jump to navigation

Penduduk Yaman yang Unik 1 Juni, 2009

Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Berkelana.
Tags: , , , , , , , ,
trackback

Lagi, cerita saya tentang Yaman. Kali ini tentang orang-orangnya. Sana’a adalah ibukota Yaman, layaknya Jakarta kalau disini. Karena itu, orang-orang yang berada di Sana’a bukanlah hanya orang asli Sana’a. Orang-orang dari berbagai pelosok Yaman tentunya ada di kota ini. Mahasiswa, pedagang, profesional, sopir, dan pengemis sekalipun. Salah satu bukti bahwa sangat banyak orang dari daerah yang tinggal di Sana’a adalah ‘matinya’ kota ini pada Hari Raya Idul Adha, karena sebagian besar orang mudik ke daerahnya masing-masing. Oh ya, Idul Adha di Yaman, sebagaimana pula di hampir seluruh negara Arab, menyerupai Idul Fitri di negeri kita ini. Saat Idul Adha, mereka saling meminta maaf, saling bersilaturahim, dan juga mudik.

Karena orang dari berbagai daerah ada di Sana’a, kesan saya tentang orang-orang di Sana’a mungkin cukup mewakili untuk bisa dikatakan sebagai kesan saya tentang penduduk Yaman itu sendiri. Memang ada yang bilang bahwa penduduk propinsi Hadramaut, yang cukup jauh dari Sana’a, jauh lebih lembut dan santun daripada orang-orang yang ada di Sana’a ataupun propinsi yang lainnya. Namun, saya juga tidak mendapat kesan bahwa orang-orang di Sana’a itu kasar. Mungkin ada juga yang kasar sih, tapi alhamdulillah saya tidak menjumpainya.

Jambiyyah dan Sarung

Orang-orang Yaman, sebagaimana kebanyakan orang Arab, masih biasa berjubah dan bersurban dalam kehidupan sehari-hari, utamanya saat datang ke masjid. Tapi yang bercelana juga tidak sedikit, setidaknya di Sana’a. Dan ada beberapa hal yang saya rasa khas Yaman.

Yang pertama, mereka itu sangat terbiasa mengenakan jas dalam keseharian. Bahkan, tukang penjual sayur atau pedagang kaki lima juga pakai jas sewaktu menjajakan dagangan mereka. Kayaknya, jas sudah menjadi bagian dari keseharian mereka. Tidak seperti disini, yang baru pakai jas kalau hadir dalam seminar, pesta pernikahan, atau acara-acara resmi lainnya. Karena saking biasanya jas bagi mereka, pakaian inipun dijual di jalan-jalan oleh banyak pedagang kaki lima. Tapi, yang dijual di toko-toko atau butik juga ada, yang tentunya lebih mewah dan lebih mahal.

Hal khas yang kedua adalah kebiasaan memakai jambiyyah dalam keseharian mereka. Jambiyyah adalah sebilah pisau atau belati yang disarungkan, kemudian dibelitkan pada sebuah sabuk yang dilingkarkan pada pinggang. Mirip keris dalam tradisi Jawa. Hanya saja, jambiyyah selalu diletakkan di bagian depan badan, dan tidak pernah diletakkan si bagian belakang sebagaimana keris.

Jambiyyah merupakan bagian dari pakaian tradisional penduduk Yaman. Orang-orang disana menganggap jambiyyah ini sekadar ‘silah abyadh’ alias senjata hiasan saja. Dan karenanya, jambiyyah banyak dijual di pasar-pasar, dengan ukuran, corak dan motif yang beragam.

Jadi, jangan heran kalau di jalan-jalan dan dimana saja Anda akan menemui mereka membawa belati tipis bernama jambiyyah ini. Tapi Anda tidak perlu takut, karena mereka tidak suka berbuat nekat dan gila, sebagaimana orang-orang di negeri kita yang tidak jarang menggunakan senjata tajam untuk kejahatan.

Masih tentang pakaian, penduduk Yaman memiliki satu kesamaan dengan orang Jawa: masih suka memakai sarung. Setidak-tidaknya, orang-orang dusun (badui) di Yaman masih biasa memakai sarung dalam keseharian mereka. Namun, sarung mereka lebih tebal dan mereka biasanya memakainya sebatas betis dan tidak sampai mata kaki sebagaimana kebiasaan kita disini.

Bahasa Penduduk Yaman

Orang-orang Yaman konon memiliki banyak dialek bahasa Arab. Dan menurut saya, tidak mudah memahami dialek-dialek mereka. Mungkin kita bisa memahami sekian persen, tapi untuk bisa memahami dialek tersebut seratus persen rasanya tidak mudah. Namun demikian, bahasa Arab standar (al-‘arabiyyah al-fusha) tetap merupakan bahasa resmi, yang lazim dipakai dalam forum-forum resmi.

Kain Hitam dan Mata Lentik Wanita Yaman

Nah, kalau yang ini sedikit cerita soal para wanita Yaman. Tidak seperti di negeri kita ini, para wanita di Sana’a senantiasa mengenakan pakaian serba tertutup berwarna hitam. Yang tampak dari mereka hanyalah kedua mata dan telapak tangan mereka. Jadi, jangan berharap di Sana’a Anda bisa menyaksikan wanita berpakaian seksi di jalan-jalan. Anda bahkan tidak bisa berharap para wanita itu mengenakan jenis pakaian yang berbeda-beda atau warna yang bermacam-macam. Pakaian mereka hanya satu jenis, dan warnanya pun hanya satu: hitam. Mungkin, akan sulit ya mengenali seorang wanita disana, lha wong semuanya serba hitam dan hanya kelihatan matanya saja. Tapi, saya rasa itu lebih bisa menjaga hati kaum laki-laki. Dan wanita menjadi lebih dihormati. Walhasil, kehidupan pun menjadi lebih relijius.

Kuliah Tanpa Tas

Oh ya, ada hal unik lain yang saya temui di Sana’a.  Kebetulan tempat pemondokan saya berada tepat di depan Universitas Sana’a. Sehingga, lalu lalang para mahasiswa – dan mahasiswi – menjadi pemandangan yang setiap hari saya lihat. Hal uniknya adalah, para mahasiswa dan mahasiswi itu hampir semuanya tidak membawa tas ke kampus. Para mahasiswa hanya membawa beberapa buku. Demikian pula para mahasiswinya, hanya membawa beberapa buku yang mereka letakkan di depan dada mereka sembari berjalan. Saya jadi bertanya, apa mereka tidak butuh buku teks yang tebal-tebal, yang membutuhkan sebuah tas untuk membawanya? Atau, buku-buku teks tersebut ada di kampus dan tidak mereka bawa pulang. Nggak tahu lah.

Kebiasaan ‘Nyandu’ Setiap Sore

Ada lagi yang paling khas dari penduduk Yaman, yaitu kebiasaan mengkonsumsi satu jenis dedaunan yang bernama qat. Biasanya mereka mengunyah dedaunan ini pada sore hari. Asal tahu saja, dedaunan ini memiliki sedikit efek psikotropika. Tidak sampai membuat seseorang ‘on’, namun sudah pasti menyebabkan efek kecanduan. Orang-orang disana menganggap bahwa dedaunan ini meningkatkan gairah kerja, dan membuat mereka tidak mudah capek. Dan yang menarik, dedaunan ini legal di Yaman, namun sepertinya tidak legal di luar Yaman.

Ketika seseorang sedang mengunyah dedaunan ini, salah satu bagian pipinya kelihatan menggelembung, seperti orang yang sedang mengulum sebuah permen sebesar bola pingpong. Dan jangan heran jika pada sore hari Anda akan menjumpai banyak orang-orang di Yaman yang pipinya menggelembung, karena sedang mengkonsumsi qat.

Madzhab Kaum Muslim Yaman

Umat Islam adalah mayoritas di Yaman. Mereka terbagi dalam dua madzhab besar: Syafi’iyah dan Zaidiyah. Madzhab yang terakhir ini sering dimasukkan dalam sekte Syi’ah, namun sebetulnya madzhab tersebut sangat dekat dengan madzhab Sunnah. Saya mungkin bisa mengatakan perbedaan antara keduanya hanya cara bershalawat, kalimat iqamat, dan kalimat adzan. Ketika bershalawat, mereka menambahkan ‘wa ‘ala aalihi’ sesudah menyebut nama Rasulullah saw. Ketika adzan, mereka menambahkan kalimat ‘Hayya ‘alaa khairil ‘amal’ sesudah ‘Hayya ‘alal falah’. Demikian pula dengan kalimat iqamat mereka, disamping mereka melafalkan semua kalimat iqamat dua kali dua kali, persis seperti adzan. Selain perbedaan kecil ini, saya tidak melihat mereka berbeda. Dan dalam kenyataannya, merekapun bisa hidup berdampingan satu dengan yang lainnya.

About these ads

Komentar»

1. Muchlas Elba - 15 Juni, 2009

tengkyu buat artikelnya….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: