Rahang, Bekam, dan Akupunktur 5 November, 2009
Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.Tags: akupunktur, bantal panas, bekam, hijamah, rahang
add a comment
Ini adalah kelanjutan mengenai kisah saya berjuang memulihkan cedera rahang saya. Ini adalah tulisan yang ketiga. Ini dia tulisan sebelumnya, tulisan yang kedua.
Bulan Oktober telah lewat, dan kini sudah awal Nopember. Langkah terbaru yang saya ambil dalam rangka mencari sarana agar Allah memberikan kesembuhan adalah dengan berbekam (hijamah) dan akupunktur. Keduanya tidak saya lakukan secara bersamaan. Hijamah terlebih dahulu. Dua pekan kemudian baru akupunktur.
Saya dibekam pada dua titik. Satu di punggung bagian atas, dan satunya lagi di atas kepala saya. Saya pun harus bercukur gundul menjelang bekam karena salah satu titik yang akan dibekam adalah kepala saya. Sekalian biar rambut saya berganti dengan yang baru.
Adapun akupunktur dilakukan pada beberapa titik di telinga kanan saya, juga tepat di TMJ saya, dan di pipi bawah saya. Sehabis penusukan, jarum-jarum dibiarkan pada posisinya selama 30 menit. Kemudian, saya di-massage pada bagian pundak, leher, dan kepala saya. Setelah itu baru kemudian jarum-jarum akupunkturnya dilepas. Alhamdulillah, lega sekali rasanya sesudah itu. (lagi…)
Be Happy, Come On… 4 Oktober, 2009
Posted by abdurrosyid in Esai-esai Kehidupan.Tags: gembira, takdir
add a comment
Sepanjang engkau bisa gembira, maka bergembiralah. Bahkan, berusahalah selalu untuk bisa gembira. Memiliki pemahaman bahwa gembira itu kurang utama atau bahkan dosa, jelas adalah sebuah kesalahan. Allah Ta’ala sendiri berkali-kali menyatakan bahwa orang-orang yang beriman itu tidak pernah takut dan tidak pernah bersedih hati. Takut artinya gelisah tentang masa depan, sedangkan sedih adalah gelisah atas sesuatu yang telah berlalu.
Berusahalah untuk selalu gembira, karena hal tersebut adalah perjuangan. Maksudnya, berusaha untuk selalu bergembira jelas bukan perkara yang mudah, karena hal-hal yang tidak kita sukai selalu saja kita alami dari waktu ke waktu. Dan sudah tentu, hal-hal yang tidak menyenangkan tersebut berpotensi membuat kita bersedih. Nah, tantangannya adalah bagaimana agar Anda tetap bisa bergembira meskipun hal-hal yang tidak menyenangkan menimpa diri Anda.
Untuk bisa selalu gembira, Anda harus selalu bisa menerima hal-hal pahit yang Anda alami. Anda harus bisa memandang hal-hal tersebut sebagai takdir (ketentuan) Allah yang tidak mungkin dielakkan, seraya memandang ke depan secara optimis. Jangan pernah berpikir: “Seandainya saja hal itu tidak terjadi.” Jangan pernah bergumam: “Seandainya saja…” karena hal tersebut adalah pintu syetan yang akan merusak keimanan dan keyakinan Anda pada takdir Allah. (lagi…)
Sekarang, Take It Easy tapi Tetap Berusaha 3 Oktober, 2009
Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.Tags: bunyi, cedera, klik, rahang
1 comment so far
Ini adalah kelanjutan dari cerita saya sebelumnya, mengenai bunyi klik yang kadang muncul pada rahang kanan saya ketika dibuka terlalu lebar. Setelah berusaha mengistirahatkan rahang saya dari pembukaan yang terlalu lebar, plus kompres dan krim glucosamine, saya melihat progresnya jalan di tempat saja – atau barangkali membaik tapi sangat perlahan-lahan. Yang jelas, walhamdulillah, tidak memburuk.
Kemarin, dokter spesialis bedah plastik yang menangani saya bilang kalau beliau angkat tangan. Artinya, menurut beliau, tidak ada lagi alternatif solusi lainnya. Bahkan operasi pun, kata beliau, tidak menjamin akan membuat segalanya lebih baik. Bisa-bisa, malah bikin keadaan jadi lebih buruk. Karena itu, pesan beliau hanya satu: “Tunggu saja (sampai hilang sendiri).” Saya pikir-pikir, bener juga tuh.
Selama beberapa hari ini saya agak stres karena progres yang amat super lambat (dasarnya, saya ini memang nggak sabaran kalau harus menunggu). Sebetulnya sih yang saya alami ini bisa dikatakan tidak mengganggu. Tidak ada rasa sakit atau nyeri. Tidak ada sakit kepala. Rahang juga tetap bisa dibuka dan ditutup dengan normal. Tidak ada ketidaknyamanan. Semuanya nyaman-nyaman saja. Pas bicara normail-normal saja. Pas makan juga normal-normal. Kecuali satu hal, kadangkala kalau dibuka terlalu lebar atau makan sesuatu yang terlalu kenyal atau terlalu keras, muncul bunyi klik. tapi itupun tidak keras. Pelan sekali. Pernah seseorang disamping saya kuminta mendengarkan, ternyata dia nggak dengar bunyi klik tersebut. Adapun mengapa saya mendengarnya lumayan jelas – dan seringkali saya sendiri juga mendengarnya sangat pelan atau hampir tak berbunyi – adalah karena posisi sendi rahang itu persis di sebelah telinga. Maklum saja. (lagi…)
Berkendara Aman dan Awas 10 September, 2009
Posted by abdurrosyid in Pokoknya Ada Saja.Tags: aman, berkendara, lalu lintas, motor, roda dua, safety riding, sepeda
add a comment
Jumlah kendaraan roda dua (baca: sepeda motor) yang sangat banyak tanpa diimbangi dengan pembangunan prasarana transportasi (baca: pelebaran jalan) yang seimbang, telah menciptakan permasalahan lalu lintas tersendiri. Apalagi dalam kenyataannya perilaku berkendara para pengguna sepeda motor tuh banyak yang ugal-ugalan (termasuk saya sebelum ini he he he). Akibatnya, potensi terjadinya kecelakaan lalu lintas menjadi cukup tinggi. Kecelakaan tidak hanya rawan terjadi pada mereka yang berkendara dengan ceroboh, namun juga pada mereka yang sudah berkendara dengan hati-hati.
Karena itulah, sekarang ini seorang pengemudi sepeda motor tidak cukup hanya berkendara secara hati-hati, tetapi juga harus berkendara secara awas. Maksudnya, awas terhadap potensi kecelakaan yang setiap saat bisa saja menimpanya meski ia sudah berkendara secara hati-hati. Bagaimana caranya?
Pertama, berdoa dan berdzikir. Bagaimanapun juga, keselamatan kita ada di tangan Allah. Oleh karena itu, berdoa dan berdzikir adalah langkah yang pertama dan utama agar kita selamat selama berkendara.
Kedua, bersikaplah awas dengan mengendalikan kecepatan Anda. Bagaimanapun juga, meski Anda sudah menaati marka jalan dan rambu-rambu lalu lintas, tapi kalau Anda melaju terlalu cepat, Anda menjadi rawan mengalami kecelakaan. Sebabnya sederhana saja, pada kecepatan yang tinggi Anda akan kesulitan untuk menguasai kendaraan Anda jika terjadi apa-apa. Karena itu, berkendaralah dengan kecepatan sedang saja. Rasakan suasana santai. Nikmati pemandangan di sepanjang jalan yang Anda lewati (kecuali satu, para wanita cantik). (lagi…)
Selamat Tinggal, Ngebut! 8 September, 2009
Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.Tags: jalan, kecepatan, melaju, motor, ngebut
2 comments
Kayaknya kecelakaan berkendara yang terakhir kali saya alami benar-benar membuat saya berucap selamat tinggal pada kebiasaan ngebut di jalan. Sebelum ini saya memang biasa memacu kuda besi saya pada kecepatan yang tergolong tinggi. Kalau didalam kota, saya paling sering ngebut di Jl. Jemursari yang membentang lurus dari utara ke selatan. Beberapa kali saya menggeber motor saya di jalan tersebut pada kecepatan 95-100 km/jam. Dan terbukti, di jalan favorit saya itulah saya terakhir kali jatuh. Dan kalau nggak terjatuh begitu, mungkin saya nggak akan pernah kapok untuk ngebut.
Kalau diluar kota, saya biasa ngebut di jalan lebar Surabaya – Babat. Saya sering memacu motor di jalan ini pada kecepatan konstan 110 – 115 km/jam. Sebetulnya saya ingin memacu motor lebih cepat lagi, tapi karena itu sudah kemampuan maksimal motor (gas sudah pol), terpaksa saya nggak bisa melaju lebih cepat lagi. Sejauh pengalaman saya, hampir tidak ada kendaraan lain yang melaju dengan kecepatan tersebut, kecuali satu atau dua mobil pribadi saja. Bahkan saya pernah melaju di jalan Surabaya – Babat tanpa ada satupun kendaraan yang mendahului saya. Sebaliknya, saya terus mendahului kendaraan-kendaraan yang ada di jalan.
Kalau sudah melaju dengan kencang seperti itu, memang kita nggak bisa santai sewaktu berkendara. Mata harus selalu awas, khawatir kalau tiba-tiba ada orang yang menyeberang jalan, atau ada lubang di tengah jalan. Dan kalau pas melewati jembatan yang permukaannya jalannya lebih tinggi, motor pasti sedikit terbang. Sangat nikmat rasanya. (lagi…)
Ramadhan, Saatnya Me-reset Jam Tubuh 3 September, 2009
Posted by abdurrosyid in Pokoknya Ada Saja.Tags: ibadah, jam tubuh, kebiasaan, qiyamul lail, ramadhan, tidur
add a comment
Ramadhan adalah syahrut tarbiyah ‘bulan pembinaan’. So, kita harus betul-betul memanfaatkan bulan ini untuk membina diri kita. Salah satunya adalah menciptakan ritme hidup yang islami. Lho, apaan tuh?
Kita semua pasti punya kebiasaan. Kapan kita berangkat tidur, bangun tidur, makan, sholat wajib, sholat sunnah, baca Al-Qur’an, bekerja, dan sebagainya. Tentu saja kita menginginkan aktivitas keseharian kita bisa berjalan dengan teratur. Nah, kaitannya dengan ini, sesungguhnya pola kebiasaan kita sehari-hari, kita sadari ataupun tidak, pasti membentuk pola tertentu yang disebut sebagai ‘jam tubuh’.
Jika kita biasa berangkat tidur jam 10 malam, maka setiap jam 10 malam bisa dipastikan tubuh kita pasti merasakan ngantuk, minta ditidurkan. Jika kita biasa bangun tidur jam 6 pagi (telat subuh bro), maka pasti akan sulit untuk bangun lebih awal. Sebaliknya jika kita biasa bangun tidur jam 03.30 pagi, tanpa beker dan alarm hape pun kemungkinan besar kita akan selalu terbangun pada jam tersebut (dan tidak telat sholat subuh). (lagi…)
Alhamdulillah, Hanya Cedera Ringan 2 September, 2009
Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.Tags: bunyi, cedera, klik, rahang, tmj, tulang
1 comment so far
Beberapa bulan yang lalu, untuk yang kesekian kalinya (dan semoga yang terakhir) saya mengalami kecelakaan sewaktu naik kuda besi. Sisi kanan kepala saya menghantam jalan. Alhamdulillah wa bi ‘aunillah, saya pakai helm teropong. Saya pun tidak lecet sama sekali. Hanya sedikit bengkak, sedikit saja.
Sesuai teori penanganan cedera sepakbola yang saya tahu, dalam perjalanan balik (masih dengan motor yang sudah ’sliring’ semua) saya membeli beberapa buah es batu. Begitu sampai, tanpa menunggu masuk rumah, saya langsung mengkompres sisi kanan kepala saya dengan beberapa buah es batu tersebut. Alhamdulillah, saya telah melakukan P3K yang bagus.
Besok atau lusanya, saya merasakan sesuatu di sekitar rahang kanan saya. Meski sejak awal tidak ada nyeri sama sekali, namun saya mendapati bunyi klik di area rahang saya ketika membuka mulut lebar-lebar lalu menutupnya kembali. (lagi…)
Semoga Allah Mengumpulkanmu bersama Khadijah * 13 Agustus, 2009
Posted by abdurrosyid in Sejauh Aku Melangkah.Tags: akhwat, ikhwan, khadijah, menikah, nikah
1 comment so far
Suatu hari, ada seseorang memberi komentar pada blog saya. Komentar biasa saja, menanyakan sesuatu mengenai artikel yang saya tulis. Beberapa hari kemudian, ia mengirimkan komentar lagi. Tapi kali ini saya rasakan ada yang sedikit berbeda. Bagian akhir dari komentar itu rasa-rasanya agak privat. Akhirnya saya hilangkan bagian akhir tersebut, dan komentar pun saya publish.
Beberapa hari kemudian, dia mengirimkan sebuah email kepada saya. Dalam emailnya itu, dia memperkenalkan dirinya, singkat. Dia seorang akhwat, masih belia, tinggal di Serambi Mekah (Anda pasti tahu dimana itu: ujung barat negeri ini). Akhwat – atau ukht – adalah satu kata dalam bahasa Arab, maknanya saudara perempuan. Tapi sekarang akhwat lebih sering dipakai dengan makna khusus: gadis muslimah yang belum menikah, dan aktif dalam pengajian rutin pekanan.
Dia punya username email yang sangat bagus, dalam bahasa Arab. Feminin, tapi bernuansa dunia pergerakan yang militan. Sedangkan nama panggilan yang dicantumkan di emailnya juga dalam bahasa Arab, tapi mengandung unsur daerah, khas Serambi Mekah. Saya menduga, nama panggilan itu adalah nama dia yang sebenarnya. Tapi saya nggak tahu pasti, karena saya memang tidak pernah menanyakannya. (lagi…)



