdurrosyid.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdurrosyid.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdurrosyid.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdurrosyid.wordpress.com/675/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdurrosyid.wordpress.com/675/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdurrosyid.wordpress.com/675/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdurrosyid.wordpress.com&blog=922583&post=675&subd=abdurrosyid&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/09/10/berkendara-aman-dan-awas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a07d41286b9f4df5cb40314dff114a89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rosyid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Selamat Tinggal, Ngebut!</title>
		<link>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/09/08/selamat-tinggal-ngebut/</link>
		<comments>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/09/08/selamat-tinggal-ngebut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 08:54:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdurrosyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejauh Aku Melangkah]]></category>
		<category><![CDATA[jalan]]></category>
		<category><![CDATA[kecepatan]]></category>
		<category><![CDATA[melaju]]></category>
		<category><![CDATA[motor]]></category>
		<category><![CDATA[ngebut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdurrosyid.wordpress.com/?p=667</guid>
		<description><![CDATA[Kayaknya kecelakaan berkendara yang terakhir kali saya alami benar-benar membuat saya berucap selamat tinggal pada kebiasaan ngebut di jalan. Sebelum ini saya memang biasa memacu kuda besi  saya pada kecepatan yang tergolong tinggi. Kalau didalam kota, saya paling sering ngebut di Jl. Jemursari yang membentang lurus dari utara ke selatan. Beberapa kali saya menggeber motor [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdurrosyid.wordpress.com&blog=922583&post=667&subd=abdurrosyid&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kayaknya kecelakaan berkendara yang terakhir kali saya alami benar-benar membuat saya berucap selamat tinggal pada kebiasaan ngebut di jalan. Sebelum ini saya memang biasa memacu kuda besi  saya pada kecepatan yang tergolong tinggi. Kalau didalam kota, saya paling sering ngebut di Jl. Jemursari yang membentang lurus dari utara ke selatan. Beberapa kali saya menggeber motor saya di jalan tersebut pada kecepatan 95-100 km/jam. Dan terbukti, di jalan favorit saya itulah saya terakhir kali jatuh. Dan kalau nggak terjatuh begitu, mungkin saya nggak akan pernah kapok untuk ngebut.</p>
<p>Kalau diluar kota, saya biasa ngebut di jalan lebar Surabaya &#8211; Babat. Saya sering memacu motor di jalan ini pada kecepatan konstan 110 &#8211; 115 km/jam. Sebetulnya saya ingin memacu motor lebih cepat lagi, tapi karena itu sudah kemampuan maksimal motor (gas sudah pol), terpaksa saya nggak bisa melaju lebih cepat lagi. Sejauh pengalaman saya, hampir tidak ada kendaraan lain yang melaju dengan kecepatan tersebut, kecuali satu atau dua mobil pribadi saja. Bahkan saya pernah melaju di jalan Surabaya &#8211; Babat tanpa ada satupun kendaraan yang mendahului saya. Sebaliknya, saya terus mendahului kendaraan-kendaraan yang ada di jalan.</p>
<p>Kalau sudah melaju dengan kencang seperti itu, memang kita nggak bisa santai sewaktu berkendara. Mata harus selalu awas, khawatir kalau tiba-tiba ada orang yang menyeberang jalan, atau ada lubang di tengah jalan. Dan kalau pas melewati jembatan yang permukaannya jalannya lebih tinggi, motor pasti sedikit terbang. Sangat nikmat rasanya.<span id="more-667"></span></p>
<p>Namun, beberapa orang yang pernah saya bonceng dalam perjalanan luar kota mengaku &#8216;takut&#8217; ketika saya bonceng. &#8220;Terlalu kencang,&#8221; kata mereka. Memang iya sih. Bagaimana tidak takut, lha wong kalau pas melewati jembatan, tubuh mereka jadi sedikit terpental dari jok. Kalau nggak berpegangan, bisa-bisa tubuh mereka benar-benar terbang dan tertinggal di belakang motor (naudzu billah min dzalik).</p>
<p>Saya sebetulnya punya etika yang cukup baik kok ketika ngebut. Kalau saya ngebut, saya selalu menghindari gerakan zigzag. Ketika saya mendahului kendaraan lain di jalur lurus misalnya, saya selalu berusaha untuk mendahuluinya dengan lintasan yang sebisa mungkin mendekati garis lurus. Meski demikian, yang namanya ngebut itu ya tetap saja berbahaya. Sebab, ketika ada apa-apa, tentunya sulit mengendalikan kendaraan.</p>
<p>Hal lain yang sebelum ini sangat saya sukai adalah menikung dengan kemiringan motor yang besar. Semakin miring (artinya makin mepet dengan permukaan jalan), semakin nikmat rasanya. Gerakan ini sangat sering saya lakukan, dan saya sangat menikmatinya, sampai dengan suatu ketika saya menikung terlalu miring sehingga tergelincir karena ban motor mengenai cairan (mungkin minyak atau air) di permukaan jalan. Sebetulnya, jatuh tergelincir itu sangat nikmat, sama nikmatnya dengan melakukan sliding tackle sewaktu main bola. Hanya saja, karena ketika itu saya hanya pakai celana biasa, robek-robeklah celana saya dan lecet-lecetlah kulit saya. Seandainya saya pakai pakaian balap, mungkin sama sekali tidak akan ada masalah. Yang jelas, sehabis kejadian itu saya jadi agak jera untuk menikung terlalu miring.</p>
<p>Ya, itulah sedikit pengalaman ngebut saya. Cukuplah sampai disini saja saya menjadi &#8216;pembalap jalanan&#8217;. Yang penting, saya sudah merasakan bagaimana menjadi &#8216;pembalap jalanan&#8217;, sehingga saya tidak lagi terprovokasi ketika melihat orang ngebut di jalan. Yang penting, saya sudah punya &#8216;cerita&#8217; yang mungkin kelak bisa saya sampaikan pada anak-anak saya. &#8220;Nak, dulu bapakmu ini suka ngebut lho. Kalau kamu, jangan.&#8221;</p>
<p>Bagaimanapun juga, ngebut itu berbahaya, karena jika ada apa-apa tentunya akan sulit bagi kita untuk mengendalikan kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi.</p>
<p>Sekarang, tidak ada lagi kata &#8216;ngebut&#8217; dalam kamus berkendara saya. Bahkan meskipun saya sedang tergesa-gesa sekalipun, saya bertekad untuk tidak lagi ngebut. Kalau memang waktu yang kita punya mepet, ya sudah resiko jika kemudian harus terlambat. Salah sendiri kenapa tidak berangkat lebih awal.</p>
<p>Memang, salah satu diantara penyebab mengapa saya ngebut adalah karena sedang dikejar waktu. Berangkat terlalu mepet, sehingga terpacu untuk ngebut agar tidak terlambat sampai di tujuan. Sekarang saya tahu, bahwa salah satu cara jitu agar tidak terdorong untuk ngebut adalah dengan berangkat lebih dini ke tempat yang ingin kita tuju. Kita pun dapat banyak keuntungan: bisa berkendara dengan nyantai, dan tidak terancam terlambat sampai di tempat tujuan.</p>
<p>Bagi saya sekarang, lebih baik menunggu di tempat tujuan daripada sampai di tempat tujuan dengan pikiran yang tegang akibat ngebut di jalanan. Kan ada banyak hal yang bisa kita lakukan sembari kita menunggu: mempersiapkan hal-hal yang perlu dipersiapkan, membaca Al-Qur&#8217;an, membaca buku, broswing internet, berdiskusi, dan sebagainya.</p>
<p>Jadi, selamat tinggal, ngebut. Engkau adalah masa lalu yang tak akan pernah kuulang kembali. Insyaallah.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdurrosyid.wordpress.com/667/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdurrosyid.wordpress.com/667/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdurrosyid.wordpress.com/667/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdurrosyid.wordpress.com/667/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdurrosyid.wordpress.com/667/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdurrosyid.wordpress.com/667/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdurrosyid.wordpress.com/667/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdurrosyid.wordpress.com/667/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdurrosyid.wordpress.com/667/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdurrosyid.wordpress.com/667/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdurrosyid.wordpress.com&blog=922583&post=667&subd=abdurrosyid&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/09/08/selamat-tinggal-ngebut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a07d41286b9f4df5cb40314dff114a89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rosyid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ramadhan, Saatnya Me-reset Jam Tubuh</title>
		<link>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/09/03/ramadhan-saatnya-me-reset-jam-tubuh/</link>
		<comments>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/09/03/ramadhan-saatnya-me-reset-jam-tubuh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 09:21:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdurrosyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pokoknya Ada Saja]]></category>
		<category><![CDATA[ibadah]]></category>
		<category><![CDATA[jam tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[kebiasaan]]></category>
		<category><![CDATA[qiyamul lail]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[tidur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdurrosyid.wordpress.com/?p=649</guid>
		<description><![CDATA[Ramadhan adalah syahrut tarbiyah &#8216;bulan pembinaan&#8217;. So, kita harus betul-betul memanfaatkan bulan ini untuk membina diri kita. Salah satunya adalah menciptakan ritme hidup yang islami. Lho, apaan tuh?
Kita semua pasti punya kebiasaan. Kapan kita berangkat tidur, bangun tidur, makan, sholat wajib, sholat sunnah, baca Al-Qur&#8217;an, bekerja, dan sebagainya. Tentu saja kita menginginkan aktivitas keseharian kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdurrosyid.wordpress.com&blog=922583&post=649&subd=abdurrosyid&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Ramadhan adalah syahrut tarbiyah &#8216;bulan pembinaan&#8217;. So, kita harus betul-betul memanfaatkan bulan ini untuk membina diri kita. Salah satunya adalah menciptakan ritme hidup yang islami. Lho, apaan tuh?</p>
<p>Kita semua pasti punya kebiasaan. Kapan kita berangkat tidur, bangun tidur, makan, sholat wajib, sholat sunnah, baca Al-Qur&#8217;an, bekerja, dan sebagainya. Tentu saja kita menginginkan aktivitas keseharian kita bisa berjalan dengan teratur. Nah, kaitannya dengan ini, sesungguhnya pola kebiasaan kita sehari-hari, kita sadari ataupun tidak, pasti membentuk pola tertentu yang disebut sebagai &#8216;jam tubuh&#8217;.</p>
<p>Jika kita biasa berangkat tidur jam 10 malam, maka setiap jam 10 malam bisa dipastikan tubuh kita pasti merasakan ngantuk, minta ditidurkan. Jika kita biasa bangun tidur jam 6 pagi (telat subuh bro), maka pasti akan sulit untuk bangun lebih awal. Sebaliknya jika kita biasa bangun tidur jam 03.30 pagi, tanpa beker dan alarm hape pun kemungkinan besar kita akan selalu terbangun pada jam tersebut (dan tidak telat sholat subuh).<span id="more-649"></span></p>
<p>Demikian pula dengan pola makan. Jika kita terbiasa sarapan jam 6 pagi, maka setiap jam 6 pagi kita pasti sudah merasa lapar. Kalau kita biasanya baru sarapan jam 9 pagi, kemungkinan besar setiap jam 6 pagi kita belum merasa lapar. Dan baru lapar kalau jam menunjukkan pukul 9 pagi.</p>
<p>Nah, begitulah kira-kira gambaran mengenai jam tubuh.</p>
<p>Ramadhan selalu saya dapati sebagai waktu terbaik untuk me-reset jam tubuh kita. Dengan waktu pembiasaan selama sebulan penuh, insyaallah kita bisa mengubah jam tubuh kita menjadi lebih islami (atau kalau mau istilah lain: lebih rabbani). Bagaimana itu?</p>
<p><strong>Pertama</strong>, jam tubuh &#8216;qiyamul lail&#8217;. Selama bulan Ramadhan, ayo membiasakan diri melakukan qiyamul lail mulai jam 2 pagi sampai jam 3 pagi. Kalau sebulan penuh ini kita bisa, insyaallah kebiasaan ini akan menjadi ritme tubuh kita selepas Ramadhan.</p>
<p>Agar tidak sulit bangun pada jam 2 malam, jangan tidur terlalu larut alias begadang. Kalau nggak ada sesuatu yang mengharuskan kita begadang, biasakan berangkat tidur paling lambat jam 10 malam. Dengan demikian, Anda bisa tidur selama paling tidak 4 jam sebelum bangun pada jam 2 malamnya.</p>
<p>Oya, cara lain untuk membantu agar Anda lebih mudah terbangun pada jam 2 malam adalah dengan menyempatkan qaylulah (tidur siang) sebentar &#8211; kalau memungkinkan lho ya -, antara setengah sampai satu jam.</p>
<p>Kemudian pada saat Anda bangun pada jam 2 malam, akan lebih bagus jika Anda terlebih dulu mandi sehingga badan menjadi segar. Qiyamul lail pun bisa lebih khusyuk dan bersemangat.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, jam tubuh &#8216;tidak tidur habis sholat shubuh&#8217;. Satu hal yang parah adalah, kebanyakan orang selama bulan Ramadhan ini pasti tidur sehabis sholat shubuh. Penyebabnya sederhana, karena perut kekenyangan sehabis makan sahur. Padahal sebetulnya kita bisa kok menghilangkan kebiasaan ini. Caranya: 1) Cukupkan waktu tidur pada malam harinya. So, jangan begadang kalau nggak benar-benar penting. 2) Lakukan pembiasaan untuk tidak tidur sehabis shubuh. Awalnya mungkin berat, tapi kalau sudah biasa pasti segalanya berjalan mudah. 3) Manfaatkan setengah jam menjelang shubuh untuk tidur sebentar. So, antara qiyamul lail dan sholat shubuh sempatkan waktu untuk tidur. Kalau mau makan sahur, sebelum tidur lho ya. Kalo nggak, bisa kehilangan makan sahur tuh pas kita kebablasan tidurnya. Trus, gimana caranya agar kita bisa bangun lagi pas adzan shubuh? Untuk permulaan, pasang beker atau alarm hape. Kalau sudah terbiasa, dijamin deh jadi kebiasaan.</p>
<p>O ya, kalaupun karena hal-hal tertentu Anda harus tidur sehabis sholat shubuh, misalnya karena pada waktu malamnya Anda kurang tidur, ada beberapa hal yang harus diingat. Pertama, tidurnya jangan langsung habis shubuh. Bertahanlah terlebih dulu selama beberapa saat sesudah sholat shubuh, dengan cara membaca Al-Qur&#8217;an, berdzikir, membaca buku, menyimak taklim, menulis, dan sebagainya. Baru sesudah itu Anda boleh tidur. Kedua, Anda harus pasang beker atau alarm hape untuk membatasi tidur Anda. Kalo nggak, bisa-bisa Anda baru terbangun jam 9 atau 10 pagi (terlambat kerja dong). Setel beker atau alarm hape Anda pada, misalnya, jam 6.30 atau jam 7 pagi. Dengan demikian, pada jam tersebut Anda sudah bisa terbangun dalam keadaan segar, siap untuk mandi lalu beraktivitas.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, jam tubuh &#8217;sholat dhuha&#8217;. Bagi yang belum terbiasa, ayo mulai membiasakan diri melakukan sholat dhuha setiap hari selama Ramadhan ini. Nanti jika sudah terbiasa, malah rasanya justru ada yang kurang kalau tidak melakukannya meski hanya sehari. Kita disebut sudah punya jam tubuh &#8217;sholat dhuha&#8217; kalau setiap dhuha tubuh kita secara otomatis selalu ingat untuk melakukan sholat dhuha. Dan ini hanya bisa terjadi kalau kita sudah benar-benar terbiasa.</p>
<p>Lalu, kapan enaknya melakukan sholat dhuha? Terserah Anda sih, yang penting semenjak matahari sudah setinggi tombak sampai dengan sebelum matahari tepat berada di tengah-tengah. Kalau saya, waktu yang paling enak adalah persis setelah mandi pagi. Rasanya segar sekali. Habis itu bisa baca Al-Qur&#8217;an lagi tiga atau empat halaman. Lalu dilanjutkan dengan beraktivitas. Mantap kan?</p>
<p><strong>Keempat</strong>, jam tubuh &#8216;berpuasa&#8217;. Dengan berpuasa sebulan penuh selama bulan Ramadhan, sudah tentu tubuh kita menjadi terbiasa berpuasa. Nah, kebiasaan berpuasa ini semestinya terus kita jaga selepas Ramadhan. Caranya, pada bulan Syawal kita berpuasa enam hari. Lalu selepas Syawal kita berpuasa sunnah setiap Senin dan Kamis. Dengan demikian, kebiasaan berpuasa tetap selalu terjaga alias tidak terputus. Soalnya kalau sudah terputus, biasanya agak berat untuk membiasakannya kembali. Masih ingat teori Fisika kan? Koefisien gesek statis lebih besar daripada koefisien gesek kinetis.</p>
<p>Hal lain yang bisa membantu kita ringan untuk terus berpuasa adalah menjaga jam tubuh &#8216;makan sahur&#8217;. Jam tubuh ini sebetulnya gandengannya jam tubuh &#8216;qiyamul lail&#8217; karena dengan bangun qiyamul lail otomatis kita tinggal melanjutkannya dengan makan sahur. Tapi kalaupun qiyamul lail-nya kelewatan, kalau bisa makan sahurnya tidak kelewatan bro. Soalnya sahur itu banyak berkahnya, antara lain nggak lemas saat siangnya. Bagaimanapun, menjaga jam tubuh &#8217;sahur&#8217; ini penting untuk bisa menjaga jam tubuh &#8216;berpuasa&#8217;. Banyak orang yang ingin berpuasa tapi nggak pernah kesampaian gara-gara nggak pernah bisa bangun sebelum shubuh untuk makan sahur. Jadi, biasakanlah untuk sudah bangun paling tidak setengah jam sebelum shubuh, agar bisa makan sahur. Syukur-syukur kalau bisa bangun lebih awal untuk terlebih dulu melakukan qiyamul lail (jam 2 malam bro, jam tubuh &#8216;qiyamul lail&#8217;).</p>
<p><strong>Inilah </strong>paling tidak empat jam tubuh yang bisa kita bentuk selama bulan Ramadhan ini. Kalau sudah terbentuk, insyaallah selepas Ramadhan kita tinggal menjaganya. Dengan demikian, keempat kebiasaan baik tadi bisa terus kita jaga selepas Ramadhan. Dan kontinuitas amal seperti ini adalah salah satu indikasi diterimanya ibadah Ramadhan kita.</p>
<p>Gimana? Mau me-reset jam tubuh Anda menjadi lebih islami? Kenapa nggak? Why not? Warum nicht? Lima laa? Sampai disini dulu ya. Selamat mencoba, semoga sukses.</p>
<p><em>[Untuk menyelesaikan tulisan ini, saya sempat kesal dan jengkel. Sebab, setelah tulisan tuntas, ternyata tidak ter-save gara-gara masalah koneksi internet. Separuh tulisan hilang begitu saja. Alhasil, saya harus nulis ulang. Jadinya harus mikir lagi, merangkai kalimat lagi, pokoknya jengkel banget deh. Tapi alhamdulillah, akhirnya kelar juga. Anyways, begitulah hidup, nggak ada yang lancar. Selalu ada kendala.]</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdurrosyid.wordpress.com/649/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdurrosyid.wordpress.com/649/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdurrosyid.wordpress.com/649/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdurrosyid.wordpress.com/649/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdurrosyid.wordpress.com/649/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdurrosyid.wordpress.com/649/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdurrosyid.wordpress.com/649/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdurrosyid.wordpress.com/649/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdurrosyid.wordpress.com/649/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdurrosyid.wordpress.com/649/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdurrosyid.wordpress.com&blog=922583&post=649&subd=abdurrosyid&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/09/03/ramadhan-saatnya-me-reset-jam-tubuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a07d41286b9f4df5cb40314dff114a89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rosyid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Alhamdulillah, Hanya Cedera Ringan</title>
		<link>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/09/02/alhamdulillah-hanya-cedera-ringan/</link>
		<comments>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/09/02/alhamdulillah-hanya-cedera-ringan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 09:17:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdurrosyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejauh Aku Melangkah]]></category>
		<category><![CDATA[bunyi]]></category>
		<category><![CDATA[cedera]]></category>
		<category><![CDATA[klik]]></category>
		<category><![CDATA[rahang]]></category>
		<category><![CDATA[tmj]]></category>
		<category><![CDATA[tulang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdurrosyid.wordpress.com/?p=642</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa bulan yang lalu, untuk yang kesekian kalinya (dan semoga yang terakhir) saya mengalami kecelakaan sewaktu naik kuda besi. Sisi kanan kepala saya menghantam jalan. Alhamdulillah wa bi &#8216;aunillah, saya pakai helm teropong. Saya pun tidak lecet sama sekali. Hanya sedikit bengkak, sedikit saja.
Sesuai teori penanganan cedera sepakbola yang saya tahu, dalam perjalanan balik (masih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdurrosyid.wordpress.com&blog=922583&post=642&subd=abdurrosyid&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Beberapa bulan yang lalu, untuk yang kesekian kalinya (dan semoga yang terakhir) saya mengalami kecelakaan sewaktu naik kuda besi. Sisi kanan kepala saya menghantam jalan. Alhamdulillah wa bi &#8216;aunillah, saya pakai helm teropong. Saya pun tidak lecet sama sekali. Hanya sedikit bengkak, sedikit saja.</p>
<p>Sesuai teori penanganan cedera sepakbola yang saya tahu, dalam perjalanan balik (masih dengan motor yang sudah &#8217;sliring&#8217; semua) saya membeli beberapa buah es batu. Begitu sampai, tanpa menunggu masuk rumah, saya langsung mengkompres sisi kanan kepala saya dengan beberapa buah es batu tersebut. Alhamdulillah, saya telah melakukan P3K yang bagus.</p>
<p>Besok atau lusanya, saya merasakan sesuatu di sekitar rahang kanan saya. Meski sejak awal tidak ada nyeri sama sekali, namun saya mendapati bunyi klik di area rahang saya ketika membuka mulut lebar-lebar lalu menutupnya kembali.<span id="more-642"></span></p>
<p>Saya pun berkonsultasi dengan seorang dokter spesialis bedah (gratis bro) mengenai hal tersebut. Hanya via telepon. Saya ceritakan semua keluhan saya. Pak dokter mengatakan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan, paling-paling cuma perdarahan didalam otot wajah, dan akan normal kembali dalam waktu 3 pekan. Beliau lalu menyarankan saya meminum obat anti nyeri dan obat yang membantu penyerapan darah yang menumpuk. Saya pun mengkonsumsi obat yang belakangan disebut, tanpa obat nyeri karena saya tidak mengalami nyeri sama sekali.</p>
<p>Empat hari kemudian, saya merasa kepingin konsultasi face to face dengan dokter. Saya pun datang ke sebuah klinik dokter umum. Diagnosisnya kurang lebih sama. Dokter tersebut memberikan saya obat untuk menghilangkan peradangan dan pembengkakan. Plus saran untuk tidak membuka mulut terlalu lebar atau memakan makanan yang keras.</p>
<p>Tiga atau empat hari kemudian, bengkak terasa sudah nggak ada. Saya pun melupakan masalah ini sampai beberapa lama. Namun setelah waktu yang cukup lama, saya mendapati bunyi klik di area rahang masih belum hilang.</p>
<p>Berharap mendapatkan diagnosis yang lebih tepat, saya pun datang ke Rumah Sakit Haji, yang alhamdulillah dekat dengan tempat tinggal saya. Awalnya, saya masuk ke Poli Bedah Umum. Tapi oleh paramedis disitu, saya diarahkan ke Poli Bedah Plastik, yang letaknya bersebelahan.</p>
<p>Di Poli Bedah Plastik, setelah ditanya-tanya sama pak dokter, saya diminta menjalani foto rontgen di Bagian Radiologi. Target pemotretan adalah area TMJ (Temporo Mandibular Joint). Setelah jeprat-jepret empat kali, pemotretan pun selesai. Pihak Radiologi menyampaikan kesimpulan (yang ditulis diatas secarik kertas): &#8220;Tidak terlihat adanya kelainan (pada TMJ).&#8221;</p>
<p>Hasil pemotretan (dan tentu saja kesimpulan dokter radiologi) selanjutnya dianalisis oleh pak dokter di Poli Bedah Plastik. Diagnosisnya, cedera ringan saja, yang katanya akan normal kembali setelah 3 pekan (atau lebih). Saran untuk saya: mengistirahatkan otot-otot sekitar rahang dengan tidak membuka mulut terlalu lebar atau memakan makanan yang terlalu keras. Hi hi hi, sarannya sama dengan saran dokter (umum) sebelumnya.</p>
<p>Lewat sudah kira-kira sebulan. Tapi kok saya rasakan bunyi kliknya belum hilang. Saya pun berpikir tentang cara pengobatan lainnya. Akhirnya saya pergi ke seorang tukang pijat urat di kawasan Sidoarjo. Disamping memijat, beliau memberi saya sebotol kecil kapsul cina dengan khasiat &#8220;healing bone fractures&#8221;.</p>
<p>Sehabis itu saya belum merasakan hasil yang signifikan. Mungkin saja ada tapi saya nggak merasa. Akhirnya, saya berpindah ke tukang pijat lainnya. Tukang pijat belakangan inilah yang dulu juga merawat cedera tulang pinggang saya hingga sembuh. Saya pun dipijat dengan kompres panas. Pesan terakhir beliau adalah agar saya setiap hari melakukan terapi kompres panas dan dingin pada area rahang saya.</p>
<p>Ingin tahu lebih jauh, saya pun browsing abis di internet mengenai cedera area rahang. Saya baca hampir semua artikel terkait. Yang paling menarik bagi saya adalah, semua artikel menyarankan terapi yang sama, yaitu mengistirahatkan otot-otot di sekitar rahang (dengan tidak membuka mulut terlalu lebar dan tidak memakan makanan yang keras-keras) dan melakukan terapi kompres panas dan dingin setiap hari.</p>
<p>Saya pun melakukan terapi kompres panas dan dingin hampir setiap hari. Kompres panas pada pagi hari, dan kompres dingin pada sore hari. Tapi saya masih kurang perhatian dengan anjuran mengistirahatkan otot-otot sekitar rahang. Itupun saya sudah mulai merasakan hasil positif yang menggembirakan. Tapi progressnya masih fluktuatif. Saya belum puas.</p>
<p>Akhirnya, untuk yang kedua kalinya saya datang ke Poli Bedah Plastik Rumah Sakit Haji. Saya sampaikan kondisi terakhir saya, antara lain bahwa ada tren membaik tapi masih belum stabil. Akhirnya, dengan meyakinkan pak dokter bilang bahwa tidak ada kerusakan pada susunan tulang, termasuk TMJ. Yang terjadi hanyalah sedikit masalah pada jaringan lunak di sekitar tulang, seperti ligamen dan sebagainya. Mungkin ada yang kendor dan semacamnya. Terapinya menurut pak dokter adalah terus mengistirahatkan otot-otot di sekitar rahang. Tidak boleh membuka mulut terlalu lebar, dan tidak makan yang keras-keras. Jika bisa benar-benar disiplin melakukan hal tersebut, biasanya setelah 3 pekan sudah kembali normal. Tapi jika kurang disiplin, mungkin lebih lama. Makin tidak sdisiplin, makin lama. Menurut pak dokter, &#8220;idealnya&#8221; mulut saya dikunci (diplester kali) untuk bisa mengistirahatkan area rahang secara total. Tapi kan nggak mungkin lah. Saya kan harus bicara, harus makan, bahkan harus menguap.</p>
<p>Selain itu, pak dokter juga meresepkan sebuah salep yang berfungsi untuk membantu memperbaiki jaringan lunak yang rusak. Harganya 200 ribu di sebuah apotek. Dan 187 ribu di apotik lainnya. Karena tahu harga yang lebih murah, tentu saja saya beli yang lebih murah. Alhamdulillah bisa berhemat, meski hanya 13 ribu.</p>
<p>At last, rencana terapi yang saya canangkan adalah sebagai berikut.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, optimis dan berhusnuzhzhan kepada Allah. Ditambah dengan doa kepada-Nya. Allah adalah segala-galanya. Dan hanya Dia sajalah yang menyembuhkan.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, bersikap rileks, santai, dan gembira. Hilangkan segenap rasa sedih dan kekhawatiran. Orang-orang yang beriman itu tak pernah sedih dan tak pernah khawatir. Dan ingatlah, sakit dan derita yang dialami oleh para pejuang terdahulu jauh lebih pedih dan perih. Kalau hanya cedera seperti saya ini, nggak ada apa-apanya.</p>
<p><strong>Ketiga</strong>, sebisa mungkin tidak membuka mulut terlalu lebar. Kalau pas menguap, mulut agak ditahan sehingga tidak terbuka lebar. Setahu saya, mulut hanya akan terbuka lebar ketika menguap dan ketika kita sengaja buka lebar. Selebihnya, seperti pas bicara dan bahkan makan (asal bukan makan apel gelondongan) mulut hanya terbuka biasa. Sebagaimana yang dituturkan pak dokter spesialis bedah plastik yang menangani saya, yang dimaksud dengan membuka mulut lebar adalah yang sampai mengakibatkan munculnya bunyi klik. Kalau tidak sampai muncul bunyi klik, berarti tidak masalah.</p>
<p><strong>Keempat</strong>, menghindari memakan makanan yang keras-keras. So, saya sebisa mungkin harus menghindari segala bentuk makanan yang keras, yang bisa memforsir kerja tulang-tulang di area rahang berikut jaringan lunaknya. Nggak ada masalah sama sekali insyaallah, soalnya masih banyak jenis-jenis makanan &#8220;lunak&#8221; yang enak. Sebut saja misalnya nasi itu sendiri (apalagi lontong atau bubur), ikan, telur dadar, kare ayam, sayur sup, sayur bayam, sayur daun pepaya, semangka, pisang, pepaya, rujak buah, jus buah, bakso, pangsit, martabak, terang bulan, dan masih banyak lagi yang lainnya. Nggak ngitung dah pokoknya.</p>
<p><strong>Kelima</strong>, melakukan kompres panas dan atau dingin setiap hari. Kompres panas pakai air panas. Kompres dingin pakai es batu.</p>
<p><strong>Keenam</strong>, mengoleskan salep yang telah diresepkan oleh dokter, dua kali sehari, sehabis mandi pagi dan menjelang tidur.</p>
<p>Sampai disini ya cerita saya. Semoga Allah senantiasa memberikan yang terbaik untuk kita semua. Amin.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdurrosyid.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdurrosyid.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdurrosyid.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdurrosyid.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdurrosyid.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdurrosyid.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdurrosyid.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdurrosyid.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdurrosyid.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdurrosyid.wordpress.com/642/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdurrosyid.wordpress.com&blog=922583&post=642&subd=abdurrosyid&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/09/02/alhamdulillah-hanya-cedera-ringan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a07d41286b9f4df5cb40314dff114a89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rosyid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apa Sih Editor Itu?</title>
		<link>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/08/18/apa-sih-editor-itu/</link>
		<comments>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/08/18/apa-sih-editor-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 17:00:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdurrosyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hobiku Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[editor]]></category>
		<category><![CDATA[penyunting]]></category>
		<category><![CDATA[redaktsi]]></category>
		<category><![CDATA[redaktur]]></category>
		<category><![CDATA[tugas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdurrosyid.wordpress.com/?p=636</guid>
		<description><![CDATA[Anda pasti sering mendengar istilah editor. Hayo, ngaku aja. Editor sebetulnya punya padanan kata yang asli bahasa Indonesia: penyunting. Begini, kata edit sepadan dengan kata sunting. Sehingga editor sepadan dengan penyunting, dan editing sepadan dengan penyuntingan. Meski demikian, tampaknya istilah editor &#8211; yang merupakan kata serapan dari bahasa asing &#8211; justru lebih banyak digunakan dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdurrosyid.wordpress.com&blog=922583&post=636&subd=abdurrosyid&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Anda pasti sering mendengar istilah editor. Hayo, ngaku aja. Editor sebetulnya punya padanan kata yang asli bahasa Indonesia: penyunting. Begini, kata edit sepadan dengan kata sunting. Sehingga editor sepadan dengan penyunting, dan editing sepadan dengan penyuntingan. Meski demikian, tampaknya istilah editor &#8211; yang merupakan kata serapan dari bahasa asing &#8211; justru lebih banyak digunakan dalam pemakaian sehari-hari, ketimbang kata penyunting yang asli bahasa Indonesia. Sedikit aneh memang.</p>
<p>Editor punya beberapa makna, tergantung pada domain pemakaiannya. Dalam dunia pers, editor adalah orang yang bertugas untuk merencanakan dan mengarahkan penerbitan. Padanan katanya adalah redaktur. Dalam dunia pers, editor ada beberapa macam: pemimpin redaksi (editor-in-chief), redaktur pelaksana (managing editor), dan redaktur (editor). Adapun editorial adalah opini redaksi tentang suatu masalah.</p>
<p>Dalam dunia perfilman, editor adalah orang yang menyusun dan merakit film / pita rekaman dengan cara memotong-motong dan memasang kembali.</p>
<p>Adapun dalam dunia penerbitan buku, editor adalah orang yang bertugas untuk mencari dan menyeleksi naskah, lalu menyunting isi, bahasa, ilustrasi, dan layoutnya, kemudian terakhir mengecek proof (naskah siap cetak).<span id="more-636"></span></p>
<p>Sampai disini sudah jelas kan apa itu editor.</p>
<p>Nah, selanjutnya saya akan fokus berbicara soal editor dalam dunia penerbitan buku. Sebagaimana sudah dinyatakan secara singkat diatas, tugas utama editor dalam dunia penerbitan buku ada tiga:</p>
<p><strong>1. Membaca dan menilai naskah</strong><br />
Editor harus menentukan kelayakan terbit suatu naskah. Apakah cerita yang terkandung dalam naskah tersebut cukup berbobot untuk dibagikan pada pembaca? Apakah gaya berceritanya cukup enak dibaca sehingga tidak membingungkan yang membacanya? Selalu timbul pertanyaan, kalau buat saya naskah ini tidak menarik, apakah buat orang lain menarik? Kalau memang naskah ini tidak layak terbit, bagaimana menyampaikannya pada si pengarang?</p>
<p><strong>2. Mengedit</strong><br />
Tugas ini makan waktu yang cukup lama. Ada dua macam editing: substansial editing dan mechanical editing. Substansial editing adalah mengedit substansi materi buku. Sedangkan mechanical editing adalah mengedit naskah buku dari sisi kebahasaan (seperti struktur kalimat, ejaan, diksi, dan sebagainya).</p>
<p><strong>3. Membaca dan mengoreksi proof</strong><br />
Meskipun bisa dibilang lebih ringan daripada dua tugas diatas, membaca proof tidak boleh diremehkan. Justru di sini dibutuhkan ketelitian ganda: bagaimana caranya mencermati dan mencari kesalahan dari apa yang sudah (nyaris) sempurna.</p>
<p>Oke, sekarang kita bicara tentang macam-macam editor dalam dunia penerbitan buku. Mirip dengan yang ada di sebuah perusahaan pers, editor di perusahaan penerbitan buku biasanya terdiri atas: editor kepala, editor, copy editor, layout editor, right-editor, dan editor pembantu.</p>
<p>Editor kepala (chief editor) adalah orang yang bertanggung jawab terhadap keseluruhan fungsi editing di perusahaan tersebut. Ia membawahi para editor. Sedangkan para editor itu sendiri biasanya menangani kategori-kategori tertentu. Misalnya, editor buku anak-anak, editor buku agama, editor buku fiksi, editor buku pelajaran sekolah, editor buku komputer, dan sebagainya. Para editor tersebut bertanggung jawab untuk mencari dan menyeleksi naskah, sesuai dengan target penerbitan yang telah dicanangkan.</p>
<p>Adapun copy editor (penyunting naskah) adalah orang yang bertugas untuk menyunting naskah dari sisi kebahasaan (mechanical editing). Layout editor bertugas untuk memberi arahan dan menyetujui layout (perwajahan) buku. Right editor khusus menangani masalah hak cipta. Sedangkan editor pembantu bertugas untuk meneliti proof (naskah yang siap cetak) dan memastikannya bebas dari kesalahan meski hanya satu kesalahan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdurrosyid.wordpress.com/636/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdurrosyid.wordpress.com/636/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdurrosyid.wordpress.com/636/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdurrosyid.wordpress.com/636/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdurrosyid.wordpress.com/636/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdurrosyid.wordpress.com/636/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdurrosyid.wordpress.com/636/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdurrosyid.wordpress.com/636/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdurrosyid.wordpress.com/636/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdurrosyid.wordpress.com/636/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdurrosyid.wordpress.com&blog=922583&post=636&subd=abdurrosyid&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/08/18/apa-sih-editor-itu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a07d41286b9f4df5cb40314dff114a89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rosyid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenal Organisasi Pers</title>
		<link>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/08/13/mengenal-organisasi-pers/</link>
		<comments>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/08/13/mengenal-organisasi-pers/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 01:20:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdurrosyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hobiku Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[fungsi]]></category>
		<category><![CDATA[jabatan]]></category>
		<category><![CDATA[media]]></category>
		<category><![CDATA[organisasi]]></category>
		<category><![CDATA[pers]]></category>
		<category><![CDATA[redaksi]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdurrosyid.wordpress.com/?p=630</guid>
		<description><![CDATA[Lembaga atau perusahaan pers, sebagaimana lembaga atau perusahaan pada umumnya, memiliki organisasi yang terdiri dari berbagai macam jabatan. Jabatan-jabatan tersebut disusun berdasarkan fungsi-fungsinya. Dan masing-masing jabatan memiliki tugasnya masing-masing. Berikut ini bagan organisasi tersebut.

1. Dewan Redaksi
Dewan Redaksi biasanya beranggotakan Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan Wakilnya, Redaktur Pelaksana, dan orang-orang yang dipandang kompeten menjadi penasihat bagian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdurrosyid.wordpress.com&blog=922583&post=630&subd=abdurrosyid&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Lembaga atau perusahaan pers, sebagaimana lembaga atau perusahaan pada umumnya, memiliki organisasi yang terdiri dari berbagai macam jabatan. Jabatan-jabatan tersebut disusun berdasarkan fungsi-fungsinya. Dan masing-masing jabatan memiliki tugasnya masing-masing. Berikut ini bagan organisasi tersebut.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-632" title="org_pers" src="http://abdurrosyid.files.wordpress.com/2009/08/org_pers.jpg?w=460&#038;h=663" alt="org_pers" width="460" height="663" /></p>
<p><strong><span id="more-630"></span>1. Dewan Redaksi</strong></p>
<p>Dewan Redaksi biasanya beranggotakan Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi dan Wakilnya, Redaktur Pelaksana, dan orang-orang yang dipandang kompeten menjadi penasihat bagian redaksi. Dewan Redaksi bertugas memberi masukan kepada jajaran redaksi dalam melaksanakan pekerjaan redaksional. Dewan Redaksi pula yang mengatasi permasalahan penting redaksional, misalnya menyangkut berita yang sangat sensitif atau sesuai-tidaknya berita yang dibuat tersebut dengan visi dan misi penerbitan yang sudah disepakati.</p>
<p><strong>2. Pemimpin Umum </strong></p>
<p>Bertanggung jawab atas keseluruhan jalannya penerbitan pers, baik ke dalam maupun ke luar. Dapat melimpahkan pertanggungjawabannya terhadap hukum kepada Pemimpin Redaksi sepanjang menyangkut isi penerbitan (redaksional) dan kepada Pemimpin Usaha sepanjang menyangkut pengusahaan penerbitan.</p>
<p><strong>3. Pemimpin Redaksi</strong></p>
<p>Pemimpin Redaksi (Pemred, Editor in Chief) bertanggung jawab terhadap mekanisme dan aktivitas kerja keredaksian sehari-hari. Ia harus mengawasi isi seluruh rubrik media massa yang dipimpinnya. Di surat kabar mana pun, Pemimpin Redaksi menetapkan kebijakan dan mengawasi seluruh kegiatan redaksional. Ia bertindak sebagai jenderal atau komandan.</p>
<p>Pemimpin Redaksi juga bertanggung jawab atas penulisan dan isi Tajuk Rencana (Editorial) yang merupakan opini redaksi (Desk Opinion). Jika Pemred berhalangan menulisnya, lazim pula tajuk dibuat oleh Redaktur Pelaksana, salah seorang anggota Dewan Redaksi, salah seorang Redaktur, bahkan seorang Reporter atau siapa pun — dengan seizin dan sepengetahuan Pemimpin Redaksi— yang mampu menulisnya dengan menyuarakan pendapat korannya mengenai suatu masalah aktual.</p>
<p>Berikut ini tugas Pemimpin Redaksi secara lebih terinci:</p>
<ol>
<li>Bertanggungjawab terhadap isi redaksi penerbitan</li>
<li>Bertanggungjawab terhadap kualitas produk penerbitan</li>
<li>Memimpin rapat redaksi</li>
<li>Memberikan arahan kepada semua tim redaksi tentang berita yang akan dimuat pada setiap edisi.</li>
<li>Menentukan layak tidaknya suatu berita, foto, dan desain untuk sebuah penerbitan</li>
<li>Mengadakan koordinasi dengan bagian lain seperti Pemimpin Perusahaan  untuk mensinergikan jalannya roda perusahaan</li>
<li>Menjalin lobi-lobi dengan nara sumber penting di pemerintahan, dunia usaha, dan berbagai instansi</li>
<li>Bertanggung jawab terhadap pihak lain, yang karena merasa dirugikan atas pemberitaan yang telah dimuat, sehingga pihak lain melakukan somasi, tuntutan hukum, atau menggugat ke pengadilan. Sesuai aturan, tanggung jawab oleh Pemimpin Redaksi bila dilimpahkan kepada pihak lain yang dianggap melakukan kesalahan tersebut.</li>
</ol>
<p><strong>4. Sekretaris Redaksi </strong></p>
<p>Seorang Sekretaris Redaksi memiliki tugas sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Menata dan mengatur undangan dari instansi, perusahaan, atau lembaga yang berkaitan dengan pemberitaan</li>
<li>Menghubungi sumber berita atau instansi untuk pendaftaran, konfirmasi, atau pembatalan undangan, wawancara, dan kunjungan kerja</li>
<li>Menyimpan salinan kartu pers dan foto untuk mensuport kebutuhan kerja para wartawan dalam  meliput satu acara yang mengharuskan membuat tanda pengenal seperti menyiapkan</li>
<li>Menyediakan peralatan kerja redaksi seperti tape, batu baterei, kaset, alat tulis, dan note book</li>
<li>Menata keperluan keuangan redaksi: uang perjalanan, uang saku, uang rapat.</li>
<li>Mengatur jadwal rapat redaksi: rapat perencanaan, rapat cheking, rapat final.</li>
</ol>
<p><strong>5. Redaktur Pelaksana</strong></p>
<p>Di bawah Pemred biasanya ada Redaktur Pelaksana (Redaktur Eksekutif, Managing Editor). Tanggung jawabnya hampir sama dengan Pemred, namun lebih bersifat teknis. Dialah yang memimpin langsung aktivitas peliputan dan pembuatan berita oleh para reporter dan editor.</p>
<p>Adapun rincian tugas Redaktur Pelaksana adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Bertanggung jawab terhadap mekanisme kerja redaksi sehari-hari</li>
<li>Memimpin rapat perencanaan, rapat cecking, dan rapat terakhir sidang redaksi</li>
<li>Membuat perencanaan isi untuk setiap penerbitan</li>
<li>Bertanggung jawab terhadap isi redaksi penerbitan dan foto</li>
<li>Mengkoordinasi kerja para redaktur atau penanggungjawab rubrik/desk</li>
<li>Mengkoordinasikan alur perjalanan naskah dari para redaktur ke bagian setting atau lay out.</li>
<li>Mengkoordinator alur perjalanan naskah dari bagian setting atau lay out ke percetakan</li>
<li>Mewakili Pemred dalam berbagai acara baik ditugaskan atau acara mendadak</li>
<li>Mengembangkan, membina, menjalin lobi dengan sumber-sumber berita</li>
<li>Mengedit naskah, data, judul, foto para redaktur</li>
<li>Mengarahkan dan mensuvervisi kerja para redaktur dan reporter</li>
<li>Memberikan penilaian secara kualitatif dan kuantitatif kepada redaktur secara periodik.</li>
</ol>
<p><strong>6. Redaktur</strong></p>
<p>Redaktur (editor) sebuah penerbitan pers biasanya lebih dari satu. Tugas utamanya adalah melakukan editing atau penyuntingan, yakni aktivitas penyeleksian dan perbaikan naskah yang akan dimuat atau disiarkan. Di internal redaksi, mereka disebut Redaktur Desk (Desk Editor), Redaktur Bidang, atau Redaktur Halaman karena bertanggung jawab penuh atas isi rubrik tertentu dan editingnya. Seorang redaktur biasanya menangani satu rubrik, misalnya rubrik ekonomi, luar negeri, olahraga, dsb. Karena itu ia dikenal pula dengan sebutan “Jabrik” atau Penanggung Jawab Rubrik.</p>
<p>Berikut ini tugas seorang redaktur secara lebih terinci:</p>
<ol>
<li>Mengusulkan dan menulis suatu berita dan foto yang akan dimuat untuk edisi mendatang</li>
<li>Berkoordinasi dengan fotografer dan riset foto dalam pengadaan foto untuk  setiap penerbitan</li>
<li>Membuat lembar penugasan atau Term Of Reference (TOR) kepada para reporter dan fotografer</li>
<li>Mengarahkan dan membina reporter dalam mencari berita dan mengejar sumber berita</li>
<li>Memberikan penilaian kepada reporter baik penilaian kualitatif maupun kuantitatif.</li>
<li>Memberikan laporan perkembangan kepada atasannya yaitu Redaktur Pelaksana</li>
</ol>
<p><strong>7. Koordinator Liputan</strong></p>
<p>Koordinator Liputan memiliki tugas sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Memantau dan mengagendakan jadwal berbagai acara: seminar, press conference, acara DPR dll</li>
<li>Membuat mekanisme kerja komunikasi antara redaktur dan reporter</li>
<li>Memberikan lembar penugasan kepada reporter/wartawan dan fotografer</li>
<li>Mengadministrasikan tugas-tugas yang diberikan kepada setiap reporter</li>
<li>Memantau tugas-tugas harian para wartawan/reporter</li>
<li>Melakukan komunikasi setiap saat  kepada para redaktur, reporter/wartawan, dan fotografer</li>
<li>Memberikan penilaian kepada reporter/wartawan secara kuantitas maupun kualitas</li>
</ol>
<p><strong>8. Reporter</strong></p>
<p>Di bawah para editor adalah para reporter. Mereka merupakan “prajurit” di bagian redaksi. Mencari berita lalu membuat atau menyusunnya, merupakan tugas pokoknya.</p>
<p>Ini adalah jabatan terendah pada bagian redaksi. Tugasnya adalah melakukan reportase (wawancara dan sebagainya ke lapangan). Karena itu, merekalah yang biasanya terjun langsung ke lapangan, menemui nara sumber, dan sebagainya.</p>
<p>Tugas seorang reporter secara lebih terinci adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Mencari dan mewawancarai  sumber berita yang ditugaskan redaktur atau atasan</li>
<li>Menulis hasil wawancara, investasi, laporan kepada redaktur atau atasannya</li>
<li>Memberikan usulan berita kepada redaktur atau atasannya terhadap suatu informasi yang dianggap penting untuk diterbitkan</li>
<li>Membina dan menjalin lobi dengan sumber-sumber penting di berbagai instansi</li>
<li>Menghadiri acara press conferensi yang ditunjuk redaktur, atasannya, atau atas inisiatif sendiri.</li>
</ol>
<p><strong>9. Redaktur Bahasa / Korektor Naskah</strong></p>
<p>Seorang Redaktur Bahasa / Korektor Naskah memiliki tugas sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Memeriksa,mengedit, dan menyempurnakan naskah sesuai dengan penulisan bahasa Indonesia yang baik dan benar</li>
<li>Menyesuaikan naskah yang sudah diedit dalam bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Jurnalistik</li>
<li>Mengubah pengulangan kata-kata  yang sama dalam satu tulisan, sehingga kalimat dalam naskah menjadi bervariasi.</li>
<li>Mengedit penggunaan logika bahasa, alur naskah</li>
<li>Menyeragamkan style penulisan masing-masing redaktur, sehingga gaya penulisan seluruh naskah menjadi  sama</li>
<li>Memeriksa naskah kata per  kata, penggunaan titik, koma, tanda seru,  titik dua.</li>
<li>Mengedit penggunaan kata yang berasal dari bahasa asing,  bahasa daerah, bahasa slank sehingga mudah dimengerti pembaca.</li>
</ol>
<p><strong>10. Fotografer</strong></p>
<p>Fotografer (wartawan foto atau juru potret) tugasnya mengambil gambar peristiwa atau objek tertentu yang bernilai berita atau untuk melengkapi tulisan berita yang dibuat wartawan tulis. Ia merupakan mitra kerja yang setaraf dengan wartawan tulisa (reporter).</p>
<p>Jika tugas wartawan tulis menghasilkan karya jurnalistik berupa tulisan berita, opini, atau feature, maka fotografer menghasilkan Foto Jurnalistik (Journalistic Photography, Photographic Communications). Fotografer menyampaikan informasi atau pesan melalui gambar yang ia potret. Fungsi foto jurnalistik antara lain menginformasikan (to inform), meyakinkan (to persuade), dan menghibur (to entertain).</p>
<p>Adapun tugas seorang fotografer secara lebih terinci adalah sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Menjalankan tugas pemotretan yang diberikan redaktur atau atasannya</li>
<li>Melakukan pemotretan sumber berita, suasana acara, aktivitas suatu objek, lokasi kejadian, gedung, dan benda-benda lain</li>
<li>Mengusulkan konsep desain untuk cover majalah</li>
<li>Menyediakan foto-foto untuk mendukung naskah, artikel, dan berita</li>
<li>Mengarsip foto-foto, filem negatif, atau compact disk bagi kamera digital</li>
<li>Melaporkan setiap kegiatan pemotretan kepada atasan</li>
<li>Mempertanggungjawabkan setiap penggunaan filem negatif, baterai, atau compact disk  yang telah digunakan kepada perusahaan</li>
</ol>
<p><strong>11. Koresponden</strong></p>
<p>Selain reporter, media massa biasanya juga memiliki Koresponden (correspondent) atau wartawan daerah, yaitu wartawan yang ditempatkan di negara lain atau di kota lain (daerah), di luar wilayah di mana media massanya berpusat.</p>
<p><strong>12. Kontributor</strong></p>
<p>Kontributur atau penyumbang naskah/tulisan secara struktural tidak tercantum dalam struktur organisasi redaksi. Ia terlibat di bagian redaksi secara fungsional. Termasuk kontributor adalah para penulis artikel, kolomnis, dan karikaturis. Para sastrawan juga menjadi kontributor ketika mereka mengirimkan karya sastranya (puisi, cerpen, esai) ke sebuah media massa.</p>
<p>Wartawan Lepas (Freelance Journalist) juga termasuk kontributor. Wartawan Lepas adalah wartawan yang tidak terikat pada media massa tertentu, sehingga bebas mengirimkan berita untuk dimuat di media mana saja, dan menerima honorarium atas tulisannya yang dimuat.</p>
<p>Termasuk kontributor adalah Wartawan Pembantu (Stringer). Ia bekerja untuk sebuah perusahaan pers, namun tidak menjadi karyawan tetap perusahaan tersebut. Ia menerima honorarium atas tulisan yang dikirim atau dimuat.</p>
<p><strong>13. Riset, Pustaka,  dan Dokumentasi</strong></p>
<p>Bagian Riset, Pustaka, dan Dokumentasi memiliki tugas sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Mencari data-data, artikel, tulisan yang dibutuhkan untuk sebuah penulisan oleh reporter, redaktur, redaktur pelaksana, dan Pemimpin Perusahaan.</li>
<li>Mencari dan menata buku-buku yang berkaitan dengan tugas dan kerja para wartawan</li>
<li>Menata majalah, surat kabar, dan tabloid setiap hari dan menyimpannya dengan baik sesuai aturan</li>
<li>Melakukan kerja sama dengan bagian riset dan dokumentasi perusahaan lainnya seperti barter majalah, koran, tabloid, dan buku.</li>
<li>Mengusulkan suatu berita kepada redaksi bila dalam melaksanaan tugas menemukan data-data atau informasi penting</li>
</ol>
<p><strong>14. Artistik</strong></p>
<p>Bagian Artistik memiliki tugas sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Merancang cover atau kulit muka</li>
<li>Membuat dummy atau nomor contoh sebelum produk di cetak dan dijual ke pasa</li>
<li>Mendesain dan melay out setiap halaman dengan naskah, foto, dan angka-angka</li>
<li>Mengatur peruntukan halaman untuk naskah</li>
<li>Menulis judul berita,anak judul,  caption foto, nama penulis pada setiap naskah</li>
<li>Menulis nomor halaman, nama rubrik/desk, nomor volume terbit, hari terbit, dan tanggal terbit pada setiap edisi</li>
</ol>
<p><strong>15. Pracetak</strong></p>
<p>Bagian Pracetak memiliki tugas sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Membawa naskah yang sudah disetujui pemimpin redaksi ke percetakan untuk dicetak</li>
<li>Mengawasi proses pencetakan di percetakan</li>
<li>Menerima kondisi produk dalam keadaan baik dari percetakan</li>
<li>Bersama dengan bagian distribusi, segera mengedarkan produk tersebut ke pasar</li>
</ol>
<p><strong>16. Pemimpin Usaha </strong></p>
<p>Pemimpin Usaha berada dibawah Pemimpin Umum, sejajar dengan Pemimpiin Redaksi. Kalau Pemimpin Redaksi hanya berurusan dengan masalah keredaksian, maka Pemimpin Usaha khusus berurusan dengan masalah komersial.</p>
<p>Pemimpin  Usaha bertugas menyebarluaskan media massa, yakni melakukan pemasaran (marketing) atau penjualan (selling) media massa. Pemimpin Usaha ini membawahi Manajer Keuangan, Manajer Pemasaran, Manajer Sirkulasi / Distribusi, dan Manajer HRD (Human Resource Development).</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdurrosyid.wordpress.com/630/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdurrosyid.wordpress.com/630/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdurrosyid.wordpress.com/630/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdurrosyid.wordpress.com/630/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdurrosyid.wordpress.com/630/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdurrosyid.wordpress.com/630/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdurrosyid.wordpress.com/630/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdurrosyid.wordpress.com/630/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdurrosyid.wordpress.com/630/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdurrosyid.wordpress.com/630/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdurrosyid.wordpress.com&blog=922583&post=630&subd=abdurrosyid&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/08/13/mengenal-organisasi-pers/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a07d41286b9f4df5cb40314dff114a89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rosyid</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://abdurrosyid.files.wordpress.com/2009/08/org_pers.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">org_pers</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Semoga Allah Mengumpulkanmu bersama Khadijah *</title>
		<link>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/08/13/semoga-allah-mengumpulkanmu-bersama-khadijah/</link>
		<comments>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/08/13/semoga-allah-mengumpulkanmu-bersama-khadijah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 00:42:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>abdurrosyid</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sejauh Aku Melangkah]]></category>
		<category><![CDATA[akhwat]]></category>
		<category><![CDATA[ikhwan]]></category>
		<category><![CDATA[khadijah]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[nikah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abdurrosyid.wordpress.com/?p=625</guid>
		<description><![CDATA[Suatu hari, ada seseorang memberi komentar pada blog saya. Komentar biasa saja, menanyakan sesuatu mengenai artikel yang saya tulis. Beberapa hari kemudian, ia mengirimkan komentar lagi. Tapi kali ini saya rasakan ada yang sedikit berbeda. Bagian akhir dari komentar itu rasa-rasanya agak privat. Akhirnya saya hilangkan bagian akhir tersebut, dan komentar pun saya publish.
Beberapa hari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdurrosyid.wordpress.com&blog=922583&post=625&subd=abdurrosyid&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Suatu hari, ada seseorang memberi komentar pada blog saya. Komentar biasa saja, menanyakan sesuatu mengenai artikel yang saya tulis. Beberapa hari kemudian, ia mengirimkan komentar lagi. Tapi kali ini saya rasakan ada yang sedikit berbeda. Bagian akhir dari komentar itu rasa-rasanya agak privat. Akhirnya saya hilangkan bagian akhir tersebut, dan komentar pun saya publish.</p>
<p>Beberapa hari kemudian, dia mengirimkan sebuah email kepada saya. Dalam emailnya itu, dia memperkenalkan dirinya, singkat. Dia seorang akhwat, masih belia, tinggal di Serambi Mekah (Anda pasti tahu dimana itu: ujung barat negeri ini). Akhwat – atau ukht &#8211; adalah satu kata dalam bahasa Arab, maknanya saudara perempuan. Tapi sekarang akhwat lebih sering dipakai dengan makna khusus: gadis muslimah yang belum menikah, dan aktif dalam pengajian rutin pekanan.</p>
<p>Dia punya username email yang sangat bagus, dalam bahasa Arab. Feminin, tapi bernuansa dunia pergerakan yang militan. Sedangkan nama panggilan yang dicantumkan di emailnya juga dalam bahasa Arab, tapi mengandung unsur daerah, khas Serambi Mekah. Saya menduga, nama panggilan itu adalah nama dia yang sebenarnya. Tapi saya nggak tahu pasti, karena saya memang tidak pernah menanyakannya.<span id="more-625"></span></p>
<p>Tidak berselang lama ia kembali mengirimkan sebuah email kepadaku. Dalam email itu, ia bilang bahwa ia ’mengagumi’ aku. Aku sedikit heran, apa sih yang bisa dikagumi dari seorang ikhwan seperti aku.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Beberapa saat sesudah itu, tepatnya pada Nopember 2009, saya pergi ke Yaman untuk melakukan studi singkat tentang satu masalah, selama kurang lebih tiga bulan.</p>
<p>Ketika saya sedang berada di Yaman, ia kembali berkirim email. ”Afwan jika tidak sopan dan tidak etis,” tulisnya membuka isi email tersebut. Lalu ia bertanya, ”Akhi, apa antum sudah menikah?” Glodak! Pertanyaan ini memang biasa, tapi saya tahu bahwa ada maksud tertentu dibalik pertanyaan seperti ini. Dan belakangan saya tahu bahwa maksud tertentu itu memang benar ada.</p>
<p>Saya merasa agak kaget mendapati pertanyaan itu. Terbayang dalam pikiranku, ini bisa menjadi serius. Saya sebetulnya sangat tidak biasa dengan yang seperti ini. Seumur-umur saya tidak pernah pacaran, meski hanya saling berkirim surat cinta, sms mesra, email mesra, dan semacamnya. Bukan karena tidak ingin, tapi karena saya sudah bertekad untuk tidak melakukannya. Takut dosa. Karena itu, pada saat mendapati pertanyaan itu, saya merasa agak takut dan khawatir jika lambat laun tergiring pada komunikasi yang ’terlalu jauh’.</p>
<p>Saya juga merasa bahwa Serambi Mekah bukanlah tempat yang dekat dari Surabaya, tempat saya tinggal. Saya ragu apakah menikah dengan akhwat dari sana akan bisa berlangsung mudah. Dengan beberapa pertimbangan itu, saya pun menjawab pertanyaannya: “Ukhti, sekarang saya sedang berada di Yaman. Insyaallah paling cepat dua bulan lagi saya akan kembali ke Indonesia. Rencana saya, begitu kembali ke Indonesia, saya ingin segera menikah. Yassarallahu lana umuurana, wa lakum umuurakum. Amin.” Jawaban saya ini sebetulnya agak aneh. Lha wong saya belum ada calon, kok berani-beraninya menjawab seperti itu. Tapi, keinginan untuk menikah dalam waktu dekat memang ada. Cuma ya itu tadi, belum ada calon yang definitif.</p>
<p>Entah apa yang ia pahami dari jawaban saya. Hanya saja, dua hari kemudian ia membalas: ”Semoga Alloh memudahkan rencana akhi untuk menikah. Semoga Allah mempertemukan akhi dengan akhwat terbaik. Barokallohu lak.”</p>
<p>Saya bisa menangkap makna yang tersirat dari jawabannya itu. Dugaan kuat saya, ia pasti memahami bahwa saya sudah ada calon, dan akan menikah dalam waktu dekat. Dan belakangan saya tahu bahwa dia memang memahaminya seperti itu.</p>
<p>Sehabis itu, dia tidak pernah lagi berkirim apapun kepada saya. Saya jadi paham bahwa dia benar-benar akhwat yang serius. Tidak lagi macam-macam begitu ia memahami bahwa tidak ada prospek untuk sesuatu yang lebih jauh (baca: menikah). Saya salut.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Pada akhir Januari 2009, saya kembali lagi ke tanah air. Setelah beberapa lama kembali beraktivitas, pada bulan Maret 2009, salah seorang ustadz saya mengingatkan saya untuk segera menikah. Akhirnya, saat itu pula saya menulis proposal pernikahan saya.</p>
<p>Tapi sampai menginjak bulan Agustus 2009, Allah belum mempertemukan saya dengan jodoh saya. Ini berarti sudah enam bulan saya mencari, tapi belum dapat juga.</p>
<p>Tiba-tiba pada suatu hari, ketika saya sedang online di akun Yahoo saya, sebuah permintaan chat muncul. Tertulis disitu, dari akhwat yang dari Serambi Mekah itu. Saya masih bisa mengingatnya dengan baik. Tidak ada alasan untuk menolak permintaan chat itu. Dan, permintaan chat pun saya accept.</p>
<p>”Kaifa haluka ya akhi? Masih ingat saya?” tulisnya.</p>
<p>”Baik, alhamdulillah. Tentu saja masih ingat,” jawabku singkat.</p>
<p>”Gimana akhi pernikahan antum?” tanyanya to the point.</p>
<p>“Ana sudah berusaha semenjak Maret, sampai sekarang masih proses tapi kandas terus. Belum menemukan yang cocok,” jawabku mencoba untuk menjelaskan dengan singkat.</p>
<p>Habis itu dia menceritakan bagaimana dulu dia sempat ’mengagumi’ saya, dan merasa bahwa saya adalah ikhwan yang dia idam-idamkan, tapi kemudian dia memutuskan untuk ’mundur’ setelah saya menjawab bahwa saya akan segera menikah dalam waktu dekat.</p>
<p>Dia juga menceritakan bahwa ketika saya sedang berada di Yaman, dia bahkan sempat menghubungi salah seorang temannya yang ada disana. Dia tidak bilang untuk apa dia menghubungi temannya itu. Tapi saya menerka bahwa ketika itu dia berusaha keras untuk bisa menyampaikan maksudnya dengan lebih jelas kepada saya. Itu terkaan saya, nggak tahu benar apa tidak.</p>
<p>”Tapi ternyata antum bukan jodoh saya,” ungkapnya, membuat suasana jadi berbeda.</p>
<p>”Dua bulan setelah saat itu&#8230;,” dia menulis tapi kemudian berhenti sejenak, ”seorang laki-laki melamar saya.”</p>
<p>”Oh, alhamdulillah. Senang mendengarnya,” tukasku secara spontan.</p>
<p>”Tapi tenyata laki-laki itu jauh dari yang saya idam-idamkan. Dia masih sangat awam dengan agama,” jelasnya.</p>
<p>Sampai disini saya menduga bahwa dia akhirnya menolak laki-laki itu.</p>
<p>”Memangnya, ikhwan yang kayak gimana sih yang anti idam-idamkan?” tanyaku ingin tahu.</p>
<p>”Ikhwan sejati, yang bisa menjadi imam dalam keluarga,” jawabnya singkat tapi saya rasa sangat padat dan dalam maknanya.</p>
<p>”Yang ana utamakan dari seorang ikhwan adalah agama dan akhlaqnya,” urainya menjelaskan. Saya salut kepadanya. Betapa hebatnya dia, tidak memandang seorang ikhwan dari hartanya, rupanya, dan hal-hal material lainnya. Saya jadi malu dengan diri saya, yang merasa masih sulit untuk melepaskan diri dari pandangan yang bersifat ragawi terhadap seorang akhwat. Jangan-jangan, saya tidak berjodoh dengan dia karena dia jauh lebih baik daripada saya. Apakah demikian? Saya tidak tahu.</p>
<p>”Saya tahu, ikhwan yang subhanallah seperti antum pasti menginginkan seorang akhwat yang cantik luar dalam,” lanjutnya, kini berbicara tentang saya. Saya sebetulnya agak malu dengan ungkapannya ’ikhwan yang subhanallah seperti antum’. Memangnya saya ini ikhwan yang punya kelebihan apa? Saya hanyalah ikhwan yang biasa saja, pikirku. Tapi soal ’akhwat yang cantik luar dalam’ kayaknya dia benar one hundred percent. Wah, saya ini pingin enaknya saja ya. Ikhwan biasa saja, tapi ingin akhwat yang cantik luar dalam. Anda pasti tahu apa itu ’cantik luar dalam’. Cantik luar itu ya ’kinclong’, dan cantik dalam itu ’shalihah’. Pokoknya, akhwat yang kayak gitu mah bener-bener akhwat te-o-pe be-ge-te.</p>
<p>”Afwan, ukhti. Kalau sebagian besar akhwat gimana? Apa juga memandang ikhwan hanya dari agama dan akhlaqnya? Atau yang seperti itu hanya anti saja – seorang akhwat yang subhanallah,” tulisku bertanya. Saya memang sekalian ingin bertanya tentang hal ini, karena selama ini saya belum pernah tahu apa yang sebenarnya dicari oleh para akhwat. Dan kali ini giliran saya memujinya, bukan untuk basa-basi, tapi karena saya memang betul-betul terkesan dengan pandangannya mengenai ikhwan idaman. Dan saya rasa itu cukup bagi saya untuk menyebutnya sebagai akhwat yang subhanallah.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</p>
<p>Sesudah itu, dia meneruskan cerita tentang dirinya. Dia menulis,”Lalu aku melakukan istikharah.” Aku jadi kaget dengan kalimat ini. Muncul rasa penasaran yang sedemikian besar. Entah kenapa, pada titik ini perasaanku tiba-tiba berubah. Mendadak muncul perasaan tidak ingin kehilangan.</p>
<p>”Lalu hasilnya,” kuketikkan kalimat ini dengan cepat dan segera muncul di papan chat. Tapi belum juga ada jawaban.</p>
<p>”????,” ketikku meminta jawabannya segera.</p>
<p>”Lalu hasilnya apa, ukhti,” tanyaku lagi dengan penuh penasaran.</p>
<p>”????,” kekutikkan lagi rentetan tanda tanya karena tidak sabar mendengar jawabannya.</p>
<p>”Entah kenapa, tiba-tiba ana merasa mantap. Dan akhirnya, kuterima lamarannya. Kini sudah beberapa bulan pernikahan kami berjalan,” jelasnya. Entah kenapa, perasaanku jadi bercampur baur antara gembira, salut, simpati, kehilangan, dan lain-lain. Terlintas dalam benak saya rasa malu. Bagaimana dia bisa berhasil dengan istikharahnya, sementara saya belum juga mendapatkan kemantapan sesudah sekian istikharah yang selama ini kulakukan. Saya salut kepadanya. Dia begitu tawakkal kepada Allah, dan menyerahkan semua urusannya dalam sebuah sujud istikharah.</p>
<p>”Pemahaman agamanya masih awam, tidak juga rupawan, tapi di lingkungan sekitarnya dia dikenal sebagai orang yang suka menolong,” jelasnya mencoba untuk memberikan gambaran tentang suaminya.</p>
<p>”Semoga Allah memberkati pernikahan anti,” doaku untuknya.</p>
<p>”Akhi, kini ana mencoba untuk memahami semua yang terjadi. Semoga Allah mempertemukan kita di Surga,” tulisnya dengan begitu bijak. Saya sangat terharu. Dia benar-benar tulus.</p>
<p>Saya seketika bertanya kepada diriku sendiri. Dia sangat mungkin masuk Surga dengan ketawakalannya yang tinggi kepada Allah, tapi bagaimana dengan aku. Bisakah dan pantaskah aku masuk Surga?</p>
<p>”Ukhti, dulu itu, waktu ana bilang bahwa ana akan segera menikah, sebetulnya juga belum ada calon yang definitif. Tapi ana memang berkeinginan untuk segera. Dan, ketika itu ana hanya merasa nggak biasa dan nggak enak dengan cara komunikasi seperti itu,” tulisku mencoba menjelaskan.</p>
<p>”Itu bagus, akhi. Tetaplah istiqamah menjaga kebersihan hati,” ungkapnya singkat. Saya jadi malu pada diri sendiri. Apakah hati saya selama ini benar-benar besih?</p>
<p>”Tapi apa yang dulu anti lakukan itu juga sama sekali tidak salah. Semoga Allah kelak mengumpulkan anti bersama ibu kita, Khadijah,” jelasku dengan jujur. Sudah sama-sama diketahui, ketika dahulu Khadijah tertarik untuk menikah dengan Rasulullah, beliau tidak sungkan-sungkan mengutarakan maksudnya tersebut kepada Rasulullah. Dan karena itulah Khadijah kemudian dijadikan model oleh para muslimah yang berinisiatif untuk tidak sungkan-sungkan mengutarakan maksudnya untuk menikah dengan seorang laki-laki muslim. Saya pikir, apa yang dilakukan oleh Khadijah benar-benar luar biasa. Dan karena itu, para akhwat yang berani mencontoh apa yang beliau lakukan juga luar biasa. Adapun anggapan bahwa akhwat yang melakukan hal itu kesannya kurang sopan, kurang etis, atau kurang tahu malu, saya rasa itu hanyalah bagian dari tradisi, yang sama sekali tidak ada landasannya dalam Islam.</p>
<p>”Akhi, apa antum mau coba akhwat-akhwat dari Serambi Mekah? Insyaallah disini banyak akhwat yang lebih dari ana,” tiba-tiba dia memberikan kejutan kepada saya. Ya Allah, dia kini hendak menawarkan seorang akhwat kepada saya? Betapa baiknya dia. Betapa tulusnya dia. Dan akhwat seperti apa yang lebih baik dari dia?</p>
<p>”Antum punya murobbi?” tulisnya lagi menghentikan renunganku. Murobbi adalah pembimbing pengajian pekanan. Dia menanyakan hal itu, tidak syak lagi, dengan maksud agar nanti murobbi si akhwat yang dia tawarkan bisa menghubungi murobbiku, untuk keperluan ’penawaran’. Ya Allah, serius sekali dia. Dan betapa tulusnya dia.</p>
<p>Tapi, saya tidak menjawab. Bukan karena hendak menolak, tapi karena tidak tahu harus menjawab apa. Mungkin juga karena masih ’awang-awangen’ dengan jauhnya Serambi Mekah.</p>
<p>Ukhti, saya benar-benar bangga kepadamu. Jika engkau pernah ’kagum’ kepadaku, maka akupun benar-benar kagum kepadamu. Ketawakalanmu kepada Allah, kelapangan dadamu, ketulusanmu, semua itu telah mengajariku banyak hal. Aku benar-benar banyak belajar darimu. Semoga Allah memberkati pernikahan anti. Semoga Allah kelak mengumpulkan anti bersama ibu kita, Khadijah – radhiyallahu ’anha. Dan semoga Allah mengumpulkan kita semua, hamba-hamba-Nya yang tegar di jalan dakwah ini, di Surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan. Bersama-sama dengan para nabi, para rasul, para syuhada, para shiddiqin, dan orang-orang yang shalih.</p>
<p>Dan semoga Allah segera mengkaruniakan kepadaku seorang istri yang shalihah, yang bisa menemaniku untuk bersama-sama mengarungi samudera kehidupan yang fana ini, menuju kebahagiaan abadi di akhirat nanti. Amin ya Rabbal ’Alamin.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>*) Ini cerpen, tapi bukan fiksi. Sebetulnya banyak hal yang mungkin jika saya tuliskan akan membuat cerita jadi lebih menarik. Tapi saya malu untuk menuliskannya. Cukuplah begini saja, dan semoga bisa ditarik hikmah dan pelajarannya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/abdurrosyid.wordpress.com/625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/abdurrosyid.wordpress.com/625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/abdurrosyid.wordpress.com/625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/abdurrosyid.wordpress.com/625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/abdurrosyid.wordpress.com/625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/abdurrosyid.wordpress.com/625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/abdurrosyid.wordpress.com/625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/abdurrosyid.wordpress.com/625/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/abdurrosyid.wordpress.com/625/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/abdurrosyid.wordpress.com/625/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=abdurrosyid.wordpress.com&blog=922583&post=625&subd=abdurrosyid&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abdurrosyid.wordpress.com/2009/08/13/semoga-allah-mengumpulkanmu-bersama-khadijah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a07d41286b9f4df5cb40314dff114a89?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Rosyid</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>