Rahang, Bekam, dan Akupunktur 5 November, 2009
Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.Tags: akupunktur, bantal panas, bekam, hijamah, rahang
add a comment
Ini adalah kelanjutan mengenai kisah saya berjuang memulihkan cedera rahang saya. Ini adalah tulisan yang ketiga. Ini dia tulisan sebelumnya, tulisan yang kedua.
Bulan Oktober telah lewat, dan kini sudah awal Nopember. Langkah terbaru yang saya ambil dalam rangka mencari sarana agar Allah memberikan kesembuhan adalah dengan berbekam (hijamah) dan akupunktur. Keduanya tidak saya lakukan secara bersamaan. Hijamah terlebih dahulu. Dua pekan kemudian baru akupunktur.
Saya dibekam pada dua titik. Satu di punggung bagian atas, dan satunya lagi di atas kepala saya. Saya pun harus bercukur gundul menjelang bekam karena salah satu titik yang akan dibekam adalah kepala saya. Sekalian biar rambut saya berganti dengan yang baru.
Adapun akupunktur dilakukan pada beberapa titik di telinga kanan saya, juga tepat di TMJ saya, dan di pipi bawah saya. Sehabis penusukan, jarum-jarum dibiarkan pada posisinya selama 30 menit. Kemudian, saya di-massage pada bagian pundak, leher, dan kepala saya. Setelah itu baru kemudian jarum-jarum akupunkturnya dilepas. Alhamdulillah, lega sekali rasanya sesudah itu. (lagi…)
Sekarang, Take It Easy tapi Tetap Berusaha 3 Oktober, 2009
Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.Tags: bunyi, cedera, klik, rahang
1 comment so far
Ini adalah kelanjutan dari cerita saya sebelumnya, mengenai bunyi klik yang kadang muncul pada rahang kanan saya ketika dibuka terlalu lebar. Setelah berusaha mengistirahatkan rahang saya dari pembukaan yang terlalu lebar, plus kompres dan krim glucosamine, saya melihat progresnya jalan di tempat saja – atau barangkali membaik tapi sangat perlahan-lahan. Yang jelas, walhamdulillah, tidak memburuk.
Kemarin, dokter spesialis bedah plastik yang menangani saya bilang kalau beliau angkat tangan. Artinya, menurut beliau, tidak ada lagi alternatif solusi lainnya. Bahkan operasi pun, kata beliau, tidak menjamin akan membuat segalanya lebih baik. Bisa-bisa, malah bikin keadaan jadi lebih buruk. Karena itu, pesan beliau hanya satu: “Tunggu saja (sampai hilang sendiri).” Saya pikir-pikir, bener juga tuh.
Selama beberapa hari ini saya agak stres karena progres yang amat super lambat (dasarnya, saya ini memang nggak sabaran kalau harus menunggu). Sebetulnya sih yang saya alami ini bisa dikatakan tidak mengganggu. Tidak ada rasa sakit atau nyeri. Tidak ada sakit kepala. Rahang juga tetap bisa dibuka dan ditutup dengan normal. Tidak ada ketidaknyamanan. Semuanya nyaman-nyaman saja. Pas bicara normail-normal saja. Pas makan juga normal-normal. Kecuali satu hal, kadangkala kalau dibuka terlalu lebar atau makan sesuatu yang terlalu kenyal atau terlalu keras, muncul bunyi klik. tapi itupun tidak keras. Pelan sekali. Pernah seseorang disamping saya kuminta mendengarkan, ternyata dia nggak dengar bunyi klik tersebut. Adapun mengapa saya mendengarnya lumayan jelas – dan seringkali saya sendiri juga mendengarnya sangat pelan atau hampir tak berbunyi – adalah karena posisi sendi rahang itu persis di sebelah telinga. Maklum saja. (lagi…)
Selamat Tinggal, Ngebut! 8 September, 2009
Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.Tags: jalan, kecepatan, melaju, motor, ngebut
2 comments
Kayaknya kecelakaan berkendara yang terakhir kali saya alami benar-benar membuat saya berucap selamat tinggal pada kebiasaan ngebut di jalan. Sebelum ini saya memang biasa memacu kuda besi saya pada kecepatan yang tergolong tinggi. Kalau didalam kota, saya paling sering ngebut di Jl. Jemursari yang membentang lurus dari utara ke selatan. Beberapa kali saya menggeber motor saya di jalan tersebut pada kecepatan 95-100 km/jam. Dan terbukti, di jalan favorit saya itulah saya terakhir kali jatuh. Dan kalau nggak terjatuh begitu, mungkin saya nggak akan pernah kapok untuk ngebut.
Kalau diluar kota, saya biasa ngebut di jalan lebar Surabaya – Babat. Saya sering memacu motor di jalan ini pada kecepatan konstan 110 – 115 km/jam. Sebetulnya saya ingin memacu motor lebih cepat lagi, tapi karena itu sudah kemampuan maksimal motor (gas sudah pol), terpaksa saya nggak bisa melaju lebih cepat lagi. Sejauh pengalaman saya, hampir tidak ada kendaraan lain yang melaju dengan kecepatan tersebut, kecuali satu atau dua mobil pribadi saja. Bahkan saya pernah melaju di jalan Surabaya – Babat tanpa ada satupun kendaraan yang mendahului saya. Sebaliknya, saya terus mendahului kendaraan-kendaraan yang ada di jalan.
Kalau sudah melaju dengan kencang seperti itu, memang kita nggak bisa santai sewaktu berkendara. Mata harus selalu awas, khawatir kalau tiba-tiba ada orang yang menyeberang jalan, atau ada lubang di tengah jalan. Dan kalau pas melewati jembatan yang permukaannya jalannya lebih tinggi, motor pasti sedikit terbang. Sangat nikmat rasanya. (lagi…)
Alhamdulillah, Hanya Cedera Ringan 2 September, 2009
Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.Tags: bunyi, cedera, klik, rahang, tmj, tulang
1 comment so far
Beberapa bulan yang lalu, untuk yang kesekian kalinya (dan semoga yang terakhir) saya mengalami kecelakaan sewaktu naik kuda besi. Sisi kanan kepala saya menghantam jalan. Alhamdulillah wa bi ‘aunillah, saya pakai helm teropong. Saya pun tidak lecet sama sekali. Hanya sedikit bengkak, sedikit saja.
Sesuai teori penanganan cedera sepakbola yang saya tahu, dalam perjalanan balik (masih dengan motor yang sudah ’sliring’ semua) saya membeli beberapa buah es batu. Begitu sampai, tanpa menunggu masuk rumah, saya langsung mengkompres sisi kanan kepala saya dengan beberapa buah es batu tersebut. Alhamdulillah, saya telah melakukan P3K yang bagus.
Besok atau lusanya, saya merasakan sesuatu di sekitar rahang kanan saya. Meski sejak awal tidak ada nyeri sama sekali, namun saya mendapati bunyi klik di area rahang saya ketika membuka mulut lebar-lebar lalu menutupnya kembali. (lagi…)
Semoga Allah Mengumpulkanmu bersama Khadijah * 13 Agustus, 2009
Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.Tags: akhwat, ikhwan, khadijah, menikah, nikah
1 comment so far
Suatu hari, ada seseorang memberi komentar pada blog saya. Komentar biasa saja, menanyakan sesuatu mengenai artikel yang saya tulis. Beberapa hari kemudian, ia mengirimkan komentar lagi. Tapi kali ini saya rasakan ada yang sedikit berbeda. Bagian akhir dari komentar itu rasa-rasanya agak privat. Akhirnya saya hilangkan bagian akhir tersebut, dan komentar pun saya publish.
Beberapa hari kemudian, dia mengirimkan sebuah email kepada saya. Dalam emailnya itu, dia memperkenalkan dirinya, singkat. Dia seorang akhwat, masih belia, tinggal di Serambi Mekah (Anda pasti tahu dimana itu: ujung barat negeri ini). Akhwat – atau ukht – adalah satu kata dalam bahasa Arab, maknanya saudara perempuan. Tapi sekarang akhwat lebih sering dipakai dengan makna khusus: gadis muslimah yang belum menikah, dan aktif dalam pengajian rutin pekanan.
Dia punya username email yang sangat bagus, dalam bahasa Arab. Feminin, tapi bernuansa dunia pergerakan yang militan. Sedangkan nama panggilan yang dicantumkan di emailnya juga dalam bahasa Arab, tapi mengandung unsur daerah, khas Serambi Mekah. Saya menduga, nama panggilan itu adalah nama dia yang sebenarnya. Tapi saya nggak tahu pasti, karena saya memang tidak pernah menanyakannya. (lagi…)
My Bio : Me and Women 26 Juli, 2009
Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.Tags: akhwat, biografi, perempuan, pergaulan, wanita
1 comment so far
Sewaktu kecil, saya adalah seorang anak yang pemalu, atau bahkan mungkin sangat pemalu. Dan lebih khusus lagi, terhadap makhluk yang bernama wanita. Ketika saya duduk di Sekolah Dasar, saya selalu mengambil tempat duduk di deretan teman-teman saya yang laki-laki. Rasanya malu kalau duduk dekat-dekat dengan teman-teman perempuan. Yang barangkali lucu, suatu ketika guru wali kelas saya memerintahkan beberapa siswa laki-laki untuk duduk sebangku dengan siswa perempuan. Dan apesnya, saya termasuk diantara siswa-siswa yang mendapatkan perintah tersebut. Saya harus duduk sebangku dengan siswa perempuan! Pertama kali mendapatkan perintah itu, muka saya langsung merah merona, jantung berdegup kencang, dan keringat dingin pun bercucuran. Wah, malu banget rasanya!
Pertama-tama, dengan sangat terpaksa saya duduk sebangku dengan teman perempuan tersebut. Namun setelah dua tiga hari, saya mulai mencari cara untuk bisa kembali duduk sebangku dengan siswa laki-laki. Saya pun mencoba ‘berkolusi’ dengan seorang teman perempuan lain yang juga mendapatkan perintah yang sama. Saya minta dia untuk duduk sebangku dengan siswa perempuan yang sebangku dengan saya. Dengan demikian, saya bisa duduk sebangku dengan siswa laki-laki yang sebangku dengannya. (lagi…)
Masa Kecilku: Menjadi Khatib Cilik 24 Juli, 2009
Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.Tags: kecil, khatib, masa
add a comment
Salah satu hal yang sulit saya lupakan mengenai masa beliaku adalah keakrabanku dengan podium. Seingat saya, bakat saya berdiri diatas podium mulai terlihat ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar (ibtidaiyah). Saat itu, saya berhasil menjadi juara lomba berpidato untuk para santri, di masjid tempat saya mengaji setiap hari. Meski hanya tingkat masjid kampung, namun saya ketika itu sudah cukup bangga dan senang. Pun kedua orang tua saya. Mungkin sama bangganya dengan orang tua zaman sekarang ketika anaknya menjadi juara Pildacil, meski hanya tingkat sekolah atau kampung.
Karena bakat saya naik podium, para guru mengamanahi saya untuk menyampaikan ‘kalimat perpisahan dan terima kasih’ dalam acara perpisahan di sekolah ibtidaiyah. Ada kejadian lucu ketika itu. Pas saya sedang menyampaikan pidato, tiba-tiba saya lupa apa yang harus saya ucapkan (karena saya berpidato dengan cara menghafal, maklum masih kecil). Secara spontan, saya berkata kepada para hadirin dengan lugunya, “Maaf, saya lupa.” Meskipun ini sedikit konyol, namun saya setelah dewasa cukup menghargai spontanitas saya itu. Sebab, kebanyakan anak barangkali hanya akan diam dan tersipu-sipu tanpa bisa berkata-kata dalam keadaan seperti itu. Namun saya tetap bisa berkata-kata, meski hanya berucap singkat ‘Maaf, saya lupa’ lalu mengucap salam. (lagi…)
Penduduk Yaman yang Unik 1 Juni, 2009
Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.Tags: budaya, jambiyyah, orang, pakaian, penduduk, qat, sanaa, yaman, zaidiyah
1 comment so far
Lagi, cerita saya tentang Yaman. Kali ini tentang orang-orangnya. Sana’a adalah ibukota Yaman, layaknya Jakarta kalau disini. Karena itu, orang-orang yang berada di Sana’a bukanlah hanya orang asli Sana’a. Orang-orang dari berbagai pelosok Yaman tentunya ada di kota ini. Mahasiswa, pedagang, profesional, sopir, dan pengemis sekalipun. Salah satu bukti bahwa sangat banyak orang dari daerah yang tinggal di Sana’a adalah ‘matinya’ kota ini pada Hari Raya Idul Adha, karena sebagian besar orang mudik ke daerahnya masing-masing. Oh ya, Idul Adha di Yaman, sebagaimana pula di hampir seluruh negara Arab, menyerupai Idul Fitri di negeri kita ini. Saat Idul Adha, mereka saling meminta maaf, saling bersilaturahim, dan juga mudik.
Karena orang dari berbagai daerah ada di Sana’a, kesan saya tentang orang-orang di Sana’a mungkin cukup mewakili untuk bisa dikatakan sebagai kesan saya tentang penduduk Yaman itu sendiri. Memang ada yang bilang bahwa penduduk propinsi Hadramaut, yang cukup jauh dari Sana’a, jauh lebih lembut dan santun daripada orang-orang yang ada di Sana’a ataupun propinsi yang lainnya. Namun, saya juga tidak mendapat kesan bahwa orang-orang di Sana’a itu kasar. Mungkin ada juga yang kasar sih, tapi alhamdulillah saya tidak menjumpainya. (lagi…)
Sana’a Yang Kering 27 Mei, 2009
Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.Tags: cuaca, kering, sanaa, udara, yaman
add a comment
Beberapa bulan yang lalu, selama kurang lebih 3 bulan saya berada di Sana’a, ibukota Yaman Bersatu. Dari Jakarta, pesawat yang saya tumpangi terlebih dahulu singgah sebentar di Dubai, ibukota UAE, dan kemudian menuju ke kota Sana’a. Kesan pertama saya tentang Sana’a tentu saja adalah bandar udaranya.
Bandar udara Sana’a, yang saya duga sebagai bandar udara internasional terbesar di Yaman, kelihatan sangat bersahaja. Tidak semewah Sukarno – Hatta, atau Juanda sekalipun. Ini memberikan kesan awal kepada saya bahwa Sana’a dan Yaman mungkin sama bersahajanya dengan bandar udara internasional terbesarnya.
Saya sampai di bandara tengah malam. Dari bandara, saya dan sahabat seperjalanan saya, Ustadz Ajid Muslim, segera berangkat menuju pemondokan kami. Kami naik sebuah mobil sederhana, ditemani oleh seorang sahabat yang bekerja di yayasan yang mengundang kami. (lagi…)
Rahangku Retak? 13 Mei, 2009
Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.Tags: kecelakaan, rahang, retak
add a comment
Beberapa waktu yang lalu saya terpaksa harus periksa ke rumah sakit karena saya masih merasakan sedikit gangguan pada rahang saya, akibat kecelakaan di jalan sebulan lebih yang lalu. Sebetulnya, kondisi saya sudah jauh lebih baik daripada beberapa saat setelah kecelakaan. Namun saya masih merasakan ada yang belum sepenuhnya normal, karena setiap kali saya membuka mulut lebar muncul bunyi klik pada rahang saya.
Di rumah sakit saya masuk Poli Bedah Plastik. Oleh sang dokter, saya terlebih dahulu diminta untuk foto rontgen. Setelah itu, dokter pun menganalisa hasil foto tersebut. Namun, dari foto yang ada tidak dapat dilihat adanya kelainan pada susunan tulang rahang saya, katanya kemungkinan karena foto dilakukan pada waktu yang agak lama dari terjadinya kecelakaan. Hanya saja, dokter memperkirakan bahwa mungkin terjadi sedikit retak pada tulang rahang saya. Ia hanya meminta saya untuk tidak membuka mulut terlalu lebar ataupun menyantap makanan yang terlalu keras. Setelah beberapa lama, mungkin enam pekan atau lebih lama dari itu, diharapkan tulang-tulang rahang saya akan kembali normal dengan sendirinya. Semoga saja. Amin. (lagi…)


